
"Bagaimana keadaan Chana sekarang?" tanya William pada Arzhan.
"Sudah membaik. Hanya fisiknya. Tidak dengan jiwanya. Kadang, dia bisa berbicara dengan lancar tapi hanya dengan Iksia. Tapi dia bisa diam dan kadang menangis sendiri."
"Bisa di maklum."
"Yang sabar, ya. Kamu pasti sangat merindukan dia bukan?"
William tersenyum.
"Aku sendiri bahkan tidak bisa mendekati Chana. Aku begitu rindu saat dia bermanja dan minta digendong. Sekarang, untuk tetap berada di dalam pun aku harus sembunyi agar tidak terlihat olehnya. Menyedihkan bukan? Dia sampai takut pada semua laki-laki termasuk padaku ayahnya sendiri."
"Kita mungkin sedih, tapi rasa sedih itu, rasa sakit itu, tidak sebanding dengan apa yang Chana alami. Rasanya kita tidak pantas mengeluh bukan?"
Arzhan mengangguk.
"Aku hanya merindukan putri kecilku."
Ponsel William berbunyi, sebuah chat masuk. Dari Iksia.
William segera membuka chat yang berisi video chana. Chana terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia berbicara cukup banyak dengan Iksia meski kadang Chana terdiam seperti melamun.
Rasa rindu William sedikit terobati saat melihat Chana berbicara meski hanya ada di video.
Seperti itulah. Iksia akan merekam Chana saat mereka berbicara, lalu dia kirimkan pada Arzhan, Sakya, dan William.
"Nak, kamu makan ya. Ini Mom buatkan kamu salad buah dan pie susu. Kamu suka bukan?"
"Iya, Mom."
Iksia membuka kotak bekal yang dibawanya dari rumah. Ada salad buah dan pie. Dengan sangat perlahan Iksia menyuapi putrinya. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya Chana minta makan sendiri.
"Nak, kamu tahu Sakya?"
Chana mengangguk.
"Sepertinya dia akan segera memiliki bayi. Kamu akan mendapatkan keponakan. Akan ada suara bayi di rumah kita."
Chana tersenyum lebih lebar.
"Kamu tahu? Kemarin saat mau pergi kerja, Daddy menginjak kulit pisang. Dia terjungkal dan pantatnya sakit. Ha ha ha. Dia berjalan seperti kakek usia seratus tahun."
Chana tertawa meski suaranya terdengar kecil. Tidak apa, perubahan yang bagus bukan?
"Sayang, kamu itu sangat beruntung karena kami semua sangat mencintai kamu. Kami begitu menyayangi kamu, Nak. Termasuk Bu Sari. Dia sering banget menjenguk kamu ke sini. Dia begitu perhatian sampai direktur rumah sakit ini diwanti-wanti agar merawat kamu dengan baik."
Senyum Chana sedikit memudar. Tangan yang sedang memegang pie pun dia turunkan. Melihat sikap anaknya, Iksia merasa khawatir Chana akan marah lagi.
__ADS_1
"Mom."
"Iya, Sayang."
"Bagaimana dengan William? Apa dia juga masih memperhatikan aku? Apa dia ...."
"Tentu saja. Dia setiap hari setiap malam menunggu kamu di sini. Dia rela duduk di kursi hanya demi kamu. Menjaga kamu di luar."
"Suruh saja dia pergi dan tinggalkan aku, Mom. Aku sudah tidak layak lagi untuknya. Aku malu, Mom."
Iksia hanya bisa diam mendengar permintaan anaknya.
"Mom, aku sudah kotor. Tubuhku, jiwaku, dan segalanya sudah hancur. Aku tidak sanggup bertemu dengannya. Rasanya ... aku jijik pada diriku sendiri." Chana mulai menangis.
"Sayang ....." Iksia segera memeluk anaknya dengan erat.
Chana, dia tidak gila. Dia hanya syok dan trauma dengan apa yang dia alami. Butuh waktu cukup lama agar dia bisa menerima kenyataan. Meski kadang Chana masih sering menangis sendiri.
Sepekan kemudian, Chana sudah bisa pulang. Namun, dia masih memberikan jarak pada Arzhan dan Sakya. Sementara Chana masih enggan untuk untuk bertemu langsung dengan William.
Di rumah, semua pelayan, sopir dan bodyguard dilarang untuk bertemu dengan Chana secara langsung. Jika pun harus, makan mereka diminta untuk menutup wajah dengan masker dan memakai jilbab untuk membuat Chana merasa nyaman.
Butuh penyesuaian yang panjang untuk Chana bisa beradaptasi di rumah sendiri. Dia masih merasa takut jika keluar dari kamarnya. Chana juga sering merasa kaget hingga tak jarang dia sampe terjatuh saat tiba-tiba bertemu dengan orang lain meski di dalam rumah.
Perlahan namun pasti, Chana sudah kembali bisa hidup meski kini dia dilanda panic attack. Sesak nafas tiba-tiba saat berada dengan orang banyak. Meski banyaknya Chana masih bisa dihitung dengan jari.
Saat makan pun meja Chana hanya diisi olehnya dan Ikisa, sementara Arzhan dan Sakya duduk terpisah. Tak apa, semua mereka lakukan dengan suka hati selama itu demi kebaikan Chana.
Di setiap ada kesempatan berbincang atau satu ruangan dengan Chana, Sakya selalu melakukan video call dengan William agar pria itu bisa melihat kekasihnya meski sebatas video call. Itu sudah cukup. Chana tersenyum adalah kebahagiaan untuknya.
Satu pekan, dua pekan hingga menjadi bulan. Perubahan Chana sudah mulai meningkat. Dia mau mendekat pada Sakya dan Arzhan, tapi tidak melakukan kontak fisik jika bukan Chana yang memulai. Itu akan membuat panic attack nya kambuh.
Chana mulai berbicara dan berbincang dengan keluarganya. Ya, sebatas keluarga inti. Tidak ada orang lain termasuk Tata.
Sore ini Chana meminta Sakya membeli buah-buahan segar. Chana mengatakan jika mulutnya terasa pahit.
"Ini." William membeli berbagai jenis buah yang dia temukan.
"Sebanyak ini?" tanya Sakya.
"Kita tidak tahu Chana mau apa bukan? Jika mampu memberikan semuanya, kenapa tidak?"
Antara bahagia dan sedih Sakya menerima buah-buahan dari William untuk Chana. Dia bahagia karena William masih begitu setia pada adiknya, tapi dia juga merasakan pedihnya hati William.
"Perlahan-lahan aku akan membuat dia mau menerima kamu lagi. Bagaimana pun juga Chana harus sadar dan tahu tentang perasaan kamu."
"Aku sangat tahu bagaimana perasaan dia sebelum ini terjadi. Itu sudah cukup. Ok, aku jalan duluan. Pastikan dia makan buah dan bahagia."
__ADS_1
"Pasti."
William pergi dengan mobilnya sementara Sakya masih menatap buah-buahan yang dibawa oleh William. Sebanyak itu.
Sepulang kerja berikutnya, Sakya kembali menelpon William dan mengatakan jika Chana menginginkan puding hari ini. Sudah bisa ditebak, berbagai jenis puding William siapkan untuk kekasihnya.
Hari-hari berikutnya pun sama. Chana meminta Sakya membeli makanan pedas, dan William lah yang menyediakannya.
Keesokan harinya Chana meminta Sakya membeli pempek. Lagi, William membelikan pempek termahal yang ada di kotanya.
Begitu seterusnya. Setiap apa yang Chana inginkan selalu William yang menyediakan. Apa karena Sakya tidak mampu? Tentu saja bukan. Sakya hanya ingin William merasa senang karena masih berkontribusi pada hidup Chana. Dengan doa dan harapan agar Chana bisa merasakan ketulusan dari William.
"Kak, aku mau dessert yang ada di kota itu dong. Bawain, ya."
"Oke."
Tidak lama kemudian, apa yang Chana inginkan datang. Desert kesukaan Chana sejak lama.
"Aku sudah duga jika selama ini Sakya berbohong," bisiknya.
"Kenapa, Nak?" tanya Iksia yang baru saja datang melihat anaknya sedih.
"Mom, ada orang lain di luar?"
Iksia menoleh ke luar dengan wajah bingung.
"Di luar gerbang, Mom."
"Siapa, ya? Mom gak tau, sih. Kenapa memangnya? Wah, ini dessert kesukaan kamu, kan? Siapa yang beli?"
"Sakya pesan katanya, Mom."
"Loh, mereka udah bisa order via online ya? Setahu mom gak bisa."
"Itu artinya Sakya berbohong. Ada orang lain yang beli ini."
Mendengar ucapan Chana, Iksia teringat pada sesuatu.
"Kenapa, Mom tau sesuatu?"
"Enggak, cuma mom curiga aja sama seseorang."
"Ada mobil gak di depan?"
"Mobil? Emmm, tadi sih mom liat ada Rubicon. Tapi Mom kira itu mobil tetangga depan yang ...."
Belum sempat Iksia meneruskan ucapannya, Chana sudah berlari meninggalkannya. Karena khawatir, Iksia pun ikut berlari. Dia takut Chana pergi jauh entah ke mana. Bahkan Iksia meminta bodyguardnya ikut dari belakang. Menjaga jarak dari Chana yang penting masih terlihat oleh mata.
__ADS_1
Bodyguard dengan pakaian lengkap jas hitam, tapi kepala mereka memakai hijab dan masker mulut agar Chana tidak bisa melihat mereka laki-laki.