
"Hai, Kak. Maaf agak telat soalnya tadi ada kelas tambahan."
"Gak apa-apa, aku juga baru nyampe kok," ucap Sakya berbohong karena di sudah lebih dari satu jam menunggu.
"Mau ke mana sekarang?" tanya Aya sambil memakai sabuk pengaman.
"Terserah kamu, aku akan turuti."
"Benar kah?"
"Gak percaya?"
"Percaya lah. Kakak kan gak pernah bohong sama aku."
"Kamu maunya ke mana?"
"Emmm, anter aku ke toko buku, yuk. Ada novel yang ingin aku beli."
"Itu saja?"
"Emmm mau apa lagi ya? Aku bingung. Ya udah gini aja, deh. Sekarang terserah kakak mau ke mana, aku ikut."
"KUA mau?"
"Tunggu aku lulus dulu, ya."
Mereka pun tertawa.
"Mau yang mana?"
"Yang itu tapi aku gak nyampe."
Sakya mengangkat tubuh kecil Aya hingga dia bisa meraih buku yang dia inginkan.
"Ih, Kakak. Malu tau. Kaget juga kenapa gak bilang dulu."
Sakya mengacak rambut lurus berponi milik Aya. Gadis itu nampak nyaman dengan perlakuan Sakya.
Setelah mendapatkan beberapa novel yang diinginkan, Sakya mengajak Aya pergi ke toko perhiasan.
"Ngapain ke sini, Kak?" tanya Aya heran.
"Aku mau kasih kamu hadiah. Sudah aku pesan pekan lalu. Semoga saja kamu suka."
"Hah?" Aya terkejut.
"Selamat sore, Pak. Mau ambil pesanan, ya?"
"Iya, Mba. Sudah siap kan?"
"Sudah, Pak. Mohon tunggu sebentar."
Sakya mengajak Aya duduk di sofa yang sudah disediakan oleh pemilik toko. Khusus untuk tamu VIP.
Tidak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan Sakya.
"Ini, Pak."
Gelang berlian yang di simpan di atas alas kain sutera putih terlihat sangat cantik.
__ADS_1
"Suka?" tanya Sakya pada Aya.
Hadiah yang diberikan Sakya memang sangat indah dan membuat mata Aya tidak bisa berkedip sedikitpun.
Berlian bukan lah hal yang aneh untuk Aya, tapi bukankah berharga itu bukan tentang nilai tapi tentang siapa yang memberi dan menerima.
"Suka banget, Kak. Makasih, yaaa."
Sakya mengambil gelang itu untuk dipakaikan ke pergelangan tangan Aya.
"Makasih, Kak." Aya memeluk manja Sakya.
"Sama-sama. Aku senang kalau kamu suka."
Setelah melakukan transaksi, Sakya mengajak Aya makan sebelum mereka pulang.
"Ini rumah kamu?" tanya Sakya yang baru pertama kali ke rumah Aya.
"He-em. Kenapa? Lebih kecil dari rumah Kakak, ya?"
"Bukan begitu, aku hanya merasa tidak asing dengan rumah ini."
"Masa? Beneran?" tanya Aya cemas.
"Entahlah, tapi sepertinya salah. Ya sudah, masuk gih."
"Kakak aja yang pulang duluan, aku baru masuk setelah melihat kakak pergi."
"Ya sudah. Sampai ketemu lain waktu ya. Mungkin selama seminggu ini aku akan ke luar kota. Kita tidak bisa bertemu dulu."
"Oh, jadi ini suap karena kakak mau ninggalin aku?" tanya Aya merajuk.
"Bukan begitu, Aya."
"Aku ngambek pokoknya."
Aya turun dari mobil dengan cemberut. Sakya ikut turun namun Aya menyuruhnya untuk kembali masuk dan segera pergi.
Sakya membuang nafas berat karena harus meninggalkan kekasihnya dalam keadaan marah.
Setelah memastikan Sakya pergi jauh, Aya segera menelpon seseorang untuk menjemputnya.
Sesampainya di depan rumah, Sakya melihat sebuah mobil terparkir di depan gerbang. Seseorang dengan berpakaian kurir sebuah ekspedisi turun dari sana.
"Loh, kurir mobilnya keren amat."
Orang itu membawa bingkisan yang diikat dengan pita merah menyala. Karena penasaran dan curiga, Sakya tidak lekas masuk, dia menunggu kurir itu kembali ke mobil.
Mobil itu pun pergi dari rumah Sakya dan diikutinya dari belakang.
"Siapa orang itu? Kurir tapi pake mobil pribadi. Mana mobil bagus lagi."
Mobil itu berhenti di depan sebuah warung angkringan di pinggir jalan. Sakya pun ikut turun, dia berhenti di kejauhan agar tidak ketahuan.
"Lah, itu kan pimpinan Elang Shaka Group."
Pria yang memakai baju kurir itu terlihat memberikan laporan pada William. Dia segera membuka bajunya dan mengganti dengan baju dinasnya sebagai bawahan William, jas hitam.
Sakya kembali masuk dan segera pulang ke rumahnya. Dia begitu penasaran pada barang yang dikirim oleh William.
"Mba, Mba." Sakya berteriak memanggil pelayan di rumahnya. beberapa pelayan segeralah menghampiri.
"Ada apa, Tuan?"
"Tadi ada kiriman, ke mana barangnya?"
__ADS_1
"Maksudnya yang pake pita merah itu, Tuan?"
"Iya. Mana barangnya."
"Saya antar ke kamar Non Chana."
"Chana?"
"Kata kurirnya itu untuk Non Chana."
"Chana nya mana?"
"Belum pulang kuliah, Tuan. Katanya ada kelas malam. Jadi pulangnya sekitar pukul 22 malam nanti."
"Oke, terimakasih. O, iya, Dad and Mom apa mereka sudah pulang, Mba?"
"Belum, Tuan."
"Oh, ya. Terimakasih ya, Mba."
"Sama-sama, Tuan."
Sakya mengambil ponselnya untuk menelpon kembarannya akan tetapi tidak diangkat.
"Mungkin dia sedang ada kuliah," gumamnya.
Saat hendak pergi ke kamarnya, Sakya membuka kamar Chana dan benar saja bingkisan yang dibawa kurir tadi ada di kamar Chana.
Karena rasa penasaran yang amat besar, Sakya membuka bingkisan itu. Isinya sungguh luar biasa, sebuah kunci mobil dan satu set perhiasan. Bukan hanya itu, Sakya membuka lapisan ke dua dan di sana ada gaun berwarna silver.
"Maksudnya apa coba? Perhiasan? Mobil? dan gaun? Apa mereka akan pergi ke sebuah acara?"
Sakya duduk di atas kasur adiknya. Dia memejamkan mata dan memikirkan banyak hal.
Selama ini dia tidak suka Chana selalu mencari pacar lewat aplikasi, Sakya takut sesuatu yang buruk seperti di berita-berita terjadi pada Chana.
Namun, ini lebih buruk lagi. Chana disukai pria berumur yang mungkin seumuran dengan Fateeh, paman mereka.
"Chana harus berhenti sampai di sini sebelum semuanya terlalu jauh. Dad dan Mom pasti akan melarang keras hubungan mereka. Aku tidak ingin Chana sedih. Jangan sampai dia menangis karena asmara."
Sakya beranjak dari kamarnya. Dia menelpon Raga agar pulang lebih dulu.
"Saya yang akan menjemput dia, Pak. Pulang saja duluan."
"Ya sudah, baiklah."
Sakya kembali masuk ke dalam mobil dan pergi menuju kampus adiknya.
Begitu sampai di depan kampus, dia kembali melihat sebuah mobil yang mencurigakan. Dua orang pria besar berdiri di sampingnya.
"Maaf, kalian ini siapa, ya?" tanya Sakya mendekati mereka.
"Ada urusan apa?" mereka bertanya balik.
"Jika kalian anak buahnya Pak William, silakan pulang dan jangan ikuti adik saya lagi."
Mereka berdua saling menatap.
"Saya Sakya, kembaran Chana. Saya tahu kalian suruhan Pak William 'kan? Pulanglah dan katakan pada bos kalian untuk tidak mendekati adik saya lagi. Ini peringatan pertama dan terakhir dari saya. Silakan kalian pergi."
"Kami di sini hanya memantau dan memastikan Non Chana baik-baik saja."
"Terimakasih tapi sungguh, itu tidak perlu. Chana sudah memiliki pengawal pribadi dan saya pun akan menjaganya."
"Maaf, tapi kami hanya menjalankan tugas. Jika keberatan, silakan berbicara langsung pada bos kami."
__ADS_1
Sakya menahan amarahnya karena dia sadar jika pun memaksa mereka pulang adalah hal yang konyol, dia akan kalah telak jika harus beradu fisik dengan mereka.
Dengan terpaksa Sakya hanya bisa pasrah dan menerima jika adiknya diawasi oleh dua pria tinggi tersebut.