Promise!

Promise!
Perjanjian


__ADS_3

"Paman, kenapa kaki Chana?" tanya Iksia pada Pak Raga.


"Anakmu memang susah dikendalikan. Dia membagikan uang dan makanan di tempat yang banyak orangnya. Alhasil dia dikeroyok dan jatuh."


"Ck! Kapan, sih, dia dewasanya ya Allah. Kalau ingin melakukan sedekah, dia kan bisa ikut Sakya. Sakya punya banyak anak yatim dan jompo."


"Nah, kamu sendiri tau kalau yatim dan jompo di yayasan sudah ditanggung segalanya oleh Sakya, sementara mereka yang di jalanan?"


Iksia terdiam untuk sesaat.


"Iksia, sudahlah. Jangan terlalu memaksa Chana untuk melakukan ini dan itu. Dia punya keinginan sendiri, dia punya kelebihan sendiri. Biarkan dia berkembang sesuai dengan apa yang dia inginkan. Paman akan menjaganya dengan baik."


"Aku hanya takut dia melangkah ke jalan yang salah."


"Dia punya pendirian dan prinsip sendiri, Iksia. Lagi pula dia tidak memiliki kakak tiri."


Iksia melirik sinis pada pamannya. Pak Raga tertawa.


"Nyonya, permisi. Ada kiriman cokelat tapi tidak ada nama pengirimnya."


"Simpan saja di meja, Mba."


"Baik, Nyonya."


"Siapa lagi yang mengirim makanan ke rumah ini? Apa kita terlihat seperti posko penanggulangan bencana?"


"Ini pasti pacar online Iksia, Paman."


Mereka berdua tertawa.


"Chana, siapa lagi yang mengirim ini?" tanya Iksia pada anaknya saat mereka berkumpul setelah makan malam.


"Udah, makan aja. Ini enak, kok." Ikisa mengambil cokelat yang ada di meja, kiriman dari seseorang yang entah siapa. Di susul Sakya.



"Sakya, kenapa kamu ikut-ikutan?" tanya Iksia.


"Ini cokelat mahal, Mom. Ini dari luar negeri, cobain aja, enak banget loh. Aku pernah dikirim klien waktu itu."


"Ini pasti permintaan maaf dari cowok yang waktu itu membatalkan janji secara sepihak."


"Nah itu pasti dari dia. Lo pinter juga nyari cowok di aplikasi. Kalau dilihat dari harga cokelat ini, dia pasti orang kaya."


Arzhan hanya tersenyum mendengar percakapan anak-anaknya, sementara Iksia masih terlihat kesal.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo kita habiskan saja cokelatnya." Pak Raga yang baru datang ikut duduk dan menikmati hadiah kiriman dari seseorang itu.


"Makan ini, Sayang." Arzhan menyodorkan satu cokelat pada Iksia. Namun Iksia masih diam.


"Aaa ...." Arzhan mencoba menyuapi istrinya. Melihat sang suami menyuapinya, Iksia membuka mulut.


"Tapi bohong." Arzhan menari cokelat itu dari depan mulut Iksia lalu melahapnya sendiri.


"Masss ...." Iksia memukul paha Arzhan berkali-kali. Sementara yang lain tertawa terbahak-bahak.


Suasana malam itu terasa hangat dengan adanya gelak tawa dari candaan keluarga. Ditemani cokelat manis dan teh hijau hangat.


"Ngomong-ngomong, Om yang nolongin aku kemarin ke mana, Pak?" tanya Chana. Raga yang selama ini tidak pernah menceritakan hal itu pada Iksia dibuat grogi. Apalagi saat mata tajam Iksia mengintimidasinya, menunggu jawaban.


"Om apa?" tanya Raga gugup.


"Lo ditolongin om-om?" tanya Sakya.


"Jadi gini, aku itu nendang kaleng soda yang ternyata masih ada isinya, lalu ... bla ... bla ... bla ... bla." Chana menceritakan kejadian saat di caffe dengan antusias. Sementara Iksia melongo tanpa berkedip.


"Nah, kemarin dia ketemu lagi. Dia nolongin aku, meluk aku biar gak kinjek orang. Eh, dia juga gendong aku dong ke mobil. Terus aku di bawa ke rumah sakit. Eh, tau, gak? Aku bahkan gak sadar kalau kaki aku berdarah. Ya ampun, mata dia itu indah banget. Sampai mengalihkan duniaku." Chana cengengesan menceritakan bagaimana indahnya wajah William terutama matanya.


"Pokoknya aku gak akan nyari cowok di aplikasi lagi. Aku maunya sama Om itu."


"Paman?" tanya Iksia sambil tersenyum menakutkan.


Begini amat punya ponakan.


"Chana, Sayang. Kenapa kamu panggil dia Om? Apa dia sudah tua?" tanya Iksia gemas.


"he-em. Mungkin di bawah dad sedikit."


"Allahu Akbar." Iksia meremas dadanya.


"Nak, jangan suka sama dia. Dengan umur segitu, siapa tau dia sudah punya istri dan anak. Jangan-jangan anaknya seumuran sama kamu."


"Yah, Daddy. Kenapa malah bikin aku pesimis, sih." Chana memajukan bibirnya lebih depan.


"Woiii, bukan pesimis, tapi Lo harus sadar diri. Kalau itu laki orang gimana? Mau jadi pelakor Lo?"


"Husssst! Jangan bicara sembarangan Sakya."


"Ya habisnya Chana aneh, Mom. Suka sama yang udah tua bangka."


"Kak, dia itu gak tua bangka, dia itu keren! Lo malah kalah jauh deh. Mobil dia bagus, pengawal dia banyak. Wah, idaman banget deh. Dia harus jadi Daddy Sugar aku."

__ADS_1


"Chanaaaa!" semua orang berteriak.


Dengan tawa yang renyah, Chana segera berlari ke kamarnya. Dia sangat senang membuat keluarganya kesal.


"Yeaay, siapa juga yang mau sama om-om. Mending sama Ze, masih muda, ganteng, terkenal. Wahhh, pokoknya idaman aku banget. Kalau aku nikah sama dia pasti cewek-cewek di dunia iri."


"Non, Non. Mbo ya jangan suka iseng sama Tuan dan Nyonya. Kasian loh mereka."


"Mba, hidup itu jangan serius-serius amat, nanti cepet tua."


"Iya, tapi kasian kalau sampai Nyonya jantungan, gimana?"


"Elah, Mba. Aku juga gak mungkin kali suka sama bapak-bapak. Nih, ya, kalau aku sampai suka sama Om itu, aku akan kasih Mba uang tabungan aku. Mau tau gak isinya berapa?"


Galuh mendekatkan wajahnya pada Chana.


"Lima ratus juta. Itu tabungan aku sendiri, kalau rekening yang dari Mom dan Daddy, aku juga gak tau nol nya ada berapa."


Galuh yang mendengar nominal tabungan Chana sampai syok di buatnya. Dia bahkan kesulitan bernafa.


"Mba, Mba Galuh kenapa?" Chana yang polos ikutan panik melihat reaksi Galuh yang sepertinya akan pingsan.


"Aduh, gimana ini? Mba Galuh."


Chana semakin panik melihat Galuh yang sekarang bergerak seperti orang kejang.


"Mba Galuh ...."


"Deal!"


Galuh yang kejang-kejang tiba-tiba bangun dalam keadaan sehat dan segar bugar sambil menyodorkan tangan.


"A-apa ini?"


"Kalau sampai Non suka sama om-om itu, uang Non akan menjadi milik saya. Setuju?"


"Oooh, itu. Oke!"


Mereka pun berjabatan tangan dengan mantap.


"Saya akan berdoa semoga kalian berjodoh. Aamiin."


"Aamiin. Eh, enggak! Enak aja!"


Galuh tertawa sambil keluar dari kamar. Sementara Chana berdiri di depan cermin besar sambil meyakinkan diri sendiri.

__ADS_1


"Ingat Chana, pokoknya kamu jangan sampai jatuh cinta sama dia, inget sama Ze. Kalau sampai kamu ketemu dia, jangan lupa tutup mata kamu, usahakan agar tidak kontak mata dengannya. Emmm, tapi matanya indah banget, gimana dong? Tubuhnya juga kekar, badannya wangi bangettt. Eh, Chana sadar, kalau kamu sampai suka sama dia, kamu akan kehilangan lima ratus juta untuk suster yang sejak kecil merawat kamu, ingat itu!"


Chana berbicara sendiri dengan pantulan dirinya yang ada di cermin.


__ADS_2