
"Makasih, ya. Hati-hati di jalan." Chana melambaikan tangan pada Ze setelah dia mengantar Chana pulang.
Saat Chana hendak masuk melewati pintu gerbang, mobil Sakya datang. Di saat yang bersamaan sebuah mobil dari arah yang berlawanan tiba.
Kedua mobil itu saling berhadapan dengan lampu saling menyorot.
Dari luar terlihat jelas siapa yang ada di dalam mobil yang satunya.
Lampu mobil Sakya mati terlebih dahulu, dia mematikan mesin lalu turun mendekati Chana.
"Masuk sana."
William pun turun dari mobil. Chana menoleh lalu berjalan mendekati William, mengabaikan Sakya begitu saja.
"Om, ngapain ke sini? O, iya. Sekali lagi makasih gaunnya. Cantik banget, aku suka."
"Aku mengirim gaun itu bukan untuk dipakai ke acara Ze."
"Maaf, Om. Tadi pas mau pergi aku bingung mau pake apa. Ngeliat ada kotak gede banget, aku buka. Eh, ternyata isinya ini. Aku pikir ini dari Sakya. Aku kan ulang tahun hari ini. Eh, jangan-jangan Om kasih ini sebagai hadiah ulang tahun? Kok tahu ulang tahunku kapan."
"Chana, masuk dulu gih."
"Bentar, Kak. Hari ini aku kan ulang tahun. Aku kok belum dapet hadiah dari kamu. Aku malah udah nyimpen hadiah di dasbor kamu, udah ketemu belum?"
Sakya mengangguk.
"Punyaku mana? Masa kalah sama Om William, sih? Ze juga udah ngajak aku diner tadi sebagai hadiah ultah."
"Apa?" William kaget.
Chana menoleh.
"Iya, Om. Ternyata dia sengaja ngajak aku nonton karena tahu aku ulang tahun," ucap Chana antusias.
"Chana masuk! Sebentar lagi Mom datang. Masuklah."
"Ooops." Chana menutup mulutnya.
"Om, sampai nanti ya. Nanti aku telpon deh. Sekarang aku harus masuk dulu, takut dimarahin Mom. Dadah Om." Chana melambaikan tangan pada William.
"Kenapa harus Chana?" tanya Sakya pada William setelah Chana pergi.
"Kenapa harus Aya?"
"Maksudnya?"
"Pak Sakya, perasaan itu tidak bisa kita kendalikan akan diberikan pada siapa. Dia memilih atas kehendaknya sendiri."
"Tapi kenapa harus Chana, kenapa tidak wanita lain."
"Pak Sakya sendiri Kenap harus Aya yang masih anak-anak? Bukankah banyak wanita yang sudah cukup umur untuk diajak menikah."
"Itu beda."
"Sama. Posisi kita sama, Pak Sakya. Hati akan memberikan isyarat jika pemiliknya sudah datang."
"Tapi jujur, saya tidak suka anda mendekati adik saya."
"Lalu saya harus apa? Pergi?"
"Saya minta maaf."
"Kalau begitu, anda juga harus meninggalkan Aya."
__ADS_1
"Hubungannya apa?"
"Karena Chana tidak suka pada bocah ingusan itu."
"Bukan seperti itu, Pak."
"Pak Sakya, bagaimana kalau kita fokus pada jalan masing-masing? Saya akan menjanjikan satu hal pada anda."
Sakya diam menatap intens pada William.
"Saya tidak akan menyakiti Chana baik itu hati maupun fisiknya. Saya akan menjaga dia dengan baik."
"Saya--"
Ucapan Sakya terhenti saat mobil orang tuannya datang.
"Mba Galuh, aku mau susu dulu sebelum tidur."
"Saya akan ambilkan."
"Udah gak apa-apa saya aja. Mba Galuh tunggu aja di sini."
Dengan rambut acak-acakan dan memakai piyama tidur Winnie the Pooh, Chana turun menuju dapur.
Namun, langkah kakinya terhenti sebelum sampai dapur saat dia melihat sekilas seseorang di ruang tamu. Mereka sedang ngobrol dengan orang tua dan kembarannya.
Chana memastikan bahwa matanya tidak salah melihat dengan mendekati ruang tamu. Benar saja, William yang ada di sana.
Mata semua orang menatap pada Chana yang baru tiba dengan pakaian yang ....
"Nak, itu bajunya, ah."
Chana tidak perduli dan duduk di samping ayahnya.
Pelayan yang stand bye di ruang tamu pun langsung menghampiri Chana.
"Ambilkan susu hangat, ya. Saya sudah tidur soalnya."
"Baik, Non."
William hanya berusaha untuk tetap tenang dan tidak melihat Chana meski ingin.
"Kamu tadi ke mana aja, Nak?" tanya Arzhan pada Chana.
"Oh, aku habis nonton sama Ze, Dad."
"Ze?" tanya Iksia memastikan.
"He-em. Dia tahu hari ini aku ulang tahun, makanya dia ngajak aku nonton film dia sekalian promo. Habis itu kita dinner."
"Ze dia itu artis, pasti banyak fans perempuannya. Kamu gak takut nanti fans dia marah? Lagi pula Mom gak terlalu suka sama artis. Pergaulan mereka bikin Mom ragu."
"Mom belum tau aja gimana Ze, dia itu baik, Mom. Good attitude. Banyak banget berita tentang kebaikan dia. Gak pernah menyentuh perempuan sembarangan, selalu menundukkan kepala kalau ada cewek seksi ...."
"Dia itu punya management. Mereka mengatur semua gerak-gerik Ze, tentu saja dia bersikap baik karena harus menjaga image-nya."
"Aaah, Mommy ini. Baru aja aku deket sama cowok di dunia nyata, malah kayak gini. Ya udah aku cari lewat aplikasi lagi."
"Eheemm."
Iksia yang hendak bicara pun terhenti saat mendengar deheman dari William.
"Maaf, Pak William. Ibu dan anak ini memang tidak pernah akur sama sekali."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak. Justru terlihat jelas besarnya kasih sayang di antara mereka. Tidak ada jarak yang membuat mereka terlihat jauh dan canggung."
Arzhan tersenyum.
"Ya udah, Om William mau gak jadi menantu keluarga ini? Mom gak setuju aku deket sama artis. Om William kan pengusaha sama kayak Mom."
"Ee ... itu." Iksia gagap.
"Chana...." Sakya menatap tajam.
"Ya kan katanya gak boleh sama artis karena takut sama pergaulannya. Eh, tapi Om William kan sudah punya istri."
"Chana ...." Sakya kembali menatap Chana agar adiknya itu diam.
"Chana, saya belum menikah."
"Kenapa? Apa rumor itu benar kalau Om itu galak dan kasar pada perempuan? emmm, meski sebenarnya aku ragu akan hal itu."
"Sayang, jangan gak sopan kayak gitu, ah."
"Dad, mumpung ada orangnya langsung. Selama ini kita hanya mendengar rumor gak jelas. Ujungnya malah jadi fitnah, itu dosa tau, Dad. Iya 'kan, Mom?"
Iksia mendelik melihat kelakuan anaknya. Sementara Arzhan kembali meminta maaf atas kelakuan putrinya itu.
"Saat muda saya sama seperti Pak Sakya. Dunia saya hanya dipenuhi oleh pekerjaan tanpa memikirkan perempuan. Maklum, saya orang biasa yang ingin mendapatkan segalanya. Kalau tidak kerja keras, tidak mungkin saya seperti sekarang ini."
"Tuh 'kan. Makanya jangan percaya sama rumor." Chana menyindir kakaknya.
"Saya salut dengan usaha Pak William. Merangkak dari bawah hingga sukses dan menjadi pengusaha paling disegani adalah hal yang tidak mudah. Saya menjalankan perusahaan yang sudah jalan pun masih kewalahan," puji Iksia.
"Tapi jika melihat latar belakang Bu Iksia yang ... maaf sebelumnya, tidak sekolah, saya memuji kepintaran ibu mengelola perusahaan. Seorang wanita yang seharusnya lemah dan cengeng tapi ibu begitu kuat."
"Itu kenapa cengeng nya melirik ke sini?" gumam Chana kesal.
Arzhan tersenyum melihat anaknya.
"Sudah malam, saya pamit duluan." Sakya berpamitan pada semua yang ada di sana.
Dasar kecoa bunting! Gue tau, Lo nyindir William biar cepat pulang iya 'kan? Gerutu Chana dalam hati.
"Saya juga permisi dulu. Silakan Pak Arzhan sekeluarga beristirahat. Selamat malam."
"Oh, iya, iya, silakan. Pak William terima kasih sudah mampir ke rumah kami yang sederhana ini."
"Tapi saya merasa nyaman di sini, Pak." Arzhan melirik Chana.
"Saya benar-benar tersanjung. Jika ada waktu, saya mengundang bapak untuk makan malam kapan-kapan. Itu pun jika ada waktu luang."
"Saya selalu punya waktu luang, Pak. Silakan hubungi saya kapan pun, saya akan senang hati datang berkunjung."
Arzhan dan Iksia hanya diam heran mendengar ucapan William. Pengusaha sukses seperti dia, mana mungkin memiliki banyak waktu luang, pikirnya.
"Chana sepertinya memiliki kontak pribadi saya, silakan hubungi kapan saja."
"Ya?" Iksia dan Arzhan keheranan.
"Saya permisi, selamat malam."
Arzhan, Iksia dan Chana mengantar William sampai ke depan.
Begitu mobil William pergi, Iksia dan Arzhan menatap tajam anaknya. Meminta penjelasan tentang semuanya.
"He he he." Chana tersenyum getir.
__ADS_1