Promise!

Promise!
Hilangnya mempelai wanita


__ADS_3

"Galuh, Non Chana mana? Saya cari di kamarnya kok gak ada." tanya Rere.


"Tadi ada kok."


"Coba aja cari, aku tadi ke kamarnya tapi Non Chana gak ada."


"Masa? Gak mungkin, ah."


"Ada apa ini?" tanya Arzhan.


"Saya mau memberikan ini pada Non Chana, tapi dia gak ada di kamarnya Tuan."


"Tadi ada kok." Galuh masih membela.


"Coba saya cari."


Arzhan diikuti Galuh dan Rere mencari Chana ke kamarnya. Namun kamar itu nampak kosong. Arzhan memerintahkan Galuh dan Rere mencarinya ke tempat lain.


Melihat Rere dan Galuh yang sedang sibuk mencari Chana, membuat orang-orang pun bertanya, ada apa?


"Non Chana gak ada di kamarnya."


"Ke mana dia?" tanya Ikisa yang mulai cemas.


"Saya lihat rekaman cctv dulu." Raga berlari ke ruangan pengawasan cctv. Di sana dia tidak melihat Chana kecuali melihat seseorang yang mencurigakan pergi keluar bersama rombongan penghias hantaran.


"Iksia, coba tanya ke tukang hias. Mereka mengirim berapa orang tadi?"


"Maksudnya?"


"Mereka ada tujuh orang," Galuh menjawab.


"Tapi yang keluar ada delapan orang. Itu artinya satu orangnya Chana."


"Apa?" Iksia begitu terkejut. "Jam berapa mereka keluar?"


"Sekitar dua jam yang lalu."


"Aku telpon William dulu. Mungkin Chana pergi ke sana."


Iksia menelpon rumah William karena ponsel William sedang disita, sama seperti Chana.


"Halo, ada apa Bu Iksia?"


"Maaf, apa Chana datang ke sana, William?"


"Chana? Tentu saja tidak, bukankah dia ... tunggu sebentar. Apa Chana ....."

__ADS_1


Iksia tidak menjawab.


William yang mengerti apa yang sedang terjadi pun segera memanggil Elizer dan yang lainnya. Dia pergi untuk mencari Chana.


"William, mau ke mana?"


Bu Sari mengikuti anaknya pergi keluar, namun William tidak peduli dan terus saja pergi.


"Non Chana pergi dari rumah."


"Apa?" Bu Sari terkejut mendengar pernyataan asistennya.


"Kalau begitu, kita harus bergerak. Temukan putriku sebelum terjadi sesuatu padanya."


"Baik."


Sari memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam-dalam karena merasa cemas.


Keluarga Chana dipimpin Raga pun pergi mencari Chana. Pun dengan William dan anak buahnya. Tidak ketinggalan asisten Sari dan pengawalnya yang lain.


Mereka mencari di lain tempat, bertanya ke beberapa orang yang tidak banyak mereka temui karena saat itu sudah lewat tengah malam.


Azan subuh berkumandang pun baik Raga, William dan asisten Sari belum ada yang mendapatkan titik temu.


William terlihat begitu marah karena belum juga menemukan petunjuk tentang keberadaan calon istrinya.


William meminta bantuan temannya yang ada di kepolisian untuk mencari calon istrinya yang sejak malam menghilang tanpa kabar.


Melewati hari hingga kembali menjadi gelap, lalu matahari kembali muncul dan kembali terbenam, Chana tidak kunjung ditemukan. Bahkan selama itu pun William tidak istirahat dan tidak makan jika tidak dipaksa Sari.


Iksia berkali-kali pingsan karena Chana belum juga ditemukan.


Dua keluarga yang awalnya sibuk mempersiapkan pernikahan dengan penuh suka cita, kini berubah menjadi duka. Tidak ada lagi canda tawa keluarga.


Hari pernikahan tinggal sehari lagi. Seharusnya malam ini Chana sedang memakai hena. Namun, apa boleh dikata, calon mempelai wanita itu tidak diketahui rimbanya.


"Chana ... kamu di mana, Nak? Cepat pulang, Sayang." hanya itu yang keluar dari mulut Iksia saat dia sadar. Tidak lama setelah itu dia akan kembali pingsan.


Selang infus dan oksigen pun terpasang di tubuh Iksia.


Sementara William sudah tidak terlihat gagah dan rapi seperti dulu. Dia yang menghabisi waktu untuk mencari Chana tidak lagi memperdulikan kebersihannya.


Ponsel sari berbunyi, notifikasi dari chat masuk.


Ada sebuah video yang dikirim seseorang pada ponselnya.


Sari membuka video itu. Awalnya terlihat sepasang telapak kaki seseorang, jika dilihat orang itu nampak sedang berada di atas lantai yang kotor dan kumuh.

__ADS_1


Video itu berkelanjut memperlihatkan kaki seseorang, semakin lama semakin naik dan sangat jelas bahwa itu adalah seorang wanita. Wanita yang hanya memakai underwear berwarna hitam.


Sari menjatuhkan ponselnya karena terkejut dengan isi video yang belum sempat dia lihat secara keseluruhan.


William dan semua orang yang berada bersamanya menoleh.


Elizer mengambil ponsel Sari dan melanjutkan menonton video yang sempat terjeda.


"Jangan!" Sari mengambil ponsel miliknya karena tidak ingin Elizer melihat wanita tanpa busana yang ada di video itu.


Dengan menguatkan hatinya, Sari kembali melihat isi video itu.


Semakin ke atas, Sari melihat perut wanita itu. Perut dengan luka gores hingga meneteskan darah. Wanita itu terlihat bernafas dengan cepat. Mungkin karena menahan sakit.


Kepala wanita itu ditutup kain hitam, Sari tidak bisa melihat siapa wanita tersebut. Hanya saja tangan gadis malang itu terikat dengan tali yang ditarik ke atas.


Selanjutnya video itu menunjukkan pakaian yang ada di sebelah wanita tadi.


"Apa-apaan ini? Siapa yang tega melakukan ini?" tanya Sari.


"Apa, Bu?" tanya William sambil menghampiri ibunya. Dia kemudian melihat video yang ada di ponsel ibunya.


Mata William terbelalak begitu melihat adegan di dalamnya. Bukan karena isi videonya melainkan kalung yang dipakai wanita itu.


Itu adalah kalung pemberian darinya untuk Chana.


"Bos?"


"Siapa yang mengirim video ini, Bu?" tanya William yang tubuhnya melemah. Air matanya tidak bisa dia bendung lagi.


"Ibu tidak tahu, tidak ada namanya di kontak ibu. Kenapa?"


"Ini ... ini ... ini Chana, Bu. Kalung itu aku yang berikan untuk dia."


"Apa?" Sari terkejut bukan main.


William berteriak histeris. Elizer segera mengambil ponsel itu dan membawanya pergi entah ke mana.


Tida body guard memegang tubuh William yang seperti orang kesurupan. Membanting semua benda yang ada di sekitarnya.


Sementara Sari hanya bisa menangis sambil ditenangkan oleh pelayan di rumahnya. Asisten Bu Sari mencoba menghubungi keluarga Chana dan meminta mereka untuk ke rumah Sari.


Tidak lama kemudian, Fateeh, Sakya dan istrinya datang ditemani beberapa pengawal. Sementara Iksia tidak bisa datang karena di rawat di rumah sakit ditemani Arzhan.


Sakya menangis histeris mendengar penjelasan keluarga William mengenai kondisi Chana.


Bahkan Sakya tidak sadarkan diri karen syok.

__ADS_1


__ADS_2