Promise!

Promise!
Obat


__ADS_3

William hanya menggaruk kepala yang tidak gatal dengan jari telunjuknya. Dia sama sekali tidak memperhatikan materi meeting saat itu. Matanya terpejam pertanda sedang memikirkan hal lain.


Melihat sikap bos nya, maka asisten kepercayaan William menghentikan meeting yang sedang berlangsung, ditunda hingga pekan depan.


Saat semaunya membubarkan diri, William melemparkan laptop ke dinding kaca ruang meeting hingga semuanya pecah berantakan.


Beberapa karyawan wanita menjerit karena terkejut. Sementara anak buah yang menjadi kepercayaan William hanya diam. Mereka tahu bos nya sedang tidak baik-baik saja.


William memiliki karyawan di perusahaan, dan dia juga memiliki anak buah yang selalu setia mengikutinya ke manapun dia pergi.


"Chana ... Chana ... Chana! kenapa dia begitu bodoh!"


William mengusap wajahnya dengan kasar hingga memerah.


"Kenapa sesak sekali dadaku." William meremas dadanya dengan keras.


"Tidak, jangan seperti ini William. Sadarlah!"


Dia bahkan menampar wajahnya beberapa kali, berharap dia segera sadar dari keterpurukannya karena Chana.


Selama di kantor, William tidak melakukan apa-apa selain tidur bermalas-malasan. Selera makannya pun hilang. Hingga hari berganti malam.


"Bos, ada kabar dari Elizer."


Elizer adalah anak buahnya yang paling tangguh. Dia yang selama ini mengikuti Chana ke mana pun dia pergi.


"Ada apa?" tanya William pada Elizer di telpon.


"Ze membawa Chana ke club' malam."


William melempar ponsel itu lalu segera pergi.


Anak buahnya yang lain menelpon Elizer untuk menanyakan lokasi keberadaan dia dan Chana.


Dalam perjalanan, tangan William mencengkram kuat sandaran tangannya, menahan amarah karena Ze mengajak pujaan hatinya ke club'malam.


"Bos ada telpon."


"Matikan."


"Dari Sakya."


William langsung mengambil ponsel itu.


"Pak William, saya tahu anda mengawasi adik saya. Sekarang dia tidak ada di kamarnya dan--"


"Tenang saja, Pak. Saya akan membawa dia ke rumah secepatnya."


"Sebaiknya jangan ke rumah, Pak. Bawa saja ke rumah sakit. Akan saya kirim alamatnya."


William mengembalikan ponselnya.


"Siapa yang di rumah sakit?"


"Bu Iksia. Dia baru saja keluar beberapa hari lalu dan tadi dia masuk lagi."


"Ini pasti karena ulah Chana. Ada apa dengan gadis itu."

__ADS_1


"Dia terpengaruh oleh Ze, Bos. Itu sudah tidak bisa diragukan lagi."


"Kurang ajar!"


Begitu sampai di club' malam, semua anak buah William menerobos masuk. Mengalahkan keamanan yang berjaga di sana.


Pengunjung club itu panik saat melihat keributan yang terjadi.


"Cari Chana!" salah satu anak buah William berteriak.


Mereka langsung bergerak membuka satu per satu kamar VIP yang ada di sana.


"Bos!"


William berjalan mengikuti arah suara anak buahnya yang memanggil dirinya.


Di dalam sana ada Chana dan Ze, juga beberapa artis lainnya. Mereka berpasangan.


"Bang, hei. Ada apa ini?"


"Duduk!" Anak buah William mendorong Ze untuk duduk kembali.


"Pulang!" William membentak Chana. Gadis itu menolak.


Tidak ada cara lain yang bisa William lakukan selain menarik paksa tangan Chana. Tidak peduli dia berontak kesakitan, tidak dia hiraukan Ze yang terus meneriakinya. Bagi William, Chana harus segera keluar dari sana.


Belum jauh mereka melangkah, Chana berhasil melepaskan diri dari cengkeraman tangan William.


"Ada apa? Kenapa memaksaku pulang? Aku sudah dewasa, aku berhak datang ke sini. Apa salahnya?"


William tidak berkata apa-apa. Dia kembali membawa Chana ke dalam kamar VIP. William mengambil gelas yang awalnya akan diberikan pada Chana oleh Ze.


Chana diam.


"Sudah dewasa bukan? Ayo minum."


Chana yang kesal mengambil gelas kecil berisi air berwarna biru bening. Dia menenggaknya dalam satu tegukan.


"Lihat?" tanya Chana seperti sedang menantangi William.


William menyilangkan tangannya di dada sambil menatap Chana penuh intimidasi.


"Nyalakan kamera."


Anak buahnya segera bergerak.


Camera on!


Chana mengerjapkan matanya beberapa kali. Tubuhnya mulai tidak seimbang. Pandangannya tidak karuan.


"Ayo pergi."


William menarik tangan Chana.


"Kita main ke mana pria tua?" tanya Chana mulai meracau.


"Waaaw, tubuhmu sangat kekar dan harum."

__ADS_1


Chana meraba tangan lalu pindah ke dada William.


"Kenapa matamu indah sekali. Coba lihat, lihatlah bibir ini. Sangat seksi, aku ingin mencicipinya." Chana meremas bibir dan wajah William.


Melihat sikap Chana, William segera menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil.


Sesampainya di mobil, Chana masih meracau. Kali ini dia lebih tidak terkendali dan liar.


"Segera telpon Sakya. Suruh dia ke apartemenku. Jangan sampai kameranya mati."


William terus menyingkirkan tangan Chana yang tidak hentinya meraba-raba tubuhnya. Bahkan Chana berkali-kali menarik kepala William untuk mencium bibirnya.


Tidak ada pilihan lain bagi William selain mengikat kedua tangan Chana ke belakang. Dia juga menutup mulut Chana dengan syal.


Gadis itu meronta, tubuhnya bergerak ke sana ke mari. Bahkan William beberapa kali terkena tendangan Chana.


"Saya bantu, Bos." anak buahnya menawarkan diri saat melihat William kewalahan mengendalikan Chana.


"Akan aku pastikan tubuhmu terbelah jika berani menyentuhnya sedikit saja!"


William dengan sekuat tenaganya membawa Chana memasuki apartemennya tanpa melukai Chana sedikitpun.


Sesampainya di apartemen, William membaringkan tubuh Chana di atas ranjang. Dia menggulung tubuh Chana dengan selimut tebal yang ada di sana.


Tidak lama kemudian Sakya datang.


"Chana, kenapa dia seperti ini?" tanya Sakya sambil berlari untuk melepaskan selimut dan ikatan Chana.


William tidak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi agar Sakya melihat sendiri apa yang telah dilakukan oleh Ze pada adiknya.


Begitu ikatan tangan dan mulutnya terbuka, tanpa melihat siapa yang ada di hadapannya, Chana langsung menyerang orang itu termasuk Sakya.


Tentu saja dia terkejut melihat tingkah adiknya yang tiba-tiba menyerang ingin menciumnya. Spontan Sakya mendorong Chana hingga terjatuh ke lantai.


Melihat hal itu, William segera berlari menolong Chana. Kini, William lah yang menjadi sasaran Chana.


William memeluk erat tubuh Chana dari belakang agar gadis itu tidak bisa mencium dirinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sakya di sela-sela ocehan Chana yang meminta untuk melakukan hubungan seksual.


Sakya marah dan cemas melihat keadaan adiknya. Dia juga merasa malu atas apa yang sedang chana lakukan.


"Dek, sadar. Kamu kenapa?" tanya Sakya sedih. Dia berlutut di hadapan Chana yang terus saja meracau.


"Dia minum obat perangsang yang dicampur sedikit alkohol. Makanya dia jadi seperti ini. Alkohol akan membuat efektivitas obatnya meningkat, makanya Non Chana menjadi tidak terkendali. Untunglah itu tidak akan bertahan lama karena alkohol akan meredam fungsi obat itu dalam waktu tertentu."


Asisten pribadi William mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada Chana.


"Siapa yang tega melakukan ini padanya?" tanya Sakya geram.


"Ze, Tuan."


"Kurang ajar! Akan aku habisi dia sekarang juga."


William memberikan isyarat mata pada anak buahnya untuk menahan Sakya agar tidak pergi dan melakukan tindakan gegabah.


Sakya meronta sambil mengutuk Ze karena telah melakukan kejahatan pada adiknya.

__ADS_1


Kini, dua orang kembar itu sama-sama mengoceh dan saling meronta di pelukan orang yang berbeda.


__ADS_2