
"Kamu tidak apa-apa?"
Chana tidak menggubris pertanyaan William yang menutupi tubuhnya dengan jas. Gadis itu masih diam dia bawah karena merasa malu dan terkejut.
Semua mata yang hadir menatap ke arah Chana membuat gadis itu tidak ingin bangkit karena malu.
"Dek, ayo bangun. Kalau kayak gini terus malah malu dilihat banyak orang."
"Kenapa sih, gue selalu sial kalau ketemu bocah itu."
"Bukan saatnya mengutuk keadaan, ayo bangun."
Chana yang masih tidak ingin bangun diangkat paksa oleh William. Sontak saja semua orang yang ada di sana bergemuruh dengan ucapan masing-masing.
Arzhan dan Iksia segera berjalan mengikuti William yang membawa Chana keluar dari ballroom.
Merasa sudah sepi, William menurunkan Chana.
"Ih, kenapa digendong. Malu tau, Om."
William hanya diam karena dia sadar ada keluarga Chana di sana.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Iksia.
"Dia tuh, Mom. Setiap bertemu dengannya aku selalu saja ketiban masalah. Ada aja hal yang membuat aku kesal." Chana menunjuk Aya.
"Dia gak sengaja, Dek."
"Maaf, Om, Tante. Tadi saya gak sengaja menginjak gaun Kak Chana."
"Kamu siapa?" tanya Iksia.
"Dia Aya, wanita yang sedang dekat denganku, Mom."
"Jangan restui, Mom. Bisa sial sepanjang waktu kalau dia jadi sodaraku."
Mendengar ucapan Chana, Aya mengepalkan tangan dengan rahang sedikit mengeras. Dia merasa tersinggung dengan ucapan Chana, namun dia tetap berusaha tenang.
William melangkah mundur perlahan meninggalkan Chana dan keluarganya. Mata gadis itu sempat bertemu dengan mata William, dan William hanya tersenyum kecil sebelum dia pergi.
"Husss, jangan bilang gitu, ah! Kamu bawa gaun cadangan gak? Ganti saja, gaun kamu sobek sepertinya."
"Ada, Dad."
"Ya udah, ganti dulu."
"Anterin ke kamarnya. Gendong, ya."
"Chana ...." Iksia geram.
"Bleeeee. Mom cemburu yaaa. Daddy punya aku pokoknya."
Dengan riang gembira Chana menaiki punggung Arzhan.
"Ya sudah, ayo kita kembali ke acara." Iksia mengajak Aya dan Sakya.
Saat mereka berjalan menuju ballroom, Aya beberapa kali menoleh ke belakang untuk melihat Chana yang sedang digendong ayahnya.
__ADS_1
Chana dan Arzhan kembali ke ballroom. Mereka naik ke panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat dan tentu saja meminta maaf karena telah membuat keributan.
"Saya benar-benar minta maaf, Pak Gun. Anak saya tadi mendapatkan sedikit masalah dan membuat keributan di pesta bapak."
"Tidak masalah, Pak Arzhan. Yang namanya kecelakaan besar atau kecil kan tidak ada yang tahu."
"Ini anaknya, Pak?" tanya orang tua mempelai.
"Iya, Pak. Ini putri saya namanya Chana. Tadi tidak sengaja gaunnya terinjak dan ya... begitulah."
"Cantik sekali."
"Makasih Tante. Selamat ya Tante, semoga pestanya berjalan lancar dan anaknya bahagia."
"Aamiin. Terima kasih ya, nak. Duuuh, andai punya anak laki-laki, saya mau jadiin Chana sebagai menantu."
"Jangan, Tante. Kerja saya hanya tidur dan tidak bisa melakukan apa-apa. Nanti anak Tante gak bisa saya urus dengan baik."
"Kan ada pelayan."
Chana dan orang tua mempelai tertawa. Setelah berbasa-basi dan berfoto bersama, Chana dan keluarganya turun. Mereka pergi mengambil makanan dan duduk di meja yang telah di sediakan.
"Tadi yang gendong kamu siapa?" tanya Arzhan. Chana diam sesaat karena bingung mau menjawab apa.
"Dia pemimpin Elang Shaka group dan Wilta tbk," jawab Sakya.
"Kenal?" tanya Arzhan pada Chana.
"Kebetulan dekat saja kali." Sakya kembali menjawab.
"Yang ditanya Chana, kenapa kamu yang jawab?"
"Dad, kita sedang makan. Nanti aja interogasinya." Sakya masih berusaha mengalihkan pembicaraan.
William terlalu terpaut jauh umurnya dengan Chana dan hal itu pasti tidak akan diterima oleh Iksia, pikir Sakya.
Lagi-lagi secara tidak sengaja mata Chana bertemu dengan mata William yang sedari tadi menatapnya.
Tidak ingin ketahuan oleh orang lain terutama orang tuanya, Chana segera mengalihkan pandangannya. Namun, hatinya tidak bisa berbohong jika dia ingin selalu melihat ke arah pria bermata indah itu.
"Mom, aku ke toilet sebentar."
"Hati-hati."
Chana bangun dari kursinya dan segera pergi menuju toilet. Dia tidak ingin buang air kecil maupun buang air besar, Chana hanya berharap agar William mengikutinya.
Aku kenapa coba? Kenapa juga berharap dia mengikuti ke sini? Duh, ngaco banget kan?
Hati Chana terus bergemuruh dengan pemikirannya sendiri.
Gadis itu mengintip keluar diam-diam memastikan apa yang dia tunggu ada di sana. Namun nihil, tidak ada orang di luar sana.
Hatinya kecewa.
Chana mencuci tangan dan merapikan hiasanya. Setelah di rasa selesai, dia segera keluar agar keluarganya tidak curiga.
Begitu keluar dari toilet, sebuah tangan menarik tangannya dan masuk ke sebuah ruangan yang gelap.
Chana berteriak namun segera dibekap oleh tangan seseorang.
__ADS_1
Lampu menyala.
Trashhh!
Mata Chana terpejam karena merasa silau. Tidak lama kemudian dia membuka matanya dan melihat orang yang menariknya adalah William.
"Om? Kenapa ada di sini?"
"Kamu yang minta kan?"
"Kapan?"
William tidak menjawab dan hanya menatap mata Chana lekat.
"Om dukun ya? kok bisa tahu kalau aku nunggu Om datang."
"Berarti benar kan?"
"Eh, enggak gitu. Maksudnya kok om nebaknya gitu."
William masih diam dan hanya menatap intens Chana. Dia memindai seluruh wajah cantik Chana.
Melihat rambutnya, turun ke mata, lalu melihat bibir, pipi dan kembali ke mata Chana.
"Ada apa? Kenapa liatin aku kayak gitu? Takut tau Om."
"Aku hanya ingin mengingat setiap detail wajah orang yang membuat aku insomnia setiap malam."
"Insomnia? Hubungannya apa sama aku?"
"Kamu, kamu yang selalu membuat aku gelisah dan aku kesulitan tidur karenanya."
"Lah, istri Om kan ada. Eh, dia cantik banget ternyata. Gak baik om bertingkah seperti sekarang. Nanti aku juga kena imbasnya loh. Males banget kalau sampai disebut pelakor."
Chana membuat gemas William. Dia berusaha untuk mengutarakan isi hatinya dan merangkai kata yang sangat sulit dia ucapkan, namun Chana menanggapinya dengan santai.
"Aku--"
Tok tok tok
William memejamkan mata kesal mendengar pintu diketuk karena itu tanda dari anak buahnya bahwa ada yang sedang mencari Chana.
"Pergilah."
"Kenapa?"
"Apa kamu masih ingin di sini?"
"Iya. Eh, enggak. Ya udah, awas tangannya." Chana menyingkirkan tangan William yang menghalangi tubuhnya
Tangan William masih di tempat yang sama.
"Ih, katanya pergi, kenapa masih dihalangi. Itu tadi yang ngetik pintu anak buah Om kan? Pasti istrinya nyariin."
"Keluarga kamu."
"Hah? Ya udah, awas! Celaka kalau sampai mereka tahu aku sedang bersama om-om, bisa-bisa dikira Daddy Sugar lagi."
William menarik tangannya agar Chana bisa keluar.
__ADS_1
Pria itu tersenyum miris.
"Apa? Daddy Sugar? Yang benar saja!"