
William menggenggam erat tangan Chana lalu dia letakkan di keningnya. Tidak peduli ada Iksia dan Arzhan.
Sementara Iksia menangis di sisi Chana yang lain, ditemani Arzhan yang merangkul bahu istrinya.
Elizer nampak menyesal karena merasa lalai menjaga Chana.
Tidak berselang lama, Sakya dan Tata datang, di belakangnya diikuti oleh Fateeh dan istrinya.
"Ada apa? Kenapa ini sampai terjadi?" Sakya menghampiri ranjang Chana.
"El ...."
"Iya, bos."
"Di mana bajingan itu?"
Arzhan dan semua yang ada di sana menoleh pada Elizer. Iksia menggelengkan kepala pada Elizer agar dia tidak mengatakan apa-apa.
"Elizer!"
"Dia ada di ruangan lain, Bos."
William melepaskan genggaman tangannya dan berdiri hendak pergi mencari Ze.
"Eh, eh, eh. William mau ke mana?" tanya Arzhan. Fateeh langsung menghentikan William dengan memeluknya dari belakang. William terus meronta agar dia dilepaskan.
"Mau ke mana?" tanya Arzhan sambil memegangi tangannya dari depan.
"Ini tidak akan menyelesaikan masalah, Will. Kamu hanya akan mendapatkan masalah nantinya. Di sana banyak sekali wartawan, itu sangat riskan."
"Aku akan menghabisi dia karena telah membuat Chana terluka."
"Oke, kamu ke sana sekarang. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, jika terjadi sesuatu sama kamu, dan Chana bangun, bagaimana? Kamu di mana saat dia sadar nanti, hah!"
"Lalu apa aku harus berdiam diri melihat Chana tidak berdaya? Lepaskan! Aku akan menghabisi keparat itu!"
"William, yang terpenting sekarang adalah Chana sadar dulu. Itu!"
"Mom, mommy ...."
"Chana sadar, Mas, Chana sadar."
__ADS_1
Keributan itu pun berhenti.
"Sayang, ini mommy. Nak, ini mommy." Iksia menggenggam tangan anaknya sambil menangis.
Wajah Chana mendapatkan banyak luka, meski kecil tapi cukup membuat wajah cantiknya memudar terhalangi. Bagian kening dan dagunya di tutupi dengan perban. Beruntung tidak ada tukang Chana yang patah. Hanya beberapa luka robek di bagian tangan dan memar hampir di sekujur tubuhnya.
"Mom, sakit."
"Mana yang sakit, Nak. Apa yang sakit, bagian mana, Sayang?"
"Semuanya mommy." Chana berbicara dengan nada yang lemah dan terbata-bata.
"Daddy mana?"
"Sayang, ini daddy."
"Daddy, kaki aku sakit."
Arzhan berpindah tempat ke bagian kaki, dia lalu mengusap-usap kaki anaknya dengan lembut karena takut akan lebih menyakitinya lagi.
"Mom, aku mau ketemu William."
"Hai, aku di sini."
Chana tersenyum meski matanya terus mengeluarkan air menahan rasa sakit. William menggenggam erat tangan gadis itu.
"Jangan ke mana-mana," pinta Chana terbata-bata.
William menggelengkan kepala cepat, "Aku akan tetap di sini menjaga kamu. Jangan takut, ya."
"Jangan pergi."
"Tidak akan pernah. Aku ... akan selalu di samping kamu, Sayang."
"Hmmmm." Chana tersenyum sedikit lebih lebar saat William memanggilnya dengan kata sayang.
Setelah diperiksa oleh dokter, Chana kembali istirahat. Dokter mengatakan agar dia jangan terlalu sering diajak ngobrol agar bisa istirahat lebih banyak.
"Kalian pulang lah. Saya yang akan berjaga di sini."
"Aku juga."
__ADS_1
"Bu Iksia, besok ada pertemuan dengan investor baru bukan? Lebih baik fokus saja pada masalah itu agar pernikahan Sakya dan Tata tidak sia-sia."
"Tapi ...."
"Saya akan menjaganya dengan baik. Tenang saja, saya akan meminta beberapa anak buah saya untuk berjaga di sini."
Iksia ingin menolak tapi dia sadar apa yang dikatakan William benar. Besok adalah penentuan penting dengan investor pertama mereka. Jangan sampai pengorbanan Sakya sia-sia.
"Mom pulang dulu, ya, Nak. Daddy juga akan pulang. Besok kami ke sini lagi."
Chana mengangguk pelan. Kepalanya masih terasa pusing, jadi antara sadar dan tidak meski dia membuka matanya.
Semua orang berpamitan pulang, hanya ada William dan Sakya yang berjaga.
Dari saat semua orang pulang, William terus saja menggenggam tangan Chana dan duduk si kursi yang ada di sampingnya.
"Ini sudah berapa jam, Pak William? Lepaskan tangan Chana dan makanlah meski sedikit, atau paling tidak minumlah."
William tidak menggubris ucapan Sakya. Dia terus menggenggam tangan Chana, sambil dia cium. Matanya menatap Chana yang tergolek lemah tanpa berpaling sedikit pun.
"Jika Chana sadar dan Pak William sakit, gimana? Makan lah agar kita lebih kuat menjaga Chana. Pak?"
"Panggil Elizer masuk."
Sakya pergi ke luar untuk memanggil Elizer.
"Ya, Bos."
"Bawakan saya makanan dan minuman ke sini. Saya akan makan di sini."
"Siap, Bos."
Elizer pun pergi.
Sakya tidak banyak bicara lagi karena dia rasa akan sangat percuma berbicara dengan tembok, pikirnya.
Saat Elizer membawa makana, dan William makan, tangannya tidak pernah melepaskan tangan Chana sedikitpun. Itu membuat Sakya menggelengkan kepala.
Meski begitu, jauh di dalam lubuk hati Sakya, dia merasa sangat bahagia karena Chana dicinta laki-laki yang begitu tulus mencintai dirinya.
Chana, lihatlah. Dia begitu tulus dan mencintai kamu begitu besar. Aku bahagia dan merasa tenang. Tidak ada lagi yang aku khawatirkan, Dek.
__ADS_1