Promise!

Promise!
Tata


__ADS_3

William anak pertama dari dua bersaudara. Dia memiliki adik perempuan. Kami duku hidup sangat susah, saya harus bekerja banting tulang demi menghidupi mereka berdua. Tukang cuci keliling, membuat serabi saat sore hari, malamnya menjahit. Pagi sampai pagi lagi dihabiskan untuk mencari uang demi kami bisa makan dan bersekolah.


William tumbuh menjadi anak pendiam. Dia sering dihina teman-temannya karena memiliki mata biru yang indah, mereka bilang jika William adalah anak haram karena saya diperkosa katanya. Padahal mata William adalah kelainan. Kelainan yang indah bukan?


Dia tidak pernah mendekati wanita karena minder. Meski akhirnya dia menjadi sosok yang sekarang, dia belum pernah dekat dengan seorang wanita.


Saya sangat senang saat malam itu dia datang ke kamar dan menyebut nama kamu. Dia bilang jika dia tidak bisa tidur sejak bertemu dengan kamu. Jujur, saya menangis bahagia karena akhirnya saya merasa lega, anak saya ternyata normal.


Chana terus mengingat setiap ucapan yang keluar dari mulut ibunya William.


Anak haram? Aku bahkan tahu bagaimana sakitnya mendengar sebutan itu melekat pada diri kita.


"Apa tidak satu pun wanita yang di dekati William?" tanya Chana pada Elizer.


"Sejak saya bekerja hampir 15 tahun, rasanya tidak ada. Saya heran dan juga senang saat dimintai menjaga Non dari jauh. Non sangat berarti untuknya. Tapi, Non ...."


"Katakan, jangan takut. Ada apa?"


"Bos sedang dekat dengan seseorang saat ini. Tepatnya setelah dia tahu kalau Non kembali pada Ze."


Chana tidak terkejut meski hati dia merasa ... sakit.


Wajar jika William melakukan itu, Chana sudah membuat dia sangat kecewa.


"Semoga wanita itu bisa membahagiakan William."


"Non gak marah?"


Chana menggelengkan kepala. "Saya senang jika akhirnya dia memiliki seseorang. Saya cuma bisa berdoa agar dia bahagia."


Elizer mengangguk canggung.


"Chana, kenapa kamu memakai baju ini? Bukannya William sudah memberikan gaun baru buat kamu?" tanya Iksia saat mereka akan pergi ke undangan Ibunya William.


"Aku lebih suka gaun ini. Sederhana tapi cantik."


"William sedang kesal sama kamu, apa kamu tidak takut dia lebih marah lagi? Kenapa gaun dari dia tidak kamu pakai?"


"Enggak," jawab Chana santai.


"Yas udahlah, Mom. Dad suka, gaunnya tertutup. Cocok juga dipake sama kamu."


"Daddy is the best pokoknya."


"Dad ...." Sakya berlari menghampiri.


"Apa lari-lari?" tanya Iksia yang sedang berada di kamar Chana. Arzhan dan istrinya sengaja memantau anaknya dandan karena takut dia berleha-leha.

__ADS_1


"Jemputan sudah datang. Dikawal pula."


"Apa itu anak buah William?"


"Entahlah, tapi kayaknya bukan yang biasanya aku lihat. Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya."


Chana dan orang tuanya saking melirik. Setelah Chana selesai, mereka segera turun, dan pergi menuju hotel tempat acara digelar.


Semerbak harum bunga menyeruak begitu masuk ka area pesta. Tidak terlalu banyak yang datang namun sudah dipastikan mereka yang ada di sana bukanlah orang sembarangan.


Banyak dari mereka yang sudah lanjut usia, sama seperti ibunya William. Tentu saja karena ini pesta dia bukan? sudah pasti yang datang adalah teman-temannya.


Ibunya William nampak sedang duduk bersama beberapa orang. Mereka terlihat asik mengobrol, hingga tidak menyadari kedatangan Chana.


"Ibunya William yang mana, ya?" tanya Sakya yang sedang digandeng Chana.


"Itu," bisik Chana sambil menunjuk dengan dagu.


Ibunya William yang sedang mengobrol langsung melihat ke arah Chana saat seseorang wanita dengan pakaian jas berbisik padanya.


Chana tersenyum saat ibunya William melambaikan tangan.


Wanita sepuh itu segera berpamitan pada orang yang sedang dia ajak bicara. Langkahnya sedikit cepat saat mendekati Chana.


"Akhirnya kamu datang juga. Ibu menunggu sejak tadi. Apa mereka telat menjemput kamu?"


"Senang sekali bertemu dengan Ibu." Ibunya William menggenggam kedua tangan Iksia dengan penuh kehangatan.


"Alhamdulillah, kita bisa bertemu. Selama ini saya hanya mendengar dari orang lain saja."


"Wah, apa itu tentang keburukan saya?" Ibunya Willem menggoda.


"Ah, bukan. Tentu saja bukan tentang hal itu. Justru yang saya dengar adalah kebalikannya."


"Kami sudah di ultimatum sama Chana, Bu. Kalau kita tidak boleh percaya pada rumor. Jadi, apa pun beritanya, tentang siapa pun itu, kami tidak akan percaya begitu saja." Sakya mejelaskan.


Ibunya William melirik kagum pada Chana yang sedang celingukan mencari seseorang. Ibunya William tersenyum tipis, dia tahu siapa yang sedang dicarinya.


"Maaf, anak saya William telat datang. Tadi dia sudah ke sini tapi pergi lagi entah ke mana."


Chana langsung menoleh, dia berpura-pura tenang dan seolah tidak mencari siapa-siapa.


"Mari silakan duduk dulu. Icip makanan yang ada di sini. Entah berkenan atau tidak, tapi monggo dinikmati."


"Alhamdulillah, ini sudah sangat lebih dari mewah, Bu." Iksia mencoba memuji.


Iksia, Arzhan dan Sakya pergi untuk mengambil makanan, sementara Chana ditarik oleh ibunya William ke arah lain.

__ADS_1


Iksia kebingungan melihat anaknya terlihat akrab dengan ibunya William.


"Ayo ke sini, ibu kenalkan kamu pada teman-teman Ibu."


Chana dan Ibunya William berjalan menuju meja tamu yang isinya penuh dengan ibu-ibu. Mereka terlihat sedang terbahak-bahak entah membahas masalah apa.


"Hey, hey, perhatikan dulu ke sini. Lihat siapa yang aku bawa."


Tawa itu hilang. Mereka semua menoleh pada Chana.


"Siapa itu, Ri? Cantik sekali ...."


Chana tersenyum ramah.


"Itu lihat lesung pipinya imut banget."


"Iya. Kenapa dia bisa secantik ini? Ri, ini siapa? Calon istri Willi?"


"Kenalkan, dia namanya Chana. Dia ...."


Belum sempat ibunya William meneruskan ucapannya, William memanggil.


"Nah, itu dia datang."


Wanita itu lagi? Bisik Chana dalam hati.


William datang dengan seorang wanita yang menggandeng tangannya. Tinggi, putih dan cantik. Jika dilihat sekilas, mereka memang terlihat sangat serasi.


Chana berusaha tenang saat William dan wanita itu berjalan semakin dekat dengan mereka.


"Nak, kenapa baru datang? Tamu sudah menunggu lama."


"Aku menjemput Tata dulu, Bu."


"Halo, Tante. Apa kabar? Selamat ulang tahun, ya. Semoga Tante sehat selalu supaya bisa melihat Willi menikah dan punya anak."


"Terimakasih, Tata. Kamu cantik sekali malam ini."


"Ini siapa, Tante?" Tanya tata menunjuk Chana.


"Oh, ini. Dia Chana, dia--"


"Halo, saya Chana." Chana memotong ucapan ibu William yang belum selesai.


Sejak William datang, matanya tidak pernah lepas dari Chana. Dari ujung rambut hingga ujung kakinya dia pindai.


"Maaf, tapi gaun yang kamu berikan terlalu terbuka. Aku lebih nyaman pake gaun ini." Chana mencoba menjelaskan sebelum William salah faham lagi.

__ADS_1


William hanya diam, kini matanya tertuju pada Ibunya. Menatap dengan penuh tanda tanya.


__ADS_2