
Chana menenangkan drinya di dalam toilet.Dia masih belum puasa menangis. Sesekali Chana membuang ingusnya begitu keras hingga menimbulkan suara.
Merasa cukup tenang, Chana segera keluar. Begitu membuka pintu, Chana terkejut melihat laki-laki yang ada tepat di depan pintu itu.
Chana terjengkang dan hampir saja jatuh ke lantai jika tidak segera ditarik oleh William. Kuatnya William menarik tangan Chana membuat tubuh Chana menghantam tubuh William. Kini mereka terlihat sedang berpelukan.
Untuk sesaat Chana terdiam karena dia merasa ... nyaman berada di dalam dekapan William meski terjadi secara tidak sengaja.
William menjauhkan tubuh Chana dengan lembut.
"Kenapa, sih, suka banget berasa di toilet cewek? Dasar tukang ngintip."
William tidak bereaksi.
"Ayo keluar sana. Apa masih menunggu mangsa lain untuk diintip?"
William masih diam sambil menatap Chana.
"Minggir." Chana mendorong bahu kanan William agar dia bisa pergi.
Namun, Chana mengentikan langkahnya saat tangan William menarik tangan Chana.
Mereka saling diam.
"Maaf," ucap Chana. "Waktu itu aku menampar kamu. Jujur, aku sangat marah dan bingung karena kondisi keluargaku sedang tidak baik-baik saja."
William kembali menarik tangan Chana hingga gadis itu mundur beberapa langkah dan akhirnya mereka saling berhadapan kembali.
"Kau tahu? Sakitnya berasa sampai sekarang."
Chana menelan ludah karena merasa takut dan juga merasa bersalah.
"Aku benar-benar minta maaf."
"Rasa sakit itu harus diobati bukan? Obati."
"Maksudnya?" tanya Chana gugup.
William tidak menjawab. Dia hanya menatap intens pada Chana hingga Chana tidak bisa berkutik karena merasa diancam meski hanya dengan sebuah tatapan.
Cup!
__ADS_1
Chana mencium pipi William yang pernah dia tampar.
William berusaha tenang meski dia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Chana.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya William.
"Hah? Bukanya kamu minta diobati?"
"Aku ingin mengajak kamu makan malam, bukan minta dicium."
Wajah Chana merah seperti seekor kepiting yang telah direbus.
"Aa, itu. Anu, emmm." Chana gelagapan.
"Aaarrrgh, sudahlah!" Chana menghentakkan kakinya lalu bergegas pergi.
Sialan! Kenapa dia tidak katakan saja langsung! Ya ampun, Chana! Kenapa juga kamu malah mencium dia segala coba? Duuuh, apa dia gak akan menilai aku sebagai wanita murahan? Main nyosor aja lagi aku. Ih, kenapa coba?
Chana memukul-mukul kepalanya. Gadis itu berjalan tanpa melihat ke arah depan, pikirannya melayang jauh.
Brukk!
Chana mendadak pelayan hotel yang sedang membawa gelas minuman, dia hendak keluar dari ballroom hotel yang sedang dipakai acara pesta kakaknya.
"Maaf, maaf, Mba. Saya tidak sengaja." Pelayan itu membungkuk pada Chana, setelah itu dia memungut pecahan gelas.
Chana merasa tidak enak hati karena dia sadar dialah yang salah.
"Ini salah saya, Mas." Chana menunduk dan ikut membesarkan pecahan gelas itu.
"Hentikan." William menarik Chana hingga gadis itu berhenti.
Dengan isyarat matanya, William memerintahkan anak buahnya untuk ikut membersihkan pecahan gelas itu menggantikan Chana.
"Tapi itu ..."
"Tangan kamu bisa terluka." William menggenggam tangan Chana.
"Lagi pula, mereka akan menggantikan kamu."
"Saya minta maaf," ucap Chana pada pelayan dan anak buah William. Karena dialah mereka harus melakukan itu saat ini.
__ADS_1
"Ayo masuk." William menarik tangan Chana masuk ke dalam ballroom.
Kedatangan Chana dan William yang saling menggenggam, menari perhatian orang-orang. Mereka berjalan menuju meja yang ada di depan panggung pelaminan, yang memang khusus disediakan untuk keluarga ini.
Sari tersenyum bahagia melihat anaknya dan Chana.
"Chana, gaun kamu kenapa basah?" tanya Ela.
William menoleh dan melihat gaun bagian depan Chana basah. Tanpa ragu, William segera melepaskan jas yang dia pakai untuk menutupi tubuh Chana.
"Gak apa-apa, kok. Nanti kamu bagaimana?" tanya Chana. William menggelengkan kepalanya pelan.
Mereka pun duduk.
Tingkah William dan Chana pun dilihat oleh orang tua dan Sakya.
"Andai saja Chana lebih melihat William dengan mata hatinya," ujar Tata.
Sakya menoleh.
"Mas, William beegitu tulus pada Chana, hanya saja Chana yang polos tidak bisa membaca perasaan William. Pun sebaliknya, William tidak bisa mengungkap dengan jelas apa yang dia rasakan untuk adik iparku."
Ela dan Chana terlihat sedang berbincang, saat tiba-tiba perut Chana berbunyi.
"Kamu laper?" tanya Ela.
Chana tersenyum. "Aku ambil makan dulu, ya."
"Tunggu saja di sini," ucap William sambil menggeser kursinya lalu berdiri dan pergi.
Tidak lama kemudian, dia datang membawakan makanan dan minuman untuk Chana.
Ela tertawa pada Chana saat melihat William membawakan makanan untuknya.
"Cieee, perhatian banget, sih, ayangnya." Ela berbisik menggoda Chana.
"Awww." Ela meringis saat sikut sahabatnya mengenai perut rampingnya.
Syukurlah ... sekarang tidak ada lagi halangan untuk mereka bersama. Aku akan menyingkirkan semua halangan itu jika ada. Batin Sari.
l
__ADS_1