
"Lebih baik kamu pikirkan kembali keinginan Bu Sari, Sakya. Mom tidak apa-apa jika kita harus bangkrut daripada mengorbankan kamu."
"Benar, Sakya. Daddy masih bisa menghidupi kalian dari galeri. Yaaa meski tidak sebesar penghasilan kalian, tapi insyaallah cukup. Asal kita mau hidup sederhana."
"Aku juga minta maaf pada kalian semua. Jika saja aku tidak dekat dengan Ze, mungkin skandal itu tidak akan terjadi. Semua ini salahku."
"Jelas ini salahku karena membawa Aya ke rumah kita."
"Sudahlah, bukan saatnya saling mengalahkan. Sekarang, kita hanya harus mengumpulkan uang untuk membayar gaji dan pesangon karyawan. Mungkin akan cukup jika kita menjual semua aset yang kita miliki. Sisanya kita beli rumah kecil saja dekat galeri Papa kalian."
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam."
Fateeh dan Khadijah datang.
"Apa kalian sudah tidak menganggap aku keluarga lagi?" tanyanya marah dengan mata berkaca-kaca.
"Dalam kondisi seperti ini kalian bahkan tidak mau berbagi kabar denganku. Apa aku benar-benar sudah tidak berharga lagi untuk kalian?"
"Tenang dulu, Fateeh."
"Tenang? Kak, jika bukan karena temanku yang ngomong, aku tidak akan tahu kalau perusahaan kalian bangkrut! Sakit, Kak. Aku harus tau kondisi keluargaku dari orang lain."
"Kenapa gak bilang sama aku, sih?" tanya Khadijah sambil memeluk Iksia.
"Maaf, kami hanya tidak ingin membawa kalian dalam kesusahan kami." Iksia menangis.
"Dek, aku ini masih kakak kamu. Apa pun kamu harus cerita, saat butuh mintalah tolong padaku. Saat lemah, genggam saja tanganku kuat-kuat. Aku pasti akan menarik kamu dari bahaya." Fateeh berlutut di hadapan Iksia yang sedang duduk.
__ADS_1
"Perusahaan tidak bisa ditolong lagi, Fateeh. Kita tidak punya cukup biaya untuk membangkitkan nya lagi. Rumah ini pun di sita pihak bank."
"Disita? Kalau begitu, kalian pindah saja ke rumah kami," ajak Khadijah.
"Iksia pasti tidak akan mau," ujar Fateeh. Iksia tersenyum pada kakaknya.
"Mungkin aku tidak bisa menolong perusahaan kalian, tapi aku mampu memberikan rumah untuk kalian. Di mana kalian ingin tinggal?"
"Dekat kantorku."
"Baik, aku akan mencarikan rumah di sana. Kalian jangan menolak jika masih menganggap aku sebagai sodara kalian. Tenang saja, menghidupi kalian ber empat bukanlah hal sulit untukku."
"Terimakasih, Kak."
Fateeh menepuk-nepuk punggung tangan Iksia.
"Jika jalan keluar satu-satunya hanya Bu Sari, aku akan mendekat padanya."
"Aku akan menerima tawarannya."
"Sakya, jangan ceroboh. Jangan bermain-main dengan hidup kamu. Mom gak setuju."
"Tidak ada jalan lain, Mom. Oke, Om Fateeh bisa menjamin kebutuhan kita. Tapi , bagaimana dengan tanggung jawabku pada amanah opah? Anak asuhku dan para jompo itu mau bagaimana? Pokonya, aku akan menerima tawaran Bu Sari, titik!"
"Sakya, tunggu."
"Kakak!"
Sakya tidak perduli. Dia pergi tanpa menghiraukan panggilan Iksia dan Chana.
__ADS_1
Dekorasi penuh bunga berwarna putih. Hiasan lampu kristal menambah mewahnya ruangan. Pada tamu yang hadir terlihat berbahagia. Ikisa dan Arzhan pun berusaha tersenyum pada tamu yang datang meski hatinya masih dilanda rasa cemas.
Sementara Chana hany diam menatap kembarannya yang tengah bersanding dengan wanita itu.
"Seharunya aku bahagia, bukan?" bisiknya pada diri sendiri. Chana berjalan ke atas panggung yang sedang ramai didatangi para tamu untuk memberikan selamat.
Chana menyerobot para tamu untuk mendekati kembarannya.
Dengan tangisan yang mengharukan, Chana memeluk erat Sakya. Semua tamu yang hadir pun ikut terbawa suasana.
Adik kakak itu menangis sambil berpelukan. Chana merasa tidak rela melepaskan Sakya pada pernikahan ini. Dia merasakan ketidak bahagiaan Sakya. Meski laki-laki itu terlihat tegas, namun Chana bisa merasakan apa yang ada di dalam hati Sakya.
"Aku minta maaf, Kak."
Sakya mengangguk pelan di atas pundak Chana.
"Aku cuma bisa berdoa agar kakak selalu bahagia. Maaf karena kakak harus menanggung semuanya sendiri. Jika bisa, aku akan menggantikan posisi kakak saja. Jika pernikahan bisa menyelamatkan keluarga, aku akan melakukannya juga biar kita berkorban sama-sama."
"Ssssst." Sakya mengurai pelukannya. Dia mengusap wajah Chana yang basah karena air mata.
"Kamu harus menikah dengan pria yang kamu cintai, oke. Kamu harus berbahagia, Dek. Cari laki-laki yang bisa menjaga kamu dan melindungi kamu. Laki-laki yang menghargai kamu lebih dari apapun. Maka aku akan bahagia."
Chana semakin keras menangis lalu kembali memeluk Sakya.
Iksia dan Arzhan menghampiri anak-anaknya dan ikut memeluk mereka.
"Sudah, kasian pada tamu." Arzhan menarik pelan tubuh Iksia dan Chana.
"Tolong jangan sakiti dia. Jangan sakiti hatinya, aku mohon," ucap Chana pada Tata yang kini menjadi kakak iparnya.
__ADS_1
"Tentu saja. Kamu jangan khawatir. Chana, jangan merasa kehilangan kembaran kamu, jika mau kamu bisa hidup bersama kami. Aku tidak akan mengambil dia darimu. Itu tidak akan mungkin dan tidak akan pernah bisa."
"Terimakasih," ucap Chana sambil memeluk Tata.