Promise!

Promise!
Sebuah desa terpencil


__ADS_3

Merasa putus asa karena tidak juga mendapatkan petunjuk, William menangis histeris di tengah jalan. Tidak ada kabar entah dari anak buahnya atau dari pihak kepolisian.


Sakya pun seperti orang linglung yang mencapai kembarannya tanpa arah tujuan yang jelas. Hingga dia sadar sudah berada entah di mana. Sebuah desa kecil yang sepi, hanya ada beberapa orang berlalu lalang membawa perkakas seperti: cangkul, sabit dan alat lainnya.


Jalanan pun belum beraspal. Hanya tanah dengan bebatuan kecil di atasnya. Jika musim hujan tiba, sudah pasti akan sangat becek dan tidak bisa dilewati kendaraan.


Sakya menutup wajahnya dengan kacamata hitam karena malu matanya sembab. Dia juga memakai masker sebagai penutup mulutnya.


Mobil Sakya berhenti di tepi sawah yang sedang dipanen para petani. Dia menenangkan pikirannya sejenak. Setelah dirasa akalnya mulai kembali, dia menyalakan mesin mobil, Namun ....


"Sial! kenapa aku lupa mengisi bahan bakar."


Mobil Sakya kehabisan bahan bakar. Tidak ada jalan lain selain dia meninggalkan mobilnya sambil menunggu raga membawakan bahan bakar padanya.


Sakya berjalan menyusuri jalan kecil itu hingga dia melihat sebuah warung yang berada di pinggir musola.


"Mba, ada kopi?"


"Ada, Mas. Mangga, duduk dulu." Seorang perempuan memakai daster lusuh itu mempersilakan Sakya duduk. Warung itu kecil, terbuat dari bilik dan bambu besar sebagai tiangnya. Atapnya terbuat dari jerami.


Bangku yang Sakya duduki terbuat dari kayu yang memanjang, sementara mejanya terbuat dari bahan bambu.


Kopi hitam pun tersedia. Aroma harum tercium begitu asapnya mengepul.


Sakya juga mengambil roti bungkusan yang ada di keranjang plastik kecil di atas meja.


"Mas baru ya?" tanya pemilik warung.


"Saya nyasar, Bu. Mobil saya mogok kehabisan bensin. Lagi nunggu temen, untung sinyal ponsel kuat ya di sini."


"Owalah, padahal mas bisa ojeg aja. Suruh mereka beli bensin di pom yang deket sini."


"Oh, begitu. Saya gak tau, Bu."


"He he he. Iya, iya. Saya kira mas temennya tetangga yang baru."


"Memangnya kenapa ibu mengira saya temen dia?"


"Sama-sama ganteng soalnya. He he he. Dia juga punya mobil."


"Oh, masa? Mungkin dia sedang menenangkan diri kali, ya. Soalnya di kota sumpek banget. Boleh lah saya juga nanti beli rumah di sini buat kalau liburan."


"Kebalik, ya, Mas. Orang kota liburan ke kampung, kalau orang kampung liburan ke kota."


Mereka berdua tertawa.

__ADS_1


"Tapi katanya dia sedang merawat istrinya yang sakit. Kemarin juga datang ke sini sambil gendong istrinya yang agak sadarkan diri alias pingsan. Mas, tau pingsan seperti apa? Saya belum pernah merasakannya."


"Sama, Bu. Saya juga belum pernah."


"Pernah kerasukan belum? Saya belum pernah padahal sering melamun kalau sedang berak."


Ucapan pemilik warung itu membuat Sakya yang sedang makan roti merasa tidak nyaman.


"Kata suami saya mungkin karena saya setannya jadi gak pernah kerasukan."


Sakya tertawa hingga hampir saja menyemburkan kopi yang sedang dia minum.


"Ha ha ha. Ada-ada aja suaminya, Bu."


"Dia mah emang gitu. Katanya saya ini anak gajah kekurangan gizi. Gendut kagak, langsing juga enggak."


"Gak tersinggung, Bu?"


"Bukan tersinggung, Mas. Itu namanya candaan rumah tangga. Bagi saya itu tuh manis. Padahal, nih, ya, Mas. Saya sama suami itu dijodohkan. Ya maklum, namanya orang desa, belum sekolah SMP aja udah dinikahin, katanya biar ada yang bantu ngasih makan."


Sakya tertawa.


"Mas udah nikah?"


"Ternyata bukan cuma orang desa aja yang dijodohkan, di kota juga? Wah jangan-jangan kayak di sinetron, Mas. Dijodohkan karena bisnis."


"Bener."


"Suka gak sama istrinya? Biasanya mereka awalnya benci, lama-lama jadi cinta."


"Gak mungkin, Bu."


"Jangan bilang gitu, Mas coba aja dulu nganu sama istri, Mas. Biasanya awalnya karena kebutuhan malam hari, lama-lama jadi terbiasa. Uwenaaaak loh, Mas. Saya juga nyesel kenapa gak nikah sejak TK aja."


Sakya yang semula terlihat depresi, kini bisa tertawa terbahak-bahak.


"Nah, nah, mas. Itu loh...."


Sakya mengentikan tawanya saat pemilik warung menunjukkan sebuah mobil yang sedang melintas.


"Itu orang baru di sini. Dia pasti mau beli obat untuk istrinya."


"Oh, itu mobil mahal, Bu. Pasti dia orang kaya."


"Kalau orang kaya, kenapa malah bawa istrinya yang sakit ke desa ya bukan ke luar negeri aja. Orang kaya memang beda ya, Mas. Mungkin sakitnya karena terlalu bingung menghabiskan uang."

__ADS_1


Sakya terus menatap mobil itu.


Lama Sakya menunggu Raga di warung itu sambil ditemani pemilik warung yang doyan ngelawak. Sesekali ada penduduk kampung yang juga minum kopi di sana dan ngobrol basa-basi dengan Sakya.


Menjelang malam, Raga pun datang dengan beberapa anak buahnya. Katanya sekalian mencari Chana di jalan.


"Ngopi dulu, Paman. Duduk si sini bersama pemilik warung membuat aku bisa menemukan kembali tawaku."


"Syukurlah."


"Sebaiknya kalian semua juga ngopi saja dulu. Perjalanan kita masih jauh, kita harus tetap kuat hingga Chana ditemukan bukan?" Air mata Sakya kembali berlinang.


Raga memerintahkan anak buahnya untuk duduk dan memesan kopi.


Pemilik warung memerhatikan Sakya dan anak buah Raga. Dia merasa segan melihat betapa besar dan tingginya mereka.


"Mas, mereka siapa? Saya kok serem melihatnya."


"Mereka anak buah saya. Ini bos saya. Kami sedang mencari sodara bos saya yang hilang beberapa hari lalu."


"Hilang? Kabur dari rumah maksudnya?"


"Dia culik. Nah, ini foto orang yang hilang. Yaaa siapa tau ibu melihatnya. Nanti kami akan beri hadiah yang besar bagi yang menemukannya."


Pemilik warung itu mengambil selembar foto Chana. Dia melihatnya dengan seksama hingga matanya menyipit.


"Ya Allah,Gusti." Pemilik warung itu berteriak. Raga dan anak buahnya terkejut.


"Ada apa?" tanya Raga.


"Kembar sama Mas yang ini toh?"


Raga duduk kembali dengan nafas kecewa. Pemilik warung itu menyimpan foto itu di atas meja karena ada salah satu penduduk yang berbelanja.


"Ini foto punya siapa? Kok mirip sama istrinya yang itu, ya, Ceu."


"Istri siapa?" tanya Sakya sampai membuat orang itu terkejut. Wanita muda itu ketakutan saat anak buah Raga ikut berdiri menatapnya.


"Istri saha?" tanya pemilik warung.


"Orang kota itu. Istrinya mirip sama yang ada di foto."


"Di mana rumahnya, Bu? Cepat katakan!" Raga mencengkeram lengan wanita itu.


"Bu, itu sodara saya yang hilang. Tolong beritahu di mana rumahnya. Saya mohon." Sakya memohon dengan lembut pada pemilik warung dan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2