
Saat Rani menunggu antrian berobat di rumah sakit. Handphone Rani berbunyi.
"Ring... Ring...Ring.," Bunyi ponsel Rani. Ia segera mengambil dari tasnya, dan melihat siapa yang telah menelpon nya. Ternyata Nita yang menelpon balik karena sebelum kejadian Bu Tini kena serempet motor, Rani memang mau menelpon Nita.
"Assalamualaikum Rani. Tadi kamu nelepon aku. Ada apa ya? Apa kamu sudah balik ke Jakarta?"
"Iya, Nita." Aku tadi mau tanya jadwal kita kuliah hari ini. Aku baru tiba hari ini, rencana mau kuliah. Tau nya waktu aku mau nelp kamu. Ada ribut ribut depan rumah aku. Aku lihat tau nya, ada ibu ibu yang keserempet motor. Rupanya ibu itu bukan nya malah di tolong malah di maki maki sama yang nyerempet dia. Aneh nggak laki laki itu. Malah dia marah dan nyuruh ibu itu tanggung jawab kaca spion motornya pecah. Siapa coba yang nggak marah Nit. Aku geram sekali sama laki laki itu. Mana bikin kesal lagi, setelah aku maki. Malah laki laki itu kabur. Kurang ajar nggak?"
"Waduh. Kurang ajar banget iya. Bukan nya tanggung jawab malah pakai acara kabur lagi." Nita ikut kesal mendengarnya.
"Itu, Nit. Maka nya aku kesal banget."
"Jadi sekarang kamu jadi nggak kuliahnya? Aku tunggu ya!"
"Maaf Nit, aku nambah lagi liburnya. Ibu tadi sekarang aku yang bawa dia berobat, kasian tubuhnya luka luka. Takutnya ada apa apa dengan dia."
"Rani.. Rani. Kamu memang baik hati. Orang yang berbuat kamu yang bertanggung jawab."
"Nggak apa apa Nit. Kita memang harus saling bantu kok. Untung bukan kita di posisi ibu tadi. Masalah kebaikan kita serahkan saja sama Allah. Begitu juga sebaliknya dengan pelakunya."
"Benar, Rani. Allah akan membalas kebaikan kamu."
"Aku titip catatan kuliah lagi hari ini ya."
"Aman."
"Makasih ya Nita. Udah ya! Ini aku lagi antri tunggu dokternya.
"Oke. Daaa."
Rani sedikit lega, karena sudah memberi kabar kepada Nita. Besok Rani baru bisa konsen kuliahnya.
"Bu Tini."Panggilan rumah sakit.
"Ayo Bu. Kita masuk. Nama ibu sudah di panggil " Ujar Nita sambil berjalan menuntun Bu Rani.
Rani langsung mengandeng Bu Tini, masuk ke ruangan dokter.
"Siang dok."
"Silahkan duduk. Ada keluhan apa?" Tanya dokter ke Rani.
"Ini dok. Ibu ini barusan abis di serempet motor depan rumah saya. Tubuhnya penuh luka luka. Takutnya ada luka dalam atau memar bagian tubuhnya."
Dokter langsung memeriksa Bu Tini, Bu Tini di baringkan. Seluruh tubuhnya di periksa dokter. Dan luka luka nya di bersihkan dan di beri obat dari dokter.
"Dari yang saya periksa tidak ada yang mengakibatkan fatal, mudah mudahan selesai di kasih obat dan minum obat dari saya. Cepat sembuh.
__ADS_1
"Terima kasih dok."
Rani dan Bu Tini sangat senang mendengar dari dokter, bahwa tidak ada masalah dengan kondisi Bu Tini. Tapi Bu Tini juga perlu urut tradisional. Karena pasti seluruh tubuh Bu Tini sakit, karena posisi di serempet terpental.
"Alhamdulillah Bu. Tinggal pulang ini Bu Tini perlu di urut juga. Ibu kan terpental juga di serempet laki laki tak bertanggung jawab itu."
"Tidak apa apa Nak. Allah akan membalas orang seperti itu. Begitu juga Nak Rani, Allah akan membalas kebaikan nak Rani."
"Iya Bu. Aamiin."
"Ibu bersyukur di pertemukan dengan Nak Rani. Hingga ibu di obati, sampai ibu bisa tinggal dan kerja di rumah nak Rani."
"Iya Bu. Itu balasan dari Allah, mungkin selama ini ibu juga sering berbuat baik pada orang. Maka Allah membalasnya melalui tangan Rani."
"Iya nak. Alhamdulillah kalau seperti itu. Ibu sangat bersyukur."
"Ayo kita pulang, Bu."
Rani kemudian memesan mobil, untuk kembali kerumahnya. Dengan perasaan tenang dan bahagia. Rani teringat kembali dengan Burhan. Sudah beberapa jam, Rani lupa lagi mengabari nya.
"Aduh. Kok bisa aku lupa lagi mengabari Burhan. Jangan sampai dia merajuk kembali." Suara Rani yang terdengar buat Bu Tini kaget, karena merasa bersalah lagi pada Burhan.
"Ada apa Rani?" Tanya Bu Tini yang kaget ketika mendengar suaranya.
"Nggak Bu. Aku cuma lupa mengabari seseorang, mungkin aku terlalu sibuk tadi."
"Iya Bu. Kita duduk di sana saja dulu ya Bu." Rani sambil menunjuk kearah kursi di dekat taman rumah sakit.
"Iya ayo." Bu Tini sambil melangkah perlahan jalan ke arah kursi yang di tunjuk Rani.
"Bisa kan Bu jalan, kalau tidak bisa Rani pinjam kursi roda saja dulu."
"Bisa nak." Bu Tini sambil melangkah pelan dan di tuntun Rani.
Setelah mereka sampai mereka duduk sebentar, Rani sambil mencoba menghubungi Burhan.
"Ring... Ring..Ring." Rani coba menghubungi Burhan. Burhan pun mengangkat telepon masuk dari Rani.
"Assalamualaikum sayang." Ujar Rani mendahului pembicaraan di telepon.
"Waalaikumsalam." Burhan menjawab biasa saja, dan tidak kelihatan merajuk lagi.
"Sayang. Maaf ya aku baru kasih kabar sama kamu."
"Nggak apa apa kok. Kamu kan lagi sibuk kuliah. Aku mengerti kok."
"Nggak Han. Aku hari ini belum masuk kuliah lagi."
__ADS_1
"Kok bisa? Jadi kamu kemana sayang kok baru sempat hubungi aku."
"Itu dia sayang, maka nya aku takut kalau kamu cemberut lagi. Maka nya aku coba hubungi kamu sekarang. Tapi nggak marah kan, aku mau cerita ini."
"Iya kalau alasan nya tepat. Nggaklah aku cemberut lagi. Coba kamu jelaskan. Aku dengar nih."
"Iya dengar ya. Tadi pas aku nyampe ke rumah. Rancana aku mau kuliah, aku lupa dengan mata kuliah hari ini. Terus sewaktu aku lagi nyari nyari catatan mata kuliah aku, sampai aku mau coba telepon Nita teman kuliah aku. Tiba tiba depan rumah ada yang ribut ribut. Aku jadi penasaran, lalu aku coba cari tau dengan keluar. Ada laki laki yang lagi marah sama ibu ibu. Padahal laki laki itu abis nyerempet ibu itu, bukan nya dia nolong dan tanggung jawab ibu itu. Malah ibu ibu itu di makinya, eh tau nggak sayang. Ibu itu malah di paksa di suruh mengganti spionnya yang pecah. Terlalu nggak?"
"Kurang ajar banget ya laki laki itu."
"Terus?"
"Terus aku kesal mendengarnya, malah aku balik maki dia."
"Ya Allah sayang. Kamu tidak di apa apakan sama laki laki itu, kan?"
"Tidak lah sayang. Tau nggak apa yang terjadi?"
"Apa sayang?"
"Laki laki itu kabur."
"Kurang ajar banget laki laki itu. Tidak bertanggung jawab. Ya udah sayang, yang penting kamu tidak di apa apakan laki laki brengsek itu."
"Iya sayang. Jadi ibu itu, sekarang ada bersama ku. Aku yang bawa nya berobat. Dan sekarang dia, aku ajak tinggal dengan aku di rumah. Semua uang dan semua isi tas ibu ini, di rampok sayang. Jadi ibu ini butuh pekerjaan. Makanya sekarang ibu ini akan bekerja di rumah sayang."
"Ya udah sayang. Yang penting kamu tetap waspada ya. Walaupun ibu ibu, kamu kan baru mengenal dia."
"Iya sayang. Ayah pun bilang demikian ke aku. Tapi ibu ini sepertinya memang orang baik baik."
"Pokoknya kamu tetap waspada ya."
"Oke. Makasih sayang ya. Kamu bisa mengerti. Aku merasa tenang, selain bisa membantu. Aku hari merasa senang kekasihku bisa menerima alasan ku.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jangan lupa di tunggu ya.
Like
Komen
Vote
Hadiah🌹🌹
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗
__ADS_1