
Tertangkap basah, ingin menghindar tapi sudah terlambat. Mau tidak mau akhirnya William turun dari mobil. Menatap wanita yang selama ini ingin dia temui.
"Sejak berapa lama?" tanya Chana.
William tersenyum, lalu menundukkan kepala. Melihat sepatu yang jelas bukan itu tujuannya.
"Maaf."
Ucapan Chana membuat William mendongakkan kepala lalu menatapnya nanar.
"Aku bukan tidak ingin bertemu, hanya saja aku ... aku merasa kalau aku tidak layak dan malu bertemu." Chana berusaha tegar meski air matanya tidak bisa dia tahan.
Hati Chana teriris melihat William yang kini terlihat tidak rapi seperti dulu. Bukan tidak tahu, Chana sadar William seperti itu karena dirinya.
"Aku masih melihatmu seperti dulu. Tidak berubah dan tidak akan pernah berubah."
"Tapi aku yang tidak sanggup menahan semua bebannya. Aku ... aku sudah sangat hina."
"Keadaan yang memaksa bukan keinginan kamu sendiri. Tidak ada yang salah bagiku."
"Beb, tolong mengerti. Aku sudah sangat tersiksa dengan semua yang terjadi. Aku tidak ingin menderita karena melihat kamu seperti ini. Aku mohon mengerti dan pergilah."
"Sayang ...."
Chana membalikkan badan bersiap untuk kembali ke rumah. Namun, baru saja beberapa langkah, Chana terhenti karena William memeluknya dari belakang.
Chana syok. Dia membeku untuk sesaat. Bukan karena trauma tapi Chana merasakan ada yang berbeda. Jika selama ini setelah kejadian itu Chana merasa takut bersentuhan dengan laki-laki, kini Chana merasa nyaman.
"Aku tidak bisa, Sayang." William berbisik di telinga Chana. Memeluk wanita itu dengan erat seakan tidak ingin berpisah lagi.
Iksia hanya bisa diam menyaksikan semuanya. Dia ingin menghampiri takut anaknya ketakutan, tapi dia memilih untuk diam agar Chana bisa menyesuaikan diri dan tidak mengurung diri di rumah.
"Jika kamu meminta aku untuk menjauh, aku benar-benar tidak akan kembali. Aku akan pergi bukan hanya meninggalkan kamu tapi meninggalkan dunia ini. Aku mohon."
Chana masih terdiam.
William melepaskan pelukannya, dia berjalan ke hadapan Chana. Berlutut lalu memeluk kaki Chana. Meminta agar Chana bisa kembali padanya.
Tangisan Chana menjadi. Pun dengan William.
...***...
Dengan pendekatan yang halus dan secara perlahan, akhirnya Chana mau menerima William kembali. Kabar yang menggembirakan bagi keluarga besar kedua belah pihak.
Chana juga mengunjungi Raga yang kini mendekam di penjara.
"Saya sudah membalaskan apa yang Non alami. Non bisa hidup dengan tenang sekarang."
"Paman, bagaimana aku bisa tenang jika tahu kondisi paman saat ini."
Raga tersenyum.
"Ini hanya sebagian kecil penebusan dosa karena kakek kamu tidak pernah memberikan kasih sayangnya buat Mom."
Ikisa menggenggam erat tangan Raga.
__ADS_1
"Aku sama siapa nantinya kalau pergi ke mana-mana."
Raga tersenyum sambil menoleh pada William. Chana jelas tau apa yang raga maksud.
"Dia akan menjagamu lebih baik dariku, Chana."
Chana mengangguk.
Ada yang datang dan ada yang pergi. Kadang kita harus kehilangan sesuatu untuk mendapatkan satu hal yang lainnya. Terlalu serakah jika kita ingin mengambil semuanya. Bukankah Tuhan itu adil.
Dengan berat hati Chana kembali pulang dan meninggalkan Raga yang mendekam di penjara.
"Jangan sedih," ucap William sambil mengusap pipi kekasihnya. Chana dengan nyaman bersandar pada tangan William saat mereka kembali.
William tidak pernah melepaskan tangannya dari tangan Chana. Dia tidak ingin sedetik saja melepaskan tangan kekasihnya. Kelalaian karena sempat kehilangan Chana membuat dia semakin protek menjaga Chana.
Kini, bodyguard Chana pun bertambah. Selama 24 jam rumah Chana dijaga secara bergantian. Tidak ada yang boleh masuk ataupun keluar tanpa pemeriksaan terlebih dahulu.
"Mom, mana Tata? Aku baru sadar kalau dia tidak ada di rumah kita."
Iksia dan seluruh keluarga hanya diam. Chana melihat wajah keluarganya satu per satu.
"Sayang ... kamu ingin bertemu dengannya?" tanya William yang ikut sarapan pagi itu. Benar, setiap hari William bahkan datang untuk sarapan di rumah Chana. Menjaga Chana hingga malam hari, memastikan kekasihnya tidur. Setelah itu dia akan pulang lalu kembali pagi harinya.
Menikah? Sudah beberapa kali dibahas tapi Chana masih belum siap. Tidak ingin Chana terguncang lagi, keluarga pun hanya pasrah.
"Memangnya dia di mana, Beb?"
"Dia di rumahnya."
Chana langsung menoleh pada Sakya. Kembaran Chana pun hanya menundukkan kepala.
"Aku sudah beberapa kali memohon agar dia kembali, tapi dia menolak."
"Baguslah. Siapa juga yang mau tinggal dengan suami yang tidak mencintai dirinya."
"Tidak sekarang. Meski aku tidak tahu, tapi aku benar-benar merindukan dia."
"Penyesalan memang selalu datang terakhir. Hukuman yang paling menyakitkan. Rasain Lo!"
Chana menarik tangan William, laki-laki yang hendak memasukkan makanan itu pun langsung mengikuti kekasihnya.
"Mau ke mana, Sayang?"
"Ke rumah Tata."
William menggerakkan jari telunjuknya. Para bodyguard itu pun langsung bergerak mengikuti William dan Chana yang pergi menuju rumah Tata.
"Ini rumahnya?"
"Iya. Ayo turun."
Chana melihat sekeliling rumah Tata yang baginya rumah itu terlalu kecil.
Pintu pun terbuka saat William menekan bel beberapa kali. Seorang pelayan muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Siapa, Mba?" tanya seseorang dari dalam sana. Dia adalah Tata.
"Chana?"
Chana tersenyum.
Tata segera menghampiri Chana lalu memeluknya dengan erat. Tangis haru pun keluar dari mata Tata. Pun dengan Chana.
"Pulang, Kak. Aku kesepian di rumah." Chana berusaha membujuk saat mereka sudah duduk di sofa.
"Aku takut, Chana. Sakya belum sepenuhnya menerima aku. Di hatinya masih dipenuhi oleh wanita itu."
"Makanya kakak harus masuk perlahan lalu menyapu wanita itu di ruang hati Sakya. Kakak harus bisa mengusirnya dari hati Sakya."
"Tapi Chana ...."
"Aku akan bantu sebisanya. Pulang, ya?"
Tata menundukkan kepala.
Secara tidak sengaja Chana ikut menunduk mengikuti arah mata Tata.
"Kak?"
Tata menoleh.
"Perutnya ...."
Tata tersenyum sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Jelas terlihat karena selama ini tubuh Tata ramping. Dengan pakai yang saat ini dia pakai, sangat terlihat perbedaannya.
"Dia keponakan kamu."
Chana membelalak. Dia begitu senang mendengar berita ini.
Dengan berjingkrak ruang, Chana memeluk Tata. Dengan bujukan Chana, akhirnya Tata pun mau kembali pulang. Chana bahkan membantu Tata membereskan pakainya karena dia tidak ingin Tata capek.
Saat mereka keluar rumah, Tata terkejut melihat suaminya tengah berdiri di samping mobil.
"Chana kenapa ...."
"Kak, bawain dong!" Chana meminta Sakya membawakan tas pribadi Tata. Sakya melepas kacamatanya, lalu berjalan menuju Tata.
"Aku bantu bawa, Sayang."
Tata mengerutkan keningnya. Meski begitu, hatinya tidak bisa berbohong jika dia sangat bahagia.
Sakya menggenggam istrinya. Dia sangat menjaga Tata saat wanita yang tengah hamil muda itu turun dari tangga kecil di depan rumahnya.
Chana tersenyum melihat Sakya dan Tata. Dia sangat bahagia akhirnya Sakya mau menuruti ucapannya agar berbaikan dengan keadaan dan menerima Tata. Dengan begitu, dia pun mau menerima William.
"Kamu terima Tata, dan aku akan berusaha menerima William kembali. Gimana?"
"Oke."
"Promise?"
__ADS_1
"Ya, i'am promise."
Tidak ada yang bisa Sakya lakukan selain membuat janji pada Chana. Selain karena dia tidak tega pada William, Sakya juga ingin adiknya pulih dan kembali hidup normal.