
"Bagaimana galeri seninya? Apa masih suka mengukir kayu dan melukis?" tanya William pada Arzhan.
"Ya, tentu saja. Seni tidak bisa dipisahkan dari saya. Tapi bagaimana Pak William tau kalau saya punya galeri, saya ini bukan pengusaha besar loh. Kalau istri saya iya." tanya Arzhan karena merasa terkejut seorang pengusaha besar seperti William tahu tentang pekerjaan kecil dirinya.
"Karena saya selalu mencari tau hal yang saya suka," jawab William sambil melirik Chana. Gadis itu terlihat tidak peduli dan asik memakan ayam bakar dengan sambal.
Namun, gerak-gerik William tidak bisa dihindarkan dari Sakya dan Iksia. Mereka mengerti meski masih tidak yakin dengan sikap William pada Chana.
"Om, itu kunci mobilnya diambil lagi aja."
"Kenapa?"
"Ya masa cuma kuncinya, mobilnya mana?" tanya Chana polos.
"Mobil?" tanya Iksia.
"Emm, om William ngasih aku gaun, perhiasan dan mobil sebagai hadiah ulang tahun. Eh, salah. Dia ngasih kunci tanpa mobilnya" ujar Iksia santai sambil memakan gading yang terselip di antara tulang-tulang sayap ayam.
Arzhan hanya diam mendengar bahwa William memberikan banyak hadiah mahal untuk putrinya.
Suasana menjadi canggung saat itu.
"Maaf, Pak. Kemarin saya mengirimkan hadiah untuk Chana. Baju yang dipakai Chana saat menonton film dengan Ze adalah pemberian dari saya."
"Chanaaa ...." Iksia geram.
"Apa, Mom?"
"Kamu itu, ya! Duh, aku tidak tahu harus berkata apa lagi sama anak ini."
"Apa, sih, Mom?"
"Sayang, itu tidak baik. Kamu memakai gaun pemberian Pak William dan pergi nonton dengan orang lain."
"Emang kenapa?"
"Orang ngasih gaun itu ada tujuannya."
"Oh, emang Om ngasih aku gaun buat apa?"
Semua orang menoleh pada William.
"Pekan depan ibuku berulang tahun."
"Hah? Aduuuh, jadi maksudnya gaun itu untuk acara ulang tahun ibunya Om?"
William mengangguk pelan tapi pasti.
Iksia menepuk jidatnya.
"Aduuuh, aku minta maaf, ya, Om."
"Tidak apa-apa. Nanti saya kirim yang baru."
"Pak William ingin Chana datang?" tanya Sakya.
"Ibu saya ingin bertemu dengannya."
Arzhan dan Iksia saling menatap.
__ADS_1
Acara makan malam pun selesai, Iksia dan Chana sudah masuk ke kamar masing-masing, pun dengan Sakya. Kini, hanya ada Arzhan dan William yang sedang duduk di teras ditemani kopi.
"Kenapa harus anak say, Pak William. Di luar sana banyak wanita yang lebih layak dari Chana. Putri saya itu ... ya, kerjanya tidur, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Kuliahnya pun malas-malasan. Daripada lebihnya anak saya lebih banyak kurangnya."
"Apa Pak Arzhan mencintai Bu Iksia karena kelebihan yang dia miliki?"
"Tentu saja tidak, saya--"
"Itu dia."
Arzhan mengerutkan keningnya lalu dia tertawa. William mengikuti.
"Mungkin saya tidak perlu menjelaskan masa lalu saya dan bagaimana Chana hadir bukan?"
"Masa kalau seseorang tidak terlalu penting, manusia itu bagaiman dia menjalani hidup setelahnya. Saya juga memiliki masa lalu yang tidak baik."
Arzhan mengambil cangkir kopi, lalu menghabiskan sisa kopi yang ada sebelum mereka berpisah malam itu.
"Biarkan saja mengalir seperti seharusnya. Jangan terlalu dipikirkan."
"Mas, masalahnya Chana suka pada Ze. Aku tidak suka itu."
"Apa itu artinya kamu lebih memilih Chana bersama William?"
"Aku juga tidak yakin pada William."
"Itu jangan, ini jangan. Lalu harus dengan siapa anak kita menikah?"
"Lupakan saja dulu urusan Chana, pikiran saja Sakya. Mana bisa coba dia pacaran dengan anak sekolah. Itu terlalu lama, Mas. Aku ingin dia segera menikah."
"Kenapa harus buru-buru? Kita menikah sudah tua juga kan?"
"Memangnya kita melakukan apa?" tanya Arzhan menggoda.
"Ih, Mas. Aku serius."
"Aku juga serius, kita melakukan apa memangnya?" tanya Arzhan sambil mendorong istrinya ke atas tempat tidur.
Drrrtttt!
Ponsel Chana berdering saat mata dia hampir terpejam.
"Siapa, sih, malam-malam nelpon?"
Chana melihat nama Ze di layar ponselnya. Mata Chana langsung segar kembali.
"Maaf ganggu ya."
"Enggak, kok, kenapa?" tanyanya antusias.
"Aku ada di depan rumah kamu. Coba keluar sebentar."
"Oh, iya. Tunggu ya."
Karena terlalu bersemangat, Chana pergi begitu saja tanpa mempedulikan penampilannya.
"Hai." Chana melambaikan tangan begitu melihat Ze.
"Temani aku makan sebentar, bisa?"
__ADS_1
"Makan? Di rumahku aja."
Ze menggelengkan kepala.
"Terus?"
"Ada penjual perkedel yang bukanya cuma tengah malam. Mau coba?"
"Kenapa harus tengah malam?"
"Entahlah. Mau coba?"
"Emmm boleh, deh. Penasaran juga seenak apa, sih?"
Chana langsung masuk ke dalam mobil milik Ze. Dia lupa kalau dia memakai baju tidur dengan celana yang sangat pendek, serta baju yang belahan dadanya terlihat jelas.
"Kamu buru-buru banget ya tadi?"
"Kenapa gitu?"
"Kamu bahkan lupa apa yang kamu pakai sekarang."
Chana melihat dirinya sendiri dari ujung kaki hingga dada. Dia terkejut dan langsung menutup bagian dadanya. Wajahnya memerah.
Ze menepikan mobilnya.
"Pakai ini." Ze mengambil jaket yang dia gantung di belakang.
"Sini aku pakaikan." Ze membantu Chana memakai jaketnya sambil duduk di atas kursi mobil. Sementara Ze duduk di jok belakang kemudi.
Setelah selesai, Ze membantu Chana memakai sabuk pengaman. Chana menahan nafasnya saat wajah Ze tepat di depan muka dia.
"Sudah." Ze menoleh pada Chana dan menyebabkan wajah mereka saling berhadapan begitu dekat. Chana bahkan bisa merasakan nafas Ze.
Suasana malam dan dinginnya di dalam mobil, serta lampu jalan yang redup membuat dua insan itu terbawa suasana.
"Maaf, sungguh aku minta maaf."
Chana masih diam sambil memegang bibirnya.
"Chana, ada sesuatu yang ingin aku katakan. Sebelumnya jangan salah faham dulu dan jangan berpikir aku mengatakan ini karena sebatas pemintaan maaf karena apa yang kita lakukan tadi."
Chana masih diam.
"Aku mencintai kamu, Chana. Kamu itu berbeda dari yang lain, dan ... ya, aku sering tidak bisa tidur karena memikirkan kamu. Chana, aku cinta sama kamu."
Chana menatap Ze tidak percaya.
"Aku benar-benar mencintai kamu, Chana."
Tidak ada reaksi dari Chana, dia hanya diam menatap Ze.
Ze menarik kembali tengkuk Chana dan kembali mencicipi bibir merah Chana.
Gadis manis itu hanya diam saat Ze mencium bibirnya. Chana tidak tahu harus melakukan apa karena ini adalah yang pertama untuknya.
"Ikuti saja permainanku. Biarkan dia bergerak mengikuti nalurinya," bisik Ze di telinga Chana. Dia bahkan dengan sengaja meniup telinga Chana hingga gadis itu merasa geli.
"Ze ..."
__ADS_1
Ze tidak menghiraukan Chana, dan malah semakin beringas melahapnya. Ze merasa senang karena dia tahu Chana masih sangat polos.