Promise!

Promise!
Kecelakaan


__ADS_3

Chana menghentikan langkahnya saat melihat William sudah berdiri di samping mobilnya di depan kampus tempat Chana kuliah.


William terlihat menawan dengan pakaian khas yang selalu dia pakai, stelan jas rapi dengan kaca mata hitam. Dia berdiri menyandarkan tubuhnya di mobil sambil melihat layar ponsel. Sementara tangan satunya dia masukkan ke dalam saku celana.


"Liat apa, fokus banget kayaknya." Chana bertanya sambil berdiri tepat di depan William.


"Oh, enggak. Iseng aja liat-liat, bosen nunggu hampir satu jam di sini."


"Hah?"


"Aku takut terlambat."


"Kenapa gak tanya dulu?"


"Tanya ke mana? Nomor aku kamu blokir."


"Suruh siapa blokir nomor aku duluan, yeeey!"


"Simpan nomor kamu." William menyodorkan ponselnya.


Chana mengambilnya.


"Eh, kekunci lagi. Ini buka pin nya."


"Itu kakak pola. Kamu tulisan saja membentuk huruf C."


"Hmmm?"


William tersenyum.


"Sayang ...." Chana dan William menoleh bersamaan. Ze datang.


"Maaf aku telat." Tanpa menghiraukan William, Ze memeluk Chana dengan erat. Dia juga mencium kening Chana namun gadis itu segera berpaling.


"Kenapa, Sayang? Malu sama William?" tanyanya.


"Kalau begitu, saya permisi." William mengambil ponsel dari tangan Chana.


"Tunggu!" Chana menarik tangan William. Pria itu menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada Chana.


"Jangan salah faham. Aku pergi hanya untuk menyelesaikan yang seharusnya tidak terjadi."


William tersenyum.


"Ayo kita pergi." Chana menarik tangan Ze menjauhi mobil William.

__ADS_1


"El, suruh anak buah kamu mengikuti Ze. Jangan sampai ketahuan tapi pastikan wanitaku baik-baik saja," perintah William pada Elizer.


"Baik, bos."


William mematik ponselnya.


"Aku ingin kamu tidak pernah datang menemuiku lagi, Ze. Kita sudah berakhir sejak lama. Aku tidak ingin ada apa-apa lagi di antara kita."


"Apa ini karena William?"


"Jujur, itu salah satu alasannya. Tapi yang paling utama karena aku tidak ingin kehidupanku terekspos untuk masyarakat banyak. Aku tidak ingin ada kamera yang selalu mengintai semua gerak-gerik hidupku."


"Sayang ... aku janji, aku tidak akan membiarkan wartawan meliput hidupmu lagi. Aku bisa melakukan itu."


"Enggak, Ze. Aku tetap ingin kita putus. Semuanya sudah berakhir, Ze. Ayo kita hentikan sampai di sini."


Kesal, Ze menginjak gas hingga mobil itu melaju sangat cepat.


"Ze, hentikan. Kita bisa celaka." Chana mulai ketakutan.


"Aku tidak akan menghentikan mobil ini jika kamu tidak kembali padaku."


"Gak bisa, Ze. Aku gak mau."


"Katakan alasannya!" Ze berteriak histeris.


Ze semakin kesal mendengar ucapan Chana. Laki-laki itu kembali menginjak gas. Tidak peduli Chana berteriak minta berhenti.


"Arrghhh." Ze berteriak seperti orang kerasukan.


"Ze, pelankan mobilnya. Di depan ramai banyak anak sekolah."


Teriakkan Chana tidak di hiraukan. zhingga akhirnya.


Buuughhhhh!


Mobil Ze yang dipaksa belok saat kondisi kencang, membuat mobilnya terbalik dua kali. Semua yang melihat berteriak histeris.


Mobil Elizer dan anak buahnya yang sejak tadi berusaha mengikuti, berhenti. Mereka segera keluar dari mobil dan menghampiri mobil Ze yang rusak parah.


Mereka berusaha menyelamatkan Chana dan Ze dari dalam sana.


Ze tidak sadarkan diri dengan darah mengalir dari kepalanya. Sementara Chana masih terlihat sadar meski tidak sepenuhnya.


"Non, bertahan. Kami akan segera membawa Non ke rumah sakit. Kami mohon."

__ADS_1


"William ...." ucap Chana lirih dengan terbata-bata.


"Kami sudah menelpon Bos, dia akan segera menemui, Non. Tolong bertahan, Non."


"Will ...."


Chana memejamkan matanya sebelum selesai memanggil nama William.


"Mas, mau makan apa?" tanya Tata saat menyambut suaminya pulang kerja.


"Apa saja."


"Sini aku bawa." Tata mengambil tas kerja Sakya. Dia juga membantu Sakya melepaskan jas nya sebelum duduk untuk makan.


"Cuci tangan dulu, Mas." Tata memberikan baskom kosong, meminta Sakya menyimpan tangannya di atas untuk dia guyur dengan aei hangat.


"Padahal aku bisa cuci tangan di wastafel."


"Kamu 'kan capek habis kerja, lebih baik kamu duduk saja biar aku yang menyiapkan segala kebutuhan kamu, Mas."


"Hmm, terimakasih."


Ucapan terimakasih itu membuat Tata sedikit terluka. Baginya, menyiapkan kebutuhan suami adalah kewajiban yang dia sukai. Tidak ada pamrih dan tidak perlu ada kecanggungan di dalamnya. Jika itu terjadi maka sudah bisa dipastikan jika Sakya belum menerima Tata di hatinya.


Tata tersenyum miris. Lalu kembali melakukan aktivitasnya. Mengambil makanan dan minum untuk sakya. Membawa piring kotor itu untuk dia cuci sendiri tanpa meminta bantuan pelayan.


"Baju dan apa pun yang habis dipakai suamiku, jangan kalian sentuh. Biar aku yang melakukan semuanya. Termasuk mencuci dan menyetrika pakaiannya," ujar Tata pada semua pelayan di rumah itu.


Seperti biasa, saat malam sekitar pukul delapan malam, Chana dan Tata akan menonton film sambil ngemil. Mereka akan berdiskusi saling mengeluarkan pendapat tentang film yang sedang mereka tonton. Tidak jarang mereka pun berselisih karena sama-sama teguh pada pendiriannya tentang ending dari film tersebut.


"Kalian! Bisa, gak, sih, nonton film dengan tenang dan damai?"


"Enggak!" jawab Chana dan Tata bersamaan.


"Haduuuh, punya adik perempuan satu aja udah pening, sekarang ada lagi satu." Sakya mengeluh kesal sambil berlalu. Chana dan Tata tertawa puas. Meski begitu, hati Tata kembali terluka karena Sakya ternyata Sakya hanya menganggap dia sebagai adiknya sama seperti Chana.


Melihat reaksi Tata yang sedikit berubah, Chana kesal pada Sakya. Dia dulu rela kehilangan ini itu demi anak kecil yang ternyata seorang rubah jahat, tapi Tata malah dia anggap sebelah mata.


"Turun Lo!" Chana mengirimkan chat pada Sakya.


"Ogah, gue mau istirahat."


"Ya udah ajak istri Lo istirahat juga."


"Kalau dia ngantuk, dia juga pasti ke kamar."

__ADS_1


"Heh, demi Aya si kutu kupret Lo kehilangan miliaran duit, rubah itu Lo sanjung, Lo sayang. Giliran Tata yang udah sah jadi istri Lo malah dibiarkan. Aneh! Awas aja sampai Lo menyesal nanti. gue akan tertawa paling keras pokoknya! Promise!"


Tidak ada balasan dari Sakya, dan itu membuat Chana semakin kesal pada kembarannya.


__ADS_2