
"Saya juga ingin menyampaikan bahwa secara pribadi telah melamar Chana tiga hari yang lalu. Rencananya saya akan melamar secara resmi nanti malam Senin. Itulah niat kedatangan saya ke sini selain menerima undangan makan malam," ucap William setelah mereka makan malam dan berkumpul di ruang keluarga.
Semua keluarga hadir, termasuk Fateeh dan istrinya.
"Saya menerima niat baik Pak William untuk melamar putri saya. Hanya saja jika boleh saya memberikan saran, lamarannya sekalian saja menikah. Toh, Chana pribadi sudah menerima lamarannya bukan? Kami sebagai orang tua akan selalu mendukung," tutur Arzhan.
"Benar, jika Pak William dan Chana sudah saling mencintai dan yakin untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, menikah saja langsung. Jangan mengulur waktu agar bisa menghindari fitnah," ujar Fateeh.
Chana tersipu malu.
"Kalau itu yang keluarga di sini inginkan, maka saya siap menurutinya. Mungkin untuk lebih lanjutnya, nanti saya akan membicarakannya dengan ibu. Saya akan kembali ke sini bersama orang tua dan sodara saya."
"Ya, itu mungkin lebih baik," lanjut Arzhan.
Malam itu pun berlalu dengan canda tawa dan obrolan manis sebuah keluarga hangat dan bahagia.
Seminggu kemudian, William dan keluarganya datang mengunjungi keluarga Chana untuk menentukan hari pernikahan anak-anak mereka.
Tidak ada perdebatan berarti mengenai adat dan resepsi, kedua belah pihak baik ibu Sari ataupun Ikisa sama-sama saling menghargai dan saling menerima. Tidak ada yang ngotot dengan keinginan masing-masing. Bagi mereka, pernikahan dan kebahagiaan pengantin adalah yang utaman.
Pernikahan Chana dan William akan dilaksanakan tiga minggu setelah keluarga besar bertemu. Keesokan harinya, masingmasing sibuk dengan kepentingan masing-masing.
"Ini bagus, gak, Mas?"
"Lumayan, cuma terlalu mencolok, cari yang warnanya lembut aja."
Isikan dan Arzhan ditemani designer sibuk mencari bahan untuk dipakai keluarga besarnya.
"Undangannya mau yang kaya gimana?"
"Yang sederhana saja tapi bermanfaat.. Maksudnya jangan sampai terbuang sia-sia aja gitu. Sayang."
"Yang tidak dibuang ... berarti harus benda yang bisa dipakai atau bisa dijadikan pajangan di rumah, tapi apa?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau keramik? Atau patung kristal." Chana memberi saran.
"Boleh, kita pesan keramik aja. Biar bisa dipajang oleh tamu. Sekarang kita harus cari cincin pernikahan kita."
"Oke."
Chana dan William pun pergi ke pengrajin keramik, setelah lama berdiskusi, akhirnya mereka mencapai kesepakatan untuk warna bentuk dan ukurannya.
Selanjutnya mereka menuju toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan. Setelah itu dilanjutkan untuk mengukur pakaian pengantin.
Pergi ke sana ke mari dari pagi hingga larut malam. Tidak ada rasa pegal atau lelah dalam diri merek, bagaimana tidak, mereka sedang mempersiapkan hal yang penting. Momen yang harusnya terjadi hanya satu kali dalam hidup.
Meski acara sudah dipercayakan pada WO, tapi Bu Sari tetap sibuk mempersiapkan segalanya. Dia tidak ingin ada hal yang membuat acara anaknya terlihat buruk meski hal sepele. Semuanya harus berjalan dengan sempurna.
Persiapan hampir 85%, hanya tinggal menunggu hal-hal kecil seperti gaun, dekorasi, dan yang lainnya.
Undangan sudah tersebar, gaun pengantin, barang seserahan untuk pernikahan, dekorasi dan semuanya sudah tinggal menunggu waktunya.
Chana dan William dipingit selama sepekan. Mereka tidak boleh bertemu bahkan tidak diizinkan untuk berkomunikasi. Itu membuat Chana ataupun William benar-benar menderita karena menahan rindu.
Chana memiliki kesempatan untuk ikut menyelinap keluar bersama mereka yang baru saja menghias hantaran itu.
Lolos.
Gadis itu memisahkan diri dari rombongan dan berjalan mendekati pepohonan agar dia tersamarkan dengan bayangan di malam hari ini.
Lolos.
Chana diam di pinggir jalan berniat untuk menunggu taksi lewat. Lima menit, sepuluh menit tidak ada satu pun mobil yang melintas.
Hingga dari jauh Chana melihat ada sebuah mobil yang datang. Semakin dekat jarak dengan Chana, mobil itu melambat, dan berhenti tepat di depan Chana.
"Hai." jendela mobil terbuka lalu seseorang melambaikan tangan.
__ADS_1
Chana memerhatikan wajah yang seperti tidak asing baginya.
"Masih ingat? "
"Siapa, ya?"
"Di toko baju."
"Oh, iya. Pantesan berasa gak asing."
"Mau ke mana?"
"Ke rumah temen tapi nunggu taksi gak ada yang lewat."
"Ini udah malam, pasti taksi akan sangat jarang melintas di sini. Mau aku antar?"
Ragu. Chana tidak segera mengiyakan. Namun rasa rindu pada William membuat dia akhirnya menerima tawaran laki-laki itu.
Chana pun masuk dan ikut bersamanya.
"Mau minum?"
"Boleh."
"Itu. Sudah dibuka tapi belum sempat aku minum. Yakin, deh, itu masih baru."
"Ha ha ha. Aku percaya kok."
Chana mengambil botol air mineral yang ada di dalam mobil lalu meminumnya.
...πΊπΊπΊ...
Hai, hai. Jangan lupa mampir juga di cerita lain yaaaa ...
__ADS_1
πππ