Promise!

Promise!
I love you


__ADS_3

Saat Chana pulang, dia melihat Tata sedang duduk menghadap televisi yang tidak menyala. Merasa aneh, Chana pun menghampiri kakak iparnya tersebut.


Tata segar menghapus air matanya saat Chana datang mendekat. Meski begitu, Chana tau jika Tata sedang menangis.


"Hai ... Wah, cantik sekali gaunnya. Habis dari mana?"


Chana menunjukkan jari manisnya. Ada sebuah cincin berlian melingkar di sana.



Tata yang sedang duduk pun langsung berdiri. Dia menghampiri Chana dengan wajah sumringah.


"Kamu ... dilamar William? Diterima? Ya ampun, Chana." Tata memeluk Chana penuh kebahagiaan.


"Akhirnya... aku seneng kalian akhirnya bersama. Kapan, kapan William akan melamar kamu secara resmi ke sini?"


"Dia bilang pekan depan."


"Yeeaaaay." Tata kembali memeluk Chana.


"Aku seneng banget, sumpah. Akhirnya setelah penantian panjang, William bisa mendapatkan kamu juga. Aku bahagia untuknya."


"Kak, ada apa?"


"Hmmm?"


"Aku lihat kok. Jadi jangan pura-pura lagi. Katakan apa yang tejadi?


Wajah bahagia Tata memudar. Dia membalikkan badan lalu duduk kembali di sofa.


Chana mengikuti.


"Kamu sudah resmi bertunangan dengan William, jangankan membantu perusahaan kalian, dia pasti akan memberikan seluruh harta yang dia miliki jika kamu memintanya."


Chana mendengarkan.


"Jadi ... jika aku berkisah dengan Sakya pun tidak akan ada masalah bukan?" tanyanya sambil menoleh dengan deraian air mata.


"Apa Sakya yang mengatakan ini?"


"Bukan. Ini hanya pendapatku saja."


"Kenapa?"


"Aku pikir tinggal bersama orang yang kita cintai akan bahagia meski dia tidak mencintai kita, tapi aku salah. Semakin aku berada di dekatnya, semakin aku tahu dengan jelas bahwa kita tidak ada dalam hatinya sedikitpun. Aku semakin bisa melihat betapa Sakya tidak menginginkan pernikahan ini."


"Jika dia tidak menginginkannya, seharusnya dia menolak sejak awal."


"Kita semua tahu aku ada di sini karena apa, bukan?"


"Aku harus bicara pada Sakya."


"Jangan Chana."


Chana tidak peduli, dia tetap naik tangga menuju kamar Sakya dan Tata.


"Kak, kita harus bicara, kamu --"


Chana tiba-tiba dikejutkan oleh pemandangan di kamar Sakya. Tidak ada yang aneh, di sana ada Sakya yang sedang tertidur pulas di atas kasur, tapi di sofa ada bantal dan juga selimut. Itu uang membuat Chana merasa heran.

__ADS_1


"Kak, bangun!"


Chana memukul pantat Sakya. Pria itu bergerak sambil bergumam.


"Ayo bangun!" Chana menarik selimutnya sampai Sakya bangun.


"Apa, sih?"


"Itu," Chana menunjukkan bantal di atas sofa.


"Itu apa? kenapa bantal dan selimutnya ada di atas sofa? Kamu tidur terpisah dengan Tata? Terus kamu yang enak-enak tidur di kasur, gitu?"


Sakya menggaruk kepalanya kesal.


"Terus aku harus gimana? Tidur satu ranjang? Gak mungkin lah."


"Kenapa gak mungkin? Kalian itu suami istri loh. Inget!"


"Aku dan Tata itu tidak seperti kamu dan William yang saling mencintai."


"Kalau begitu, akhiri saja pernikahan kalian. Kembalikan Tata pada Ibu Sari. Kamu pikir, dia akan terima jika tahu Tata diperlukan seperti ini? Enggak, Kak! Dan inget, meski aku dan William menikah nanti, aku tidak akan menjadi investor perusahaan keluarga kita."


"Kamu jangan hanya membela Tata, dong!" Sakya memulai menaikkan nada suaranya. Dia berdiri.


"Kamu juga harus melihat dari posisiku. Bagaimana aku hidup selama ini, tidur dengan orang asing yang tidak aku cintai itu rasanya sangat ... sangat menganggu."


"Tidak ada yang memaksa kamu untuk menerima tawaran Bu Sari. Bu Sari pun hanya memberikan tawaran tidak memaksa kamu untuk menerimanya. Kita, aku, Mom dan daddy pun tidak memaksa kamu, bahkan kamu melarang pernikahan ini, kamu inget kan?"


"Itu semua aku lakukan demi perusahaan."


"Menyelamatkan perusahaan, karyawan dan anak asuhan kamu dengan membuat Tata sengsara bukan hal yang benar!"


"Sakya! Dia adalah wanita yang kamu ambil alih tanggung jawabnya. Kebahagiaan, hidupnya, sehat dan sakitnya dia adalah tanggung jawab kamu. Kamu bersaksi di hadapan tuhan bukan? Jadi, jangan memakai dalih pernikahan bisnis untuk menzalimi istri kamu. Kalau memang tidak sanggup, ceraikan saja dia. Ayo, Kak. Tidur saja di kamarku." Chana menyeret tangan Tata menuju kamarnya.


"Bisa-bisanya ada laki-laki macam itu, kakak aku pula."


"Sudah, Chana. Jangan mengalahkan Sakya lagi. Yang ada dia akan semakin membenciku."


"Dia harus diberi pelajaran. Aku ingin sekali menjambaknya. Menyebalkan!"


Tata masih menangis setelah berada di kamar Chana. Tidak ada yang Chana lakukan selain memberi Tata waktu untuk dirinya sendiri.


Keesokan harinya, Tata tidak terlihat di meja makan.


"Tata mana?" tanya Arzhan.


Chana melirik Sakya yang berpura-pura tidak mendengar pertanyaan ayahnya.


"Heh, ditanya." Chana menendang kursi Sakya.


"Di kamar, Dad."


"Iya, tapi di kamar aku."


Sakya menoleh dan menatap Chana kesal.


"Kenapa?" tanya Iksia.


"Soalnya di kamar suaminya dia tidur di sofa, gak nyaman banget. Makanya aku ajak dia tidur di kamarku saja."

__ADS_1


Arzhan dan Iksia saling melirik.


"Non, jemputan sudah datang."


"Yeeey, aku pamit duluan ya. Bye, semuanya."


Chana berlari jingkrak-jingkrak seperti anak kecil saat menuju ke luar. Di sana sudah ada William yang menunggu.


Gadis itu melambaikan tangan pada calon suaminya.. William pun keluar dari mobilnya untuk menyambut Chana yang terlihat sangat bahagia. Dia melabuhkan tubuhnya di pelukan William.


"Bagaimana tidurnya, Sayang? Nyenyak?"


Chana menggelengkan kepala.


"Kenapa?"


"Kangen sama kamu soalnya," ujar Chana manja. Dia mendongakkan kepala untuk melihat wajah William.


"Aku pun." William mengecup kening Chana dengan gemas. Sementara Chana bergelayut manja dalam pelukan William.


"Aku bahagia karena bersama dengan orang yang mencintaiku dan aku cintai. Adakah yang lebih membahagiakan dari pada itu?" tanya Chana saat di dalam mobil. Dia menyandarkan kepalanya di bahu William. Tangan mereka saling menggenggam erat.


Sesekali William mengecup kepala Chana jika memungkinkan.


"Ada apa, Honey? Kenapa kamu berkata seperti itu?"


"Bukan apa-apa, aku hanya sedang mengutarakan perasanku saja kalau aku bahagia saat ini."


"Bagaimana kabar Tata? Apa dia baik-baik saja?"


"Enggak. Seperti dia sedang ada masalah dengan pernikahannya."


"Wajar, mereka menikah dengan pondasi yang rapuh. Tiang rumah tangga mereka hanya satu, entah akan kuat menopang sampai kapan."


"Perlakukan aku dengan baik, ya, jika kita sudah menikah."


"Tentu saja, Sayang. Aku janji."


"I love you, William."


"Love you to, Sweetie."


"Kalau kita bertemu, atau berpisah, pokoknya harus saling bilang cinta. Aku mau mendengar kata sesering mungkin. Mengerti?"


William tersenyum.


"I love you, Chana."


"I lovee you, William."


"Chana ... i love you."


Chana tertawa.


Tiba-tiba William menepikan mobilnya.


"Ada apa?" tanya Chana.


"Chana ... i love you, i love you, i love you, i love you, i love you, i love you." William terus mengatakan cinta pada Chana sambil mengecup beberapa kali di semua sudut wajah gadis itu. Chana tertawa dengan tingkah William.

__ADS_1


"I love you, i love you, i love you ...." William kini menggelitik Chana hingga gadis itu terpingkal-pingkal.


__ADS_2