
Chana mulai berhenti perlahan. Dia tidak lagi meronta atau pun mengoceh. Itu menandakan pengaruh obat kuatnya mulai menghilang. Sementara pengaruh alkoholnya masih ada.
Pun dengan Sakya yang sejak tadi sudah bisa dikendalikan. Dia duduk selonjoran dengan tubuh bersandar pada tembok. Matanya terus menatap Chana yang terlihat menyedihkan.
Merasa Chana sudah mulai tenang, William melepaskan pelukannya. Perlahan dengan sangat hati-hati, William mengangkat tubuh Chana dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Dia juga menyelimuti tubuh Chana hingga menutupi hingga leher.
Hal tidak terduga terjadi. Tangan Chana degan cepat menarik leher William hingga Chana berhasil mencium bibirnya.
William yang terkejut hanya bisa diam untuk sesaat. Saat sadar, William segera melepaskan tangan Chana dan dia langsung berdiri.
Sementara di sisi lain, Sakya yang ikut kaget hanya bisa diam dengan mulut terbuka. Anak buah William langsung membalikkan badan saat adegan ciuman itu tejadi.
Suasananya menjadi sangat canggung.
"Sisanya silakan urus sendiri. Saya permisi."
William yang merasa tidak enak hati pada Sakya, memilih berpamitan pergi. Diam-diam Sakya mulai merasa takjub dan bangga pada William.
"Bagaimana dengan Ze, bos? Akan kita apakan bocah itu?"
"Untuk sementara biarkan saja dulu. Jika dia kita hajar, maka itu hanya akan menaikkan popularitas dirinya. Aku ingin membuat dia merasa malu dan tidak berani tampil di depan kamera lagi."
"Baik, Bos."
"Suruh Elizer berjaga di apartemen. Dan berikan uang ganti rugi pada pemilik club."
"Baik, Bos."
"Sudah lama sekali aku tida touring bersama teman-teman. Atur jadwalku untuk touring setelah ulang tahun ibu."
"Baik, Bos."
Sesampainya di rumah, William segera membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk tidur.
Kini dia sudah berada di atas kasur, menarik selimut lalu mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur.
Saat memejamkan mata, William kembali terjaga dengan mata lebih lebar dari sebelumnya.
"Astagaaa." Dia mendengkus kesal.
William membalikkan badan ke arah kanan, lalu dia kembali mencoba memejamkan mata. Akan tetapi bayangan rasa saat Chana mencium bibirnya kembali mengganggu.
Berkali-kali William mengubah posisi tidurnya dan hasilnya tetap saja sama.
"Dasar anak ayam sialan!" William geram. Dia meremas bantal dengan kuat karena kesal.
"Awas saja kalau sampai dia menjadi istriku, akan aku ... akan aku ... aaaarrghhh. Anak ayaaam!" William berteriak di dalam bantal.
"Tolong ambilkan wishky dan buah-buahan ke kamarku, segera!"
__ADS_1
Pelayan pun datang membawa pesanan tuannya.
"Siapkan air hangat di kolam renang."
"Baik, Tuan."
Para pelayan itu menyiapkan air hanya di kolam renang yang ada di kamarnya.
Dengan minuman dan berendam air hangat, William menjadi sedikit rileks. Lama semakin lama dia merasakan ngantuk yang tidak tertahankan.
Dia segera keluar dari kolam renang dengan memakai handuk, lalu tidur.
"Chana, sadar lah. Dek, ayo bangun. Kenapa kamu menjadi seperti ini? Harusnya kamu lebih mendengarkan apa yang Mom ucapakan. Jangan membantah lagi. Jangan biarkan Mom terluka lagi."
Sakya berbicara pada Chana yang kini terlelap.
Malam semakin larut hingga matahari kembali menyinari bumi. Sakya masih terjaga di samping adiknya.
Chana bergerak. Dia mulai sadar.
"Kenapa kepalaku sakit banget?" tanyanya sambil memijat kepala.
Perlahan dia membuka mata. Sadar dirinya berada di tempat asing, Chana langsung bangun. Dia menoleh ke sana kemari.
"Kakak?" tanyanya heran.
"Loh, kita ada di mana sekarang?"
Sakya masih tetap diam.
Tok tok tok
"Permisi, Tuan. Saya mau mengantarkan pakaian ganti untuk kalian berdua."
"Siapa dia, Kak? Ada di mana kita sekarang? Tunggu sebentar, kenapa aku mual."
"Kamar mandinya di sini, Nona."
Chana berlari menuju kamar mandi. Dia muntah di sana.
"Langsung aja mandi sekalian." Sakya berteriak.
"Tolong jaga adik saya. Katakan kalau saya ada urusan. Suruh dia ke rumah sakit Om Fateeh."
"Haruskah saya menelpon Tuan William?"
"Lakukan apa yang mau anda lakukan. Permisi."
Setelah merasa lega, Chana segera membersihkan diri dan berganti pakaian.
__ADS_1
"Kaka saya mana?" tanya Chana.
"Dia pergi, Nona."
"Kenapa saya ditinggal? Di mana saya sekarang? Kenapa saya ada di sini? Perasaan tadi malam saya sedang di club, dan ... ah, benar. Kalian anak buahnya Om William kan? Mana dia sekarang? apa ini apartemen miliknya?"
"Non lihat saja video ini."
Chana mengambil ponsel dengan wajah cemberut. Dia duduk di sofa sambil melihat isi video yang diberikan Elizer.
Wajah Chana memanas saat melihat isi video itu. Dia membuka mulutnya lebar-lebar karena syok.
"Kenapa kaget begitu?" tanya William yang sudah tiba di sana.
Ponsel itu terjatuh dari tangan Chana karena dia terkejut mendengar suara William, mungkin juga karena dia malu dan bingung tidak tahu harus berbuat apa.
William mengambil ponsel yang jatuh itu dari lantai.
Kini dia berdiri begitu dekat dengan Chana. Gadis itu terlihat begitu gugup.
"Ayo kita sarapan, setelah itu kita ke rumah sakit."
"Rumah sakit?"
"Bu Iksia masuk rumah sakit tadi malam. Kamu tidak tahu? Tentu saja tidak, orang yang dimabuk asmara akan dibutakan mata dan hatinya. Dunia hanya milik berdua, sisanya sewa."
Chana memalingkan wajahnya karena tidak tahan dengan tatapan tajam William.
Tidak ingin membuang waktu untuk sarapan, William memilih untuk membawa makanan dan sarapan di dalam mobil.
Sesampainya di rumah sakit, Chana langsung menangis dan meminta maaf pada ikisa yang sedang duduk hendak sarapan.
Chana menangis pilu menyesali apa yang dia perbuat. Terlebih dia merasa bahwa apa yang terjadi pada dirinya semalam adalah akibat dari tidak mendengarkan ucapan Iksia, ibunya .
"Sudah, Nak. Mom seneng kalau akhirnya kamu sadar dan menyesali semuanya," ucap Iksia sambil mengusap air mata yang jauh di kedua pipinya.
"I am sorry, Mom. Sorry."
Iksia memeluk anaknya dengan erat. Dia merasa senang karena akhirnya anaknya kembali padanya dan menyesali perbuatannya.
"Terimakasih sudah menjaga Iksia." Arzhan mengulurkan tangan. William menyambutnya.
"Sama-sama, Pak."
"Pak William, saya sangat berterima kasih karena telah menjaga Chana dan membawanya kemari," ucap Iksia. William mengangguk sambil tersenyum.
"Thanks," ucap Chana tulus.
"You welcome," jawab William dengan senyuman penuh arti. Ikisa dan Arzhan saking melempar senyum.
__ADS_1