Promise!

Promise!
Kembali


__ADS_3

"Aku menunggu di luar."


Setelah membaca chat itu, Chana yang sudah bersiap sejak lama langsung keluar kamar. Dia berjalan menuju pintu depan untuk mempersilakan William masuk.


"Mom, Dad." Chana menyapa orang tuanya yang sedang sarapan.


"Eh, Pak William. Mari silakan duduk. Kita sarapan bareng," ajak Arzhan yang langsung berdiri menyambut William.


"Tidak usah, Pak. Chana harus segera ke kampus soalnya. Jadi kami buru-buru."


"Sarapan dulu sedikit." kali ini Iksia yang berbicara.


"Saya sudah menyiapkan sarapan di mobil, Bu. Kalau tidak keberatan kami mohon pamit sekarang."


"Oh, begitu. Ya sudah, iya. Silakan kalau Chana buru-buru. Hati-hati di jalan."


"Pergi dulu, ya, Mom, Dad."


Chana pamit pada keluarganya.


"Ini terlalu terbuka sebenarnya. Lain kali jangan dipakai lagi."


"Masa? Ini seksi tau."


"Permen yang terbuka saja gak akan laku dijual."


"Ish!"


Melihat pertengkaran kecil di antara Chana dan William, Iksia dan Arzhan cekikikan.


"Itulah kenapa seorang wanita diberikan insting yang kuat terhadap kehidupan anak dan suaminya. Aku lebih suka Chana dengan William."


Arzhan menanggapinya dengan sebuah senyuman.


"Ya udah kalau gak bisa. Aku gak maksa kok," ucap Aya pada Sakya.


"Lain kali, ya."


Aya memajukan bibirnya lebih depan saat keinginannya untuk pergi berlibur ditolak oleh Sakya.


"Belakangan ini aku sibuk. Perusahaan sedang tidak baik-baik saja, aku benar-benar harus fokus di kantor. Kalau masalah perusahaan sudah selesai, kita akan pergi berlibur, aku janji."


"Udah, ah. bete!"


Aya menutup ponselnya.


Dengan perasaan kesal, dia masuk ke sekolah. Di sana sudah ada dua sahabat yang menunggunya.


"Gimana? Jadi gak kita liburan?"


"Enggak!" Aya menjawab dengan ketus.


"Loh, kenapa?"


"Dia sibuk."


"Yaaah, gagal dong."


"Lain kali deh. Dia janji kok kalau pekerjaannya udah selesai, dia akan ajak kita liburan."


"Aya, Lo emang sadis, ya. Ngerjain orang gak tanggung-tanggung. Adiknya Lo kerjain habis-habisan, pake acara melorotin gaunnya lah, eh sekarang kakaknya Lo porotin. Parah!"


Aya tertawa puas. "Suruh siapa dia mengambil kebahagiaan gue. Awas aja, pokoknya aku akan buat mereka nangis darah, terutama si Chana yang sok manja dan kecentilan itu."


Ketiga sahabat itu cekikikan di kelas sebelum guru mereka datang.


Di tempat berbeda, Chana yang sedang buru-buru langsung turun dari mobil tanpa mengucapkan terimakasih terlebih dahulu.


"One ... two ...."

__ADS_1


"Makasih, Om." Chana kembali lagi sebelum William selesai menghitung sampai tiga. Itulah Chana, dia tidak akan begitu saja mengabaikan kebaikan orang.


Setidaknya ucapan terimakasih itu 'kan gratis. apa susahnya?


William tersenyum saat melihat Chana melambaikan tangan padanya. Mobil pun melaju, William dengan penuh semangat segera meluncur ke kantor.


"Bulan ini saya akan memberikan bonus spesial untuk kalian semua," teriak William begitu menginjakkan kaki di kantor yang langsung disambut oleh suara tepuk tangan bahagia para karyawannya.


Asisten pribadinya hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.


William terlihat begitu bersemangat, tentu saja dia merasa hidupnya sempurna saat ini.


"Bos, sebentar lagi ulang tahun Nyonya besar, apa sudah menyiapkan gaun baru untuk Non Chana?"


"Tentu saja, sore ini akan dikirim ke rumahnya. Lengkap dengan mobil yang dia minta waktu itu."


"Baik, Bos."


Tiba-tiba anak buah William yang lain datang dengan nafas ngos-ngosan karena berlari saat menghampirinya.


"Bos."


"Ada apa?"


"Gudang kita terbakar."


"Gudang yang mana?" tanya William masih santai.


"Gudang di hutan, Bos."


"Apa?" William segar bangun dari kursinya.


"Kenapa bisa terjadi?"


"Ada yang sengaja membakarnya, Bos."


"Apa?"


William dan tiga mobil anak buahnya segera meluncur ke tempat. Betapa syok dia saat melihat keadaan gudangnya.


Sudah terbayang berapa harga yang harus dia bayar untuk mengganti rugi semuanya.


Bukan hanya itu, masalah yang utaman baginya adalah kepercayaan dari rekan kerja.


Mereka sangat percaya pada William, namun apa yang terjadi saat ini pasti akan menghancurkannya dalam sekejap.


Benar saja, tidak lama setelah William di tempat kejadian, asistennya menghampiri dan memberikan telpon dari tiga rekan kerja pemilik barang yang terbakar.


"Kenapa harus gudang ini? Barang di dalam sana bukan milik kita, sial!"


"Kami akan segera mencari tau pelakunya, Bos."


"Saya tidak mau tahu, kurang dari 24 jam pelaku itu harus ditemukan. Bagaimana kalian menjaga gudang ini sampai bisa hangus seperti ini!!!"


"Penjaga gudang di sini semuanya pingsan tidak sadarkan diri, untunglah mereka tidak ikut hangus terbakar."


"Pingsan?"


"Bos, ini."


"Apa ini?"


"Itu kue putu."


"Saya juga tau, ini kue putu dan sudah kotor. Kenapa kamu kasih ke saya."


"Mereka pingsan setelah makan ini, Bos."


William mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Sialan! Mereka sengaja membuat mereka pingsan. Cari tahu siapa yang membawa kue ini."


"Baik, Bos."


Pemadam kebakaran yang sudah berusaha keras masih berjuang memadamkan api yang sulit padam karena bahan yang terbakar adalah bibit minyak.


Ponsel pribadi William berbunyi.


"Apa?" bentaknya.


"Kok marah? Aku ganggu? ya udah kalau ganggu, maaf."


"Bu-bukan ... Chana, halo."


William melihat layar ponselnya. Chana memutuskan panggilannya.


"Aaarrrgh!"


William menendang apa saja yang ada di hadapannya.


"Kunci mobil."


Asisten William memberikan kunci mobilnya.


Dengan kecepatan tinggi, William pergi untuk menemui Chana. Saat di jalan dia sadar jika dia tidak tahu Chana ada di mana sekarang.


Berkali-kali dia menelpon tapi tidak juga diangkat. Ingin menghubungi Elizer pun dia bingung karena tidak memiliki nomor ponselnya.


William semakin kesal. Berkali-kali dia memukul stir mobil.


Bukan asisten kepercayaan jika tidak mengenal bos nya. William ditelpon dan diberitahukan di mana lokasi Chana saat ini.


"Ck ck ck! pintar berbisnis pun bisa menjadi bego jika urusan cinta" ujar asisten William sambil menggelengkan kepala.


"Panggil saja lagi damkarnya. Cepat padamkan apinya jika tidak ingin kita yang dibakar bos," teriak asisten William pada anak buahnya.


William sampai di cafe tempat pertama dia bertemu dengan chana. Dia segera mematikan mesin mobil, dan belum sempat kakinya menginjak tanah, William kembali masuk ke dalam saat melihat Chana bersama Ze.


William yang semula bersemangat, kini tangganya tidak mampu menggenggam stir sekalipun.


"Aku minta maaf, Sayang. Aku bisa menjelaskan kalau minuman itu bukan punya aku. Itu punya temenku yang mau ngerjain kekasihnya. Aku berani bersumpah."


"Aku gak percaya. Tolong, jauhi aku. Sudah tidak ada apa-apa lagi sekarang. Aku sudah terlanjur benci sama kamu."


"Ini semua karena William, kamu tau dia siapa? Bagaimana jika aku mengatakan kalau ini jebakan dia, apa kamu akan percaya? Chana, dia bukan orang sembarangan. Kamu tau alasan kenapa dia selalu membawa banyak pengawal? Kamu tahu dari mana sumber kekayaannya?"


Chana menatap Ze tidak percaya.


"Chana, aku dijebak karena dia tidak suka kita bersama. Dia menyukaimu. Dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan."


"Aku tidak percaya."


"Chana, dia mafia."


"Ngarang kamu!"


"Aku punya bukti, bahkan temenku membeli obat-obatan dari dia, Chana. Aku serius."


"Apa?"


Ze mulai menitikkan air mata dan berlutut di hadapan Chana.


"Aku harus bagaimana lagi menjelaskannya sama kamu kalau aku ini dijebak. Aku hanya artis yang tidak punya kekuatan seperti William, jebakan ini hanya sebagian kecil saja Chana, dia bisa melakukan yang lebih dari ini."


"Ze."


"Aku cinta sama kamu, mana mungkin aku melakukan hal keji. Aku adalah publik figur, aku gak mungkin melakukan hal keji yang bisa merusak reputasiku, Chana. Aku merangkak dari bawah agar bisa menjadi seperti sekarang, mana mungkin aku menghancurkannya dengan menghancurkan kamu. Karir atau pun kamu, sama-sama penting untukku."


Melihat Ze tersedu, hati Chana kembali luluh. Meski tidak percaya pada apa yang dikatakan Ze tentang William, tapi logikanya bekerja. Ucapan Ze berhasil merasuki kepalanya hingga dia memutuskan untuk percaya pada Ze, dan mau memberi kesempatan kedua padanya.

__ADS_1


Melihat Chana merangkul Ze, William menginjak gas hingga menimbulkan bising. Chana menoleh dan melihat William dengan wajah murkanya.


William ....


__ADS_2