Promise!

Promise!
Lika-liku kehidupan


__ADS_3

Hai, sebelumnya aku mau kasih tau kalau di episode kali ini akan ada hal-hal yang mungkin tidak enak dibaca, ya. Sebenarnya kemarin udah lama tayang tapi tidak di ACC karena mengandung kekerasan yang akan membuat kalian tidak nyaman.


Aku harus revisi ulang. Entah kalau masih terlalu mengerikan. Semoga saja masih bisa ditoleransi, ya.


Happy for reading, guys πŸ’œ


...🌺🌺🌺...


"Tidak! Jangan! Hentikan!"


Meski mata tertutup, Chana selalu berontak. Dia bersikap seolah dirinya masih disekap oleh pria itu.


Terlihat jelas bagaimana Chana berusaha melindungi dirinya, menendang dan menepis seakan ada yang mendekati dirinya.


Hal itu membuat orang tua Chana terluka. Mereka bisa membayangkan bagaimana takutnya Chana saat itu. Iksia berusaha menenangkan putrinya, memeluk sambil bersalawat agar Chana tenang.


Setelah merasa lelah, akhirnya Chana pun kembali diam.


William hanya bisa mendengar dari luar sambil memejamkan mata dan mengepalkan telapak tangan. Sikap Chana yang seperti itu setiap hari membuat dia benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kekasihnya.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana pujaan hatinya disiksa oleh pria gila itu.


William pun semakin kesal karena sudah tiga hari ini Raga dan anak buahnya tidak bisa dikabari. Mereka bilang bersama penjahat yang ingin sekali William bunuh.


"Apa masih belum ada kabar?" tanya William kepala Elizer. Dengan berat hati pria kekar itu menggelengkan kepala.


"Sudah tiga hari, ke mana saja mereka? Apa mungkin penjahatnya belum ditemukan? Siapa sebenarnya orang itu? apa dia psikopat? Atau dia punya dendam? Padaku? Atau pada Chana? Aaarghh, kepalaku sakit memikirkan ini semua."


"Tenang, Bos. Raga tidak mungkin sedang berleha-leha bukan?"


"Jika penjahat itu tertangkap, akan aku pastikan dia merasakan apa yang Chana alami saat ini. Aku bersumpah!"


"Jangan kotori tangan anda, Bos. Saya sendiri yang akan menghabisi orang itu."


William memijat pangkal hidungnya karena rasa sakit di kepalanya yang begitu hebat.


"William, masuk lah." Arzhan memanggil.


William segera masuk ke kamar Chana.


"Kami titip Chana sebentar. Iksia sepertinya drop. Saya akan membawa dia pulang ke rumah untuk istirahat sebentar."

__ADS_1


"Baiklah."


Arzhan sedikit memaksa istrinya untuk pergi. Bagaimanapun juga Iksia harus tetap kuat dan sehat mendampingi anaknya. Meski kita tahu tidak akan ada seorang ibu yang bisa tenang beristirahat dengan kondisi anaknya yang seperti sekarang.


"Saya titip Chana sama kamu. Tolong jaga dia baik-baik," ucap Iksia sambil menggenggam erat tangan William.


"Pasti," jawab William.


Setelah Arzhan dan Iksia pergi. William mendekati Chana yang masih tidak sadarkan diri.


Hari William teriris melihat kondisi Chana saat ini. Luka di wajah, rambut indah yang kini plontos, serta kesedihan yang begitu jelas terlihat di wajah cantik kekasihnya.


William duduk di kursi yang ada di samping ranjang Chana. Dia mengambil tangan kekasihnya lalu dia kecup. William menangis.


Elizer yang baru pertama kali melihat bos nya seperti itu pun merasa sedih. Berkali-kali dia menelpon anak buahnya agar berkerja lebih cepat lagi untuk mendapatkan Raga dan penjahat itu.


Hari ini, untuk pertama kalinya Chana membuka mata. Semua orang senang dan bahagia meski tatapan Chana begitu kosong.


"Sayang ... ini Daddy." Arzhan segera menghampiri anaknya. Chana merespon, dia menoleh pada Arzhan. Lama sekali Chana menatap Arzhan dengan tatapan hampa, namun selang beberapa menit tatapan itu berubah menjadi ketakutan luar biasa.


Chana berusaha melepaskan genggaman tangan Arzhan. Dia menjerit histeris sambil berteriak tidak.


Melihat hal itu, William segera menarik tubuh Arzhan. Di saat yang bersamaan Iksia yang pergi membeli makanan pun datang. Melihat Chana membuka mata, makanan yang dia bawa pun dijatuhkannya begitu saja.


William menarik tubuh Arzhan keluar dari kamar sementara Iksia berusaha menenangkan Chana.


"Lepas!" Arzhan menyingkirkan tangan William.


"Apa yang anda lakukan, Pak? Chana trauma melihat anda mendekatinya dengan paksa. Tidak bisakah anda lihat bagaimana dia ketakutan?"


"Saya ini ayahnya!"


"Tapi dia tidak sadar. Anda yang sadar kondisi Chana seharusnya bisa lebih bijak dan mengerti. Dokter sudah memperingatkan kita tentang hal ini. Jika anda masih tetap seperti ini, maka kesembuhan Chana akan semakin lama."


Arzhan duduk di lantai sambil sesenggukan. William ikut duduk untuk menenangkan calon ayah mertuanya.


"Saya pun sama terlukanya, Pak. Tapi bukan berarti kita memaksa Chana untuk menerima kita dengan cepat. Perlahan saja."


Tidak lama kemudian, anak buah Raga datang. Melihat orang itu, William langsung membara. Dia berdiri dan segera mendatangi pria tersebut.


"Ke mana saja kalian?" tanya William kesal.

__ADS_1


"Bos, lihat berita online."


William mengerutkan kening. Kemudian dia mengambil ponsel yang ada di saku celananya.


Di sana tertulis judulnya dengan 'Penemuan soso mayat laki-laki'.


"Ini?" tanya William memperlihatkan ponselnya pada anak buah Raga.


"Pak Raga sedang di kantor polisi untuk menyerahkan diri, Bos."


"Apa?"


Tidak ada yang bisa ditebak dari jalannya hidup manusia. Semuanya adalah misteri yang hanya pemiliknya yang tahu. Kadang kita dibuat terkejut, kadang juga menangis, lalu akan ada hari bahagia. Sebagai manusia, kita hanya harus menjalani dengan sebaik mungkin. Menerima hukuman dari apa yang kita perbuat. Baik ataupun buruk, semua ada balasannya.


Iksia menangis menatap satu-satunya keluarga yang dia miliki saat ini. Kesedihannya tidak dapat dia bendung melihat pamannya memakai seragam tahanan.


"Kenapa harus begini, Paman? Kenapa tidak serahkan saja penjahat itu pada polisi?"


"Hukum hanya akan membuat dia tidak bisa bergerak untuk waktu yang tidak lama. Sementara Chana? Dia akan menderita seumur hidupnya, Iksia. Rasanya tidak adil jika dia harus dihukum dengan masuk penjara saja."


"Tapi lihat sekarang apa yang terjadi? Pama masuk penjara karena membunuh orang."


"Aku akan bertaubat. Aku akan menerima hukumanku. Iksia ... titip anak dan istriku. Tolong jaga mereka."


Iksia semakin tidak bisa menahan kesedihannya saat teringat pada istri Raga dan anaknya yang masih sangat kecil.


"Harusnya serahkan saja mereka padaku. Kenapa harus bertindak sejauh ini sendiri," ucap William.


"Jika kamu yang berada di posisiku saat ini, bagaimana dengan Chana? Kalian dengarkanlah, aku begitu menyayangi Chana. Aku ingin memberikan apa yang tidak diberikan ayahnya," Raga ikut menitikkan air mata.


Nasi sudah menjadi bubur. Raga kini telah menjadi seorang narapidana karena telah melakukan penyiksaan hingga menyebabkan orang itu mati dengan tragis.


Di sekujur tubuhnya terdapat luka yang meski tidak sama persis tapi seimbang dengan luka yang Chana terima. Sayatan, robekan, hingga bekas rokok pun ada di tubuh penjahat itu.


Raga bahkan menyiram minyak panas pada ******** laki-laki bejad yang telah memperkosa Chana secara brutal.


Entah apa yang harus Iksia katakan, haruskah dia berterima kasih karena telah membalas dendam untuk Chana, ataukah dia harus bersedih dan memarahi Raga?


Posisi sulit yang kadang menguntungkan, atau keuntungan yang begitu menyulitkan?


Yang pasti Chana sebagai korban tidak akan bisa pulih untuk waktu yang lama, atau dia bahkan tidak akan bisa sembuh untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2