
Chana semakin grogi dibuatnya saat Ze menghampirinya. Jantungnya berdegup begitu kencang. Wajahnya merona.
Ya ampun, dia nyamperin aku. Oh my God, aku harus apa sekarang?
"Halo, Bang."
Bang?
Tubuh Chana pun kembali ke tanah. Dia menoleh ke belakang di mana orang yang mengangkat tubuhnya berada.
"Lama tidak bertemu. Apa kabar?" tanya Ze pada William.
"Kalian saling kenal?" tanya Chana. Ze menoleh.
"Ini siapa?" tanya Ze pada William.
"Oh, dia hanya seekor anak ayam yang tersesat."
"Anak ayam? Gadis secantik aku dibilang anak ayam?"
"Bagaimana kalau kita ngobrol sebentar? Yaaa mumpung kita bertemu dan aku pun punya banyak waktu."
"Kita cari tempat makan saja, aku harus memberi anak ayam ini makanan."
Ze menoleh lagi pada Chana dan tertawa.
Akhirnya William memilih restoran yang tidak bisa dikunjungi orang sembarangan agar Ze tidak bisa disorot wartawan dan fans.
"Biasakah kita memesan makanan dengan cepat? Aku sudah sangat kelaparan by the way." Chana merengek dengan wajahnya yang imut seperti anak kecil yang memohon.
William yang baru saja duduk langsung menggerakkan jarinya, tidak lama setelah itu pelayan datang.
"Mau pesan apa?" tanya William pada Chana.
"Bawakan apa saja yang penting enak dan mengenyangkan. Oh, iya, satu lagi. Yang porsinya banyak."
"Di sini bukan warteg, kamu gak akan dapet makanan dengan porsi jumbo."
"Kalau begitu bawakan saja beberapa macam makanan supaya perutku kenyang."
Pelayan itu hanya diam karena bingung harus menyajikan makanan apa. Sadar apa yang dirasakan pelayan, William memesan semua menu yang ada di sana.
"Saya tidak ingin menunggu lama."
"Baik, Tuan."
Sambil menunggu makanan datang, Chana menyimpan dagunya di atas meja. Dia terlihat seperti anak anjing imut yang memang sedang lemas karena lapar. Itu membuat Ze merasa gemas melihatnya.
"Siapa nama kamu?" tanya Ze.
"Ze, sebenarnya aku ini fans beratmu. Hanya saja saat ini aku benar-benar kelaparan hingga tidak punya selera untuk berbicara denganmu. Benar-benar tidak pas. Padahal aku ingin minta tanda tangan dan berfoto denganmu. Sungguh, aku minta maaf."
Ze tertawa mendengar penuturan Chana.
"Kenapa kamu tidak makan?" tanya William.
"Ini semua gara-gara bocah yang mengaku sebagai istrinya kembaran aku. Dia menumpahkan soda di rambutku. Ini semua juga salah om, bukannya ngajak aku makan malah ngajak nyalon," ucap Chana lemas karena lapar.
"Rambut kamu terkena soda, kotor."
"Kotor dan bersih itu tidak penting jika dibandingkan dengan kebutuhan perut."
__ADS_1
Ze tertawa lagi.
Wajah lesu Chana berubah saat melihat makanan datang. Matanya membulat sempurna.
Chana langsung mengambil makanan yang pertama dia lihat, dia langsung menyantapnya tanpa memperdulikan tabel manner. Dia bahkan lupa mana makanan pembuka, utama dan penutup.
"Pelan-pelan nanti tersedak," ucap Ze.
"Ze, bagaimana dengan projek film kamu?"
"Syutingnya udah selesai, sih, kami tinggal melakukan promo aja. Mungkin nanti pekan depan tour kota buat promo ke bioskop-bioskop."
"Baguslah. Aku kesulitan menghubungi karena kamu terlalu sibuk."
Uhuk!
Perbincangan Ze dan William terhenti saat mendengar Chana batuk karena tersedak.
"Ini." Ze memberikan gelas air minumnya karena gelas itu yang paling dekat dengannya. Ze juga menepuk pelan pundaknya.
Tangan William yang sudah memegang gelas pun kembali melepaskannya. Dia kalah cepat oleh Ze.
"Hati-hati kalau makan." Ze menyeka bibir Chana dengan tangan kosong.
"Jangan gini, Ze. Aku grogi jadinya."
Ze tertawa mendengar ucapan jujur Chana.
"Sudah selesai makannya? Kayaknya banyak banget makanan yang kamu habiskan. Awas perutnya meledak."
"Ze, boleh minta foto?" tanya Chana penuh harap.
"Ayo."
Dengan semangat Chana segera mengambil ponsel miliknya. Namun, keceriaan itu hilang seketika saat melihat ponselnya mati.
"Pakai punyaku saja," ucap Ze yang lagi-lagi mengalahkan kecepatan William.
"Ya udah nanti kirim ke aku ya."
"Nomornya?"
"Sini aku masukin," Chana memasukkan nomornya. "Oh, iya. Namanya mau dikasih nama apa?"
"Terserah kamu aja."
"Aku kasih mama fans no 1."
Ze tersenyum.
Mereka pun berfoto bareng. Tidak hanya satu tapi banyak, bahkan melakukan gaya yang terlihat seperti sudah saling mengenal sejak lama. Ze bahkan tidak canggung merangkul Chana.
Chana yang memang menyukai Ze sejak lama pun tidak keberatan dengan itu, dia malah berbahagia.
"Cukup?" tanya Ze.
Chana mengangguk.
"Mau lihat hasilnya?"
"Iya, mau."
Chana dan Ze melihat hasil foto mereka. Layar ponsel yang kecil membuat Chana dan Ze harus begitu berdekatan untuk melihatnya berbarengan.
__ADS_1
Chana terlihat senang dan mengomentari beberapa pose dalam foto mereka. Ze yang baru pertama kali sedekat ini dengan fans dan orang baru merasa aneh.
Saat Chana fokus melihat layar ponsel, Ze sesekali mencuri pandang pada Chana.
Lesung pipi kecil di wajah Chana membuat Ze merasa senang melihatnya. Ze bahkan merasakan sesuatu yang lain saat anak rambut ikal Chana menyentuh pipinya beberapa kali.
Chana dan Ze asik dengan dunianya sendiri sampai mereka lupa ada seseorang yang sedang memperhatikan dengan dada bergemuruh.
"Aku pulang naik taksi aja."
"Seandainya tidak ada acara aku ingin mengantar kamu pulang," ucap Ze.
"Gak apa-apa, kok. Kamu pasti sibuk, pergi saja. Aku bisa naik taksi. Hati-hati, ya, Ze. Semoga semuanya berjalan lancar. Nanti aku akan nonton film kamu."
"Ya, terimakasih. Kalau begitu aku pamit, Bang."
"Hmm."
"Chana, nanti aku hubungi ya."
Mendengar ucapan Ze, wajah Chana memerah. Dia berjingkrak kecil karena senang.
Chana bahkan terus saja melambaikan tangan meski mobil Ze sudah tidak terlihat lagi.
"Ayo naik." William menarik tangan Chana agar masuk ke dalam mobilnya.
"Aku naik taksi aja."
"Ini sudah malam. Naiklah."
"Gak mauuuu." Chana menggoyangkan badannya ke kiri dan kanan. Kayaknya anak kecil.
"Kenapa?"
"Kalau kita bareng terus, aku harus menutup mata dan itu sangatlah tidak nyaman, Om."
"Kenapa harus menutup mata?"
"Karena Om itu ganteng banget. Aku takut suka nantinya dan--"
"Kamu akan kehilangan uang kamu? Dengan siapa kamu melakukan taruhan?"
"Kok Om tau?"
"Jawab saja."
"Dengan pengasuhku."
"Pengasuh? Sebesar ini masih punya pengasuh?" tanya William tidak percaya.
"Maksudnya dia itu pengasuhku sejak kecil, dan sekarang aku masih bergantung sama dia. Kami melakukan taruhan, jika aku kalah maka aku akan menyerahkan uang tabunganku sebesar lima ratus juta. Om, tau? Uang itu aku kumpulkan dari sisa jajan, bukan dari Dad atau Mom, apa lagi brother laknat itu."
"Kamu takut kalah?"
"Huum. Gak ikhlas aja rasanya ngasih uang sebesar itu. Kalau dia pensiun gimana? Nanti siapa yang akan jagain aku coba? Kalau malem-malem aku takut tidur sendiri siapa yang mau nemenin."
William mendekati Chana. Dia melangkah maju dan Chana melangkah mundur hingga tubuhnya terpojok ke mobil.
William mengunci tubuh Chana dengan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri.
Chana mengerjapkan mata beberapa kali. Wajahnya memanas dan nafasnya tersendat saat mata mereka saling menatap.
Gadis itu yang memang menyukai mata indah William, semakin larut saat bisa menatap mata itu dari dekat. Rasa takjub itu semakin kuat tumbuh dalam hatinya.
__ADS_1
Chana semakin kesulitan bernafas saat William semakin mendekatkan wajahnya. Chana memejamkan mata karena takut William melakukan sesuatu padanya.
"Aku akan mengganti uangmu, maka kalah lah." William berbisik tepat di telinga Chana. Bahkan gadis itu bisa merasakan panas nafas William.