Promise!

Promise!
Salah Faham


__ADS_3

"Ze bilang ponsel temannya hilang diambil seseorang. Mungkin orang itu yang sengaja menyebarkan video itu, Kak."


"Siapa yang mengambilnya dan untuk apa? Gue, sih, curiga ini perbuatan orang yang membenci Ze."


"Hmm, aku juga berpikir yang sama."


Ponsel Ze berdering sejak tadi, panggilan dari Ze yang diabaikan oleh Chana.


"Angkat, siapa tau ada hal penting."


"Males."


Sakya mengambil ponsel adiknya lalu menerima panggilan dari Ze.


"Ini gue, kakaknya Chana. Ada apa?"


"Aku ingin memberitahukan sesuatu pada Chana. Tolong berikan ponselnya."


"Dia gak mau."


"Kalau begitu pakai pengeras suara biar dia bisa mendengar apa yang aku katakan."


"Oke."


"Chana, kamu bisa dengar?"


Chana menoleh pada Sakya menatap seolah dia ingin bertanya, ada apa?


"Chana, aku tahu siapa yang menyebarkan video itu. Temenku bilang mereka yang mengambil ponselnya memakai setelan jas. Aku rasa itu anak buah William. Benar apa yang kamu katakan. Ini perbuatan orang yang membenciku. Dia ingin menjauhkan aku karena dia tidak suka kita dekat lagi."


"Tidak mungkin," ucap Sakya.


"Dengarkan aku dulu, minuman yang waktu itu Chana minum pun, William yang memaksa Chana minum, benar kan Chana?"


Sakya menoleh pada Chana. Gadis itu mengangguk.


"Minuman itu bukan milikku, itu punya temanku yang ada di video. Percaya sama aku, Chana. Aku tidak melakukan apa-apa."


Chana ingat, William yang mendorong Chana minum waktu itu.


Tanpa pikir panjang, Chana langsung pergi menemui William.


Dia segera menelepon Elizer dan menanyakan keberadaan William. Setelah mendapatkan lokasinya, Chana segar ke sana.


Plak!

__ADS_1


Chana menampar wajah William yang sedang memimpin rapat. Chana masuk begitu saja ke ruangan rapat yang sedang berlangsung.


Pada pengawal William segera bergerak untuk melindungi bosnya, namun ditahan oleh William.


Dengan gerakan jari telunjuknya, semua orang yang sedang rapat pun membubarkan diri. Kini hanya tinggal mereka berdua.


William menatap Chana heran dan juga penasaran. Bagaimana bisa, wanita yang bahkan jika marah pun tidak bisa menaikkan nada bicaranya, bisa menampar bahkan di hadapan orang banyak.


"Ada apa?"


"Membenci Ze sebesar ini kah?"


"Aku tidak mengerti."


"Video itu."


William nampak berpikir hingga dia akhirnya mengerti.


"Kamu menuduhku?"


"Mereka bilang kalau anak buah kamu yang mengambil ponselnya. Jika bukan karena kamu yang memberikan perintah, siapa lagi?"


"Aku sama sekali tidak ada kaitannya."


"Bohong. Kamu pasti melakukan ini kan? Minuman yang waktu itu kamu berikan pun itu hanya jebakan. Bukan Ze pelakunya."


"Sebesar ini kamu percaya padanya?"


Chana menelan ludah karena dia takut pada William yang mulai terlihat kesal.


"Dengar Pak William yang terhormat, mungkin kamu memiliki segalanya. Kamu bisa menginjak orang sesuka hati, menyingkirkan mereka yang tidak kau sukai, tapi kamu harus sadar, dunia ini berputar. Jangan karena sedang berada di atas, kamu bisa melakukan apa saja sesuai kehendak hati. Ingat, gunung tidak akan lebih tinggi dari akar rumput!"


Chana mendorong tubuh William begitu kuat, hingga William kehilangan keseimbangannya. Dia meraih kursi agar tidak terjatuh ke lantai.


Setelah kepergian Chana, kursi dan meja yang ada di sana hancur sudah menjadi sasaran amukan William.


"Kenapa dia begitu mempercayai pria bangsat itu!"


"Bos, lebih baik kita beri dia pelajaran."


"Apa kau bilang?" William menarik baju anak buahnya. "Aku tidak melakukan apa-apa pun menjadi sasaran kebencian Chana, lalu kau meminta aku untuk memberi pelajaran pada laki-laki itu? Hah!"


"Ma-maaf, Bos."


"Brengsek!"

__ADS_1


William melempar anak buahnya hingga jatuh di atas kursi-kursi yang sudah patah.


Anak buahnya diam tidak berkutik. Mereka takut melihat bos nya yang begitu marah besar untuk pertama kalinya.


Elizer yang tidak tahan melihat sikap bos nya, segera mengejar Chana. Beruntung gadis itu belum menaiki kendaraan.


"Non, tunggu sebentar." Elizer menarik tangan Chana.


"Ada apa? Apa dia memintamu untuk menyakitiku?"


Elizer menggelengkan kepala. "Mana mungkin, Non. Dia bahkan tidak berani menyakiti rambut Non barang sehelai."


"Lalu ada apa?"


"Saya hanya ingin memperlihatkan video ini."


Elizer memberikan ponselnya. Video itu bersisi rekaman cctv yang ada di ruangan VIP club malam.


Di sana terlihat jelas jika William tidak terlibat dalam insiden minuman itu. Pun dengan Ze. Mereka berdua tidak melakukan apa-apa.


"Bos kami tidak ada sangkut pautnya dengan minuman itu."


"Hebat sekali dia bisa tahu jika minuman itu berisi tentang sesuatu."


"Ada yang melaporkannya pada saya. Non, semua yang berkaitan dengan bos William pasti akan tahu siapa Non. Kami akan menjaga Non di mana pun Non berada."


"Apa?" tanya Chana tidak percaya.


"Bagi Bos William, Non itu sangat berharga, dan tugas kami adalah melindungi apa saja yang berharga bagi Bos William meski tanpa diperintah."


Chana semakin bingung dengan semua yang terjadi, jika William tidak ada kaitannya, juga Ze yang tidak berbohong. Lalu siapa yang melakukan ini semua padanya.


"Jika bukan William, atau Ze, lalu siapa yang menaruh obat itu ke dalam minumanku? Lagi pula, itu minuman beralkohol sementara aku hanya minum soda."


"Kami sudah menemukan pelakunya, tapi dia mengatakan jika dia buka suara maka dia akan kehilangan keluarganya. Non, yang harus Non tau hanyalah bos William tidak ada kaitannya dengan ini. Itu saja."


"Tidak. Itu tidak cukup. Aku harus tau siapa pelakunya."


"Maaf, kami tidak bisa membantu untuk itu."


"Tidak masalah. Aku akan cari tahu sendiri."


Chana pergi meninggalkan Elizer.


"Bagus. Untuk sementara kita hanya harus diam. Nyonya tidak ingin semua rencana dia berantakan."

__ADS_1


"Aku hanya tidak tahan melihat Bos terluka."


"Semua demi kebaikan dia, Elizer." Asisten Bu Sari berkata.


__ADS_2