Promise!

Promise!
Rubah kecil


__ADS_3

"Dengan berat hati saya memutuskan untuk melakukan pemberhentian karyawan sebanyak 30%. Perusahaan sedang tidak stabil, saya dan pihak direksi memutuskan untuk melakukan itu meski kami tahu ini sangat sulit untuk kalian. Jika perusahaan kembali bangkit, maka kami akan melakukan panggilan kerja kembali untuk kalian, tapi jika selama masa menunggu ada pekerjaan yang lebih baik, ambil saja. Sekian dari saya dan sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya."


"Gaji dan pesangon kalian akan dibayar penuh. Semoga kalian bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik."


Sakya dan anaknya Pak Sam berpamitan setelah melakukan pengumuman. Jika bisa, mungkin Sakya ingin menangis sekeras mungkin. Melihat wajah mereka yang bersedih, membuat dia merasa tidak becus sebagai pemimpin perusahaan.


Mereka percaya dan bergantung hidup padanya, namun inilah yang harus dia berikan pada karyawannya.


Berkali-kali Sakya memukul meja dengan tangannya hingga memar. Marah dan kesal entah pada siapa.


Pada dirinya yang tidak becus? Pada Chana yang menyebabkan semua ini terjadi? Pada rekan kerja dan investor yang mundur? Atau pada keadaan yang mustahil dia lawan Karana ini adalah takdir dari yang kuasa.


Iksia yang biasa dia ajak untuk berdiskusi pun tidak bisa diandalkan saat ini. Dia sedang tidak baik-baik saja dengan beban yang dia pikul saat ini. Jangan sampai dia kembali drop.


"Di mana?"


"Di sekolah, kenapa?"


"Aku kangen."


"Ya udah, kita ketemu setelah aku selesai sekolah. Jemput aku pukul satu siang."


"Aku ada di depan sekolah kamu saat ini."


Aya dan teman-temannya cekikikan pelan agar tidak didengar oleh Sakya.


"Ya udah tunggu ya sampai aku selesai sekolah, Sayang."


"Ok."


Panggilan berakhir.


"Gila! bucin banget dia sama kamu."


"Tentu dong. Hari ini aku akan meminta dia belanjain baju. Udah lama gak shoping."


"Halah! baju doang. Kalau dia benar-benar cinta, sih, no pin M-banking dia pasti dia kasih sama kamu."


"Gila aja, parah Lo!"

__ADS_1


Aya tersenyum licik mendengar masukan dari teman-temannya. Lantas dia berpikir mencari ide bagaimana agar bisa mengakses ponsel Sakya.


Sepulang sekolah, mereka pun pergi makan dan berbelanja sesuai permintaan Aya. Meski sedang banyak masalah, Sakya tetap menuruti apa maunya Aya.


Kesalahan Sakya tidak hanya satu. Selain dia yang baru pertama kali jatuh cinta, hingga membuat dia lupa segalanya, serta tidak tahu harus berbuat apa selain menuruti kekasihnya, kesalahan Sakya yang kedua adalah jatuh cinta pada wanita yang salah.


"Sayang, boleh pinjem hp kamu gak?"


"Buat apa?"


"Hp aku mati."


"Mau Selfi?"


"Bukan. Aku nebeng transfer dong. Lagi beli sesuatu."


Dengan mudahnya Sakya memberikan ponsel miliknya.


P


"No pin nya?"


Aya tersenyum mengejek. Baginya itu hal yang kekanak-kanakan dan sembrono.


Melihat nominal simpanan Sakya, Aya tersenyum sinis.


Cuma segini doang? Huh! Ternyata tidak sekaya yang aku pikir. Kalau begini, mending aku deketin William atau Ze.


"Udah?"


Aya segera mengangguk.


"Aku ganti nanti ya. Langsung aku transfer ke rekening kamu. Sini nomornya."


"Gak perlu."


Sakya tidak memperhatikan apa yang dilakukan Aya. Dia juga lupa mengecek berapa Aya mengambil uang darinya.


Banyaknya masalah yang sedang dia pikirkan membuat dia menjadi tidak memperhatikan hal-hal yang dianggapnya sepele.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa? Ada masalah?"


"Iya. Perusahaan ku hancur sekarang. Baru saja aku memecat beberapa karyawan dan itu membuat aku sakit. Sakit karena gagal menjamin kehidupan mereka. Aku teriak bisa membayangkan bagaimana keluarganya jika tulang punggung keluarga mereka tidak bekerja."


Oh, kere? Terus nasibku gimana dong?


"Jika bulan depan masih tidak ada kemajuan, mungkin rumah kami pun akan di sita. Jika itu terjadi, bagaimana dengan anak asuhanku dan panti jompo peninggalan opah?"


Sakya mengepalkan tangan. Dia marah pada dirinya sendiri. Merasa gagal menjaga segalanya, terutama menjaga amanah Papa Indra.


"Kamu jangan cemas. Kamu itu orang hebat, Sakya. Kamu pasti akan kembali berhasil. Mommy kamu pun wanita hebat, kalian pasti bisa melewati ini bersama."


Kalau aku, sih, ogah.


"Semua manusia pasti mendapatkan ujian. Berat atau tidak sudah diukur oleh tuhan."


"Makasih, ya, Sayang."


Sakya mengelus kepala Aya dengan lembut.


"Bagaimana kabar kembaran Chana sekarang?" tanya Sari.


"Sepertinya dia sedang terpuruk, Nyonya. Perusahaannya baru saja melakukan PHK masal."


"Malang sekali nasibnya. Dia laki-laki baik tapi terjebak sesuatu yang seharusnya tidak terjadi."


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Mulai melangkah saja. Pastikan kalau dia benar-benar berada di ujung jurang, lalu kita datang sebagai penolong. Hanya gebrakan saja supaya dia masuk ke dalam rencana kita."


"Baik, Nyonya."


"Rubah kecil itu?"


"Dia masih sama, Nyonya."


"Lucu sekali. Kita akan beri pelajaran sekaligus padanya nanti."


"Baik, Nyonya."

__ADS_1


__ADS_2