
"Ya ampun, pagi..hari sudah pagi. Aku kesiangan seperti nya. Rumah belum ku bersihkan." Sontak Burhan terbangun, kaget melihat dari bilik jendela, matahari sudah menyinari masuk dari celah celah gorden yang menutupi jendela kaca rumah nya.
Tak sabaran Burhan menunggu kedatangan sang pujaan nya. Tetapi karena bangun kesiangan Burhan belum sempat merapikan rumahnya.
"Gladuk..Gladuk." Burhan berlarian kalang kabut, bingung apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu. Mandi atau beres beres rumah dulu.
Rani, bak putri raja yang mau datang. Burhan menyiapkan segala nya, untuk menyambut kedatangan nya. Begitu spesial nya Rani bagi Burhan.
Di sisi lain, seperti biasanya Ibu Burhan kalau pagi berada di dapur. Menyiapkan segala bahan untuk jualan gado gado nya. Namun hari ini Ibu Burhan sangat bingung melihat tingkah anaknya, seperti anak kucing yang lagi bermain. Lari sana lari kesini.
"Han."
Ibu memanggil Burhan, yang penasaran melihat sikap anak nya.
"Kamu ini ada apa nak? kok kayak anak kucing yang lagi asyik main main. Lari sana lari kemari. Sampai pusing ibu mu melihat nya. Ada ada saja kamu hari ini." Ocehan ibu nya Burhan sambil sibuk mengulek bumbu gado gado.
"Anu Bu."
"Anu apa? Ngomong tuh yang benar benar. Tarik nafas dulu, perlahan lahan." Ibu sambil menaik turunkan tangan nya, membantu Burhan biar rilex.
"Rani Bu."
"Ya Rani, kenapa. Ada apa dengan Rani?"
"Rani mau maen kesini, Bu."
"O ala Han..Han. Tak kirain Rani kenapa napa. Bikin Ibu shock saja kamu." Sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil.
"Rani mau datang saja, seperti mau kedatangan putri raja. Ada ada saja tingkah anak ini. Mana jalan nya seperti gosokan baju. Pakai acara lari lari lagi, Aduhhh..lucu." Gumam ibu Burhan sambil menepuk dahinya.
"Ibu kayak nggak pernah muda aja." Ayah Burhan membela.
"Emang ayah gitu apa sama ibu. Kalau ibu datang, ayah biasa saja cuek. Kadang belum mandi." Cibir ibu.
"Adalah, itu kebetulan saja satu hari , apes nya kamu datang aku belum mandi. Sebelum belum nya aku dari subuh sudah nungguin kamu." Sahut ayah membela diri.
"Kok ,. Ayah ibu jadi berantem. Hihihi." Burhan tertawa pelan. Burhan sibuk mendengar kan ayah dan ibu nya saling sahut menyahut seperti orang yang lagi bertengkar. Sampai lupa kalau dia harus melakukan apa.
"Weeelee. Kok malah aku sibuk memperhatikan mereka. Pekerjaan ku terabaikan." Ujar Burhan sadar kalau masih banyak yang belum di kerjakan nya.
Burhan langsung menyelesaikan tugas kembali. Berhenti memperhatikan ayah dan ibu nya. Saking sibuk nya, Han tak terasa sudah mondar mandir memindahkan barang barang di ruangan tengah nya. Kesibukan Burhan yang mondar mandir memberhentikan ayah dan ibu nya adu mulut. Malah ayah dan ibu nya yang berbalik memperhatikan Burhan.
"Han..Han." Ibu nya menggeleng gelengkan kepalanya. Burhan juga karena sibuk nya lupa kalau dia belum sarapan.
"Han. Sarapan dulu nak." Kalau Rani mencintai mu, dia akan menerima kamu apa adanya sayang. Jangan terlalu sibuk dengan rumah. Tapi tunjukan lah kesuksesan mu Dimata orang tuanya Rani. Karena orang tua mana yang menginginkan anak gadis nya hidup susah. kamu harus jadi suami yang bertanggung jawab kelak. Jadi tunjukkan keberhasilan mu di luar.
"Iya Bu. Burhan paham. Burhan akan mencari kerja. Menunjukkan pada dunia. Burhan akan sukses kelak." Yakin Burhan.
__ADS_1
"Nah, itu baru anak ibu. Semangat ya sayang." Ibu Burhan dengan memberikan semangat.
Ruang tengah Han, sudah kelihatan rapi. Semua sudah beres.
"Seeettt." Burhan menarik handuk nya.
"Mandi dulu ah. Badan ku bau, mana mau lah Rani dekat aku. Hehehe." Burhan tertawa lucu.
"Nah, kalau itu pasti Rani nya nggak mau. Badan bau. jangan kan Rani, ibu aja nggak mau." Canda ibu.
"Tuh kan ibu ngeledek. Bukan nya di doakan anak nya di cintai Rani selamanya dan apa adanya." Ujar Burhan.
"Ya sayang. Mana lah ibu tidak mendoakan mu." Sahur ibu.
"Kreeeeeek." Suara pintu kamar mandi ditutup Burhan.
"Byur...byur...byur." Suara air dari dalam kamar mandi.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu depan ada yang mengetuk.
"Rani, Bu."
"Oh Rani cantik. Masuk sayang! Burhan nya lagi mandi, tunggu aja bentar." Ujar ibu Burhan, sambil menutup balik pintu selesai membuka kan Rani.
Rani pun mengambil tempat posisi yang sudah rapi dan bersih.
"Rani, mau minum apa sayang?" Tanya ibu Burhan.
"Teh aja Bu."
"Oh, teh ya. Tunggu saja di sini ya. Bentar lagi Burhan selesai kok.
"Ya, Bu." Rani menatap ke dinding dinding rumah Burhan. Terpampang photo photo keluarga Burhan.
Burhan adalah anak bungsu. Dia dua bersaudara, ada kakak nya perempuan. Namun kakak perempuan nya sudah tidak berada disini lagi. Kakak perempuan nya sudah menikah dengan orang luar negeri. Kakak perempuan nya sudah menjadi warga negara asing. Semenjak menikah kakak nya tidak ada Khabar lagi. Sudah 2 tahun menikah, kakak nya menghilang. Ibu dan ayah Burhan sering bersedih kalau ingat tentang kakaknya. Apa kakak nya masih hidup dan sehat, atau sudah tiada. Jangan kan telepon, pesan pun tak ada. Mereka juga tak tau bagaimana mencari Khabar tentang kakaknya. Ayah dan ibu Burhan pasrah saja, dan selalu berdoa semoga kakak nya sehat dan masih hidup.
"Nak. Ini teh nya di minum. Burhan belum selesai mandi nya ya?
"Belum Bu."
"Apa?"
__ADS_1
"Sabar ya sayang." Ibu nya Burhan mendekati Rani. Sambil menepuk nepuk bahu Rani.
Memang lama betul anak itu mandi." Aduh...." Tukas ibu Burhan, sambil menggeleng geleng kan kepala nya.
"Nggak apa apa Bu." Rani meyakinkan Ibu nya Burhan.
"Bu?" Sambil menatap ke photo di dinding.
"Iya sayang."
"Itu photo perempuan di sebelah Burhan. Siapa Bu? Kakak Burhan, ya Bu?" Tanya Rani penasaran.
"Iya, itu kakak perempuan Burhan."
"Mana kakaknya Bu? Kok nggak kelihatan. Rani menengok ke kanan dan ke kiri dan menatap kearah dapur.
Ibu Burhan tertunduk sedih. Terpancar kesedihan yang begitu mendalam di wajahnya. Tak mampu menjelaskan dengan kata kata.
"Maafin Rani ya Bu. Rani membuat ibu sedih."
"Tidak apa apa nak, wajar kamu bertanya." Ibu Burhan sambil mengelap air mata yang menetes di pipi nya.
"Ya udah Bu. Tidak usah di jawab. Maaf Rani tadi, sudah lancang bertanya." Rani pun merasa tidak enak dengan ibu nya Burhan.
"Iya Rani. Maafin ibu ya. Nanti Burhan saja yang menjelaskan. Ibu ke dapur dulu ya. Silahkan di minum teh nya." Ibu Burhan pergi meninggalkan Rani, sambil mengelap air mata nya. Ibu Burhan merasakan kerinduan yang mendalam dengan putri nya.
"Ya Allah. Aku sudah membuat Ibu nya Burhan bersedih." Bisik Rani dalam hati sambil mengelus dadanya.
Burhan pun muncul, terlihat sangat ganteng dengan gayanya yang berbalut baju kaos biru dan harum di sekujur tubuh nya.
B E R S A M B U N G
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah baca jangan like dan komennya ya. Simak juga novel ku sebelumnya * Dinding Pemisah*
Di tunggu
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Komentar, vote dan Hadiahnya!
n🌹THANKS🌹
__ADS_1
...****************...