
Plag..
Plag..
Plag..
Sebuah tamparan melayang ke wajah Burhan. Tamparan itu mengagetkan Burhan.
Lima jari membekas di pipi Burhan.
"Kau bawa kemana anak ku? Kurang ajar ya!" Teriakan keras seorang bapak yang tidak terlalu tua. Ternyata bapak itu ayah nya Rani. Ayah Rani terkenal saudagar yang bengis di desa Burhan.
"Maaf Om. Ta...ta..tadi Rani ku ajak ke pantai Om."
"Lancang sekali ya kau mengajak anak ku pergi. Awas kau lain kali membawa anak ku pergi. Jauhi anak ku!"
"Ayah. Bukan salah Burhan ayah. Aku yang mendesak Burhan untuk membawaku pergi ke pantai."
"Masuk..Masuk sana" Ketus ayah Rani.
Rani pun menurut takut dengan ayah nya. Wajah nya berbalik sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya. Air mata yang jatuh di pipi Rani meremukkan jantung Burhan. Ia tidak bisa berbuat apa apa.
"Maafin aku Han." Tangis Rani dalam hati.
Tak disangka kedekatan Rani dengan Burhan di tentang oleh ayah Rani. Entah apa alasan ayah Rani tidak menyukai Burhan. Ayah Rani pun tak tau tentang Burhan. Mungkin ayah Rani hanya sekedar khawatir dengan anak gadisnya yang di bawa laki laki seharian.
"Ayah jahat." Teriak Rani sambil lari ke kamar.
Ayah Rani tidak memperdulikan sikap anak nya bagaimana. Saat ini ayah nya tidak mau anak nya sampai lupa dengan kuliahnya. Apalagi kalau anak nya sudah mengenal cinta.
Rani mengunci diri nya di kamar. Dia sedih mengingat ayah nya telah menampar Burhan.
Burhan pun pulang dengan penuh rasa bersalah dan khawatir dengan kondisi Rani.
"Ayo sayang telpon aku. Kamu lagi apa?" Khawatir Burhan yang belum mendapat Khabar tentang Rani.
Burhan tidak marah dengan tamparan ayah Rani. Bagi Burhan wajar ayah nya khawatir. Ayah Rani pasti sayang sama Rani.
Dring
Dring
Dring
Suara telpon Burhan berbunyi. Tertera di telpon yang memanggil Rani sayangku.
"Rani." Burhan dengan senangnya mengangkat telpon Rani.
"Ya sayang. Kamu tidak apa apa. Apa ayahmu marah padamu."
"Kok malah kamu nanya balik ke aku Han. Kamu yang bagaimana, Maaf ya ayahku telah menamparmu."
"Santai sayang. Aku tidak apa apa kok. Ayahmu cuma khawatir kok dengan anak gadis nya. Putri satu satunya saudagar terkenal disini."
"Apaan sih Han. Kamu marah ya?"
"Nggak kok sayang."
"Maafin ayah ya!"
"Pasti dong sayang. Sebentar lagi kan dia bakal jadi ayah mertuaku."
"Hemmm. Mau nya?"
" Nggak mau ya!"
"Mau dong sayang." Balas Rani sambil bibir nya dikecapnya.
"Ya udah syukur kalau kamu tidak apa apa. Atau kamu di marahin lagi sama ayahmu."
"Nggak kok sayang. Ayah belum ada panggil aku lagi."
"Ya udah kamu istirahat ya. Aku kirim ciuman kening ya"muaah."
"Makasih sayang, Daaaa."
"Daaaa."
__ADS_1
Rani pun menutup telpon nya.
"Rani..Rani." Panggil ayah nya.
"Iya ayah."
"Sini."
"Kreeeeeekk." Aku mendekati ayah. Menarik kursi yang ada di dekat pintu dapur.
"Ada apa ayah?"
"Siapa pemuda tadi."
"Itu Burhan ayah."
"Dia siapa teman, atau pacar mu?"
"Sekarang dia sudah jadi pacar ku ayah."
"Tiidaaakkkk. Kamu tidak boleh pacaran. Kamu masih kuliah. Kamu harus punya pacar yang tajir sukses. Tidak seperti anak itu. Dia pasti pengangguran kan?"
"Ayah, maaf Burhan baru tamat sekolah. Dia mau mencari kerja."
"Tidak. Sekali ayah bilang tidak tetap tidak."
"Ayah, dia akan sukses kelak."
"Kapan? Nunggu ayah mu sudah tua, atau meninggal?"
"Doakan saja ayah, Burhan bisa sukses ke depan.".
"Ngapain ayah mendoakan nya. Dia siapa nya ayah. Anak bukan saudara bukan, keluarga pun bukan. Orang biasa semata. Pokok nya ayah tidak setuju kamu berhubungan dengan dia."
"Kok ayah seperti itu."
"Terus ayah mau bilang apa."
"Ingat ya, jangan berhubungan lagi dengan anak itu. Kecuali dia kaya dan sukses.".
"Ayah. Istighfar. Rejeki nasib dan jodoh ada di tangan Allah."
",Ayah, Burhan mampu kok sukses.
'Buktikan!"
Rani pun terus bersujud dan bersedih bercucuran air mata.
"Ayah tega, ayah jahat." Teriak Rani sambil lari keluar.
Ternyata ayahku memang matre. Ayah ku hanya menerima laki laki kaya. Yang tidak punya apa apa, ayah tidak akan memperdulikan nya.
"Ya Allah." Isak Rani sambil mengelap air mata nya.
Ayah Rani tak sedikit pun merasa iba melihat kesedihan anaknya.
"Hemmm. Di bilangin orang tua tidak mau dengar. Padahal ayah peduli sama kamu."
Tut...
Tut..
Tut..
"Han. Maafin ayah ku yah!"
"Tidak apa apa sayang. Aku paham kok ayah mu ingin yang terbaik untuk anak nya."
"Ya, tapi bukan begitu cara nya Han. Dia menghina mu."
"Iya Ran. Sudah lupakan lah. Aku tidak apa apa kok, itu membuat ku sadar, kalau aku harus semangat agar kelak bisa sukses."
"Untuk memperjuangkan cinta ku pada mu Rani. Aku harus sukses, kamu adalah semangat ku ke depan. Doa kan aku ya sayang!"
"Pasti sayang."
"Aamiin."
__ADS_1
"Jangan jadikan kata kata ayah mu sebuah hinaan, jadikan semangat untuk kita meraih kesuksesan sayang. Aku tidak tersinggung kok dengan kata kata ayahmu."
"Makasih sayang. Aku tadi nya merasa tidak enak, tapi sekarang aku lega."
"Ya udah sayang ya. Aku mau mandi dulu dan langsung istirahat."
"Oke deh sayang. Kamu juga istirahat ya."
"Daaa."
"Daaa."
"Hufff. Rani menghela nafas lega, ketika mendengar jawaban Burhan yang begitu bijak dalam menghadapi sikap ayah nya.
"Makasih sayang, sudah mengerti ayah ku." Gumam Rani dalam hati.
Perasaan sedih yang mengganjal hati Rani, sudah terobati mendengar ucapan Burhan. Rani sudah tenang.
"Mandi dulu ah," Rani menarik handuk yang ada di belakang pintu kamar nya. Membersihkan diri dari air laut. Memang mereka belum bilas air bersih dari pantai.
Dengan perasaan senang, Rani tidak lagi mengindahkan kata kata ayah nya tadi. Sekarang dia lebih mendengarkan Burhan yang memberi ketenangan bathin nya.
"Ran..Ran." Panggil ayah Rani.
"Hemmm. Mengapa lagi ayah memanggil ku, tidak puas apa ayah menghina Burhan." Gumam Rani dalam hatinya sedikit kesal dengan ayahnya.
"Ran..Ran. Dengar tidak ayah manggil."
"Iya ayah, ada apa?"
"Kamu ngapain di kamar mandi?"
"Iya mandi ayah. Masa tiduran."
"Hemmm. Cepatlah bantu ayah ke warung bentar."
"Iya bentar."
"Jangan lama."
Rani pun agak cepat mandi nya karena ayahnya sibuk memanggil.
"Apaan ayah ini. Orang lagi mandi. Sibuk betul."
"Hemm. Anak ini, orang tua minta tolong menggerutu saja."
"Ya abis ayah itu, tidak sabaran banget sih."
"Emang ayah manggil Rani tadi untuk ngapain?"
"Tolong beliin ayah rokok dulu."
"Ih ayah ini. Nggak bisa beli sendiri apa? Apalagi rokok malu dong Rani. Kenapa nggak suruh anak buah ayah saja membeli nya. Kok malah nyuruh Rani. Kalau nggak merepotkan anak nya sekali aja, bukan ayah Rani."
"Tuh kan tau. Anak ayah tuh harus nurut lho."
"Hemmm. Iya deh. Mana uang nya." Sambil menadahkan tangan nya Rani meminta uang buat beli rokok ke ayahnya.
Ayah Rani walaupun sedikit galak ke Rani, tapi memang ayah nya manja ke Rani. Apa saja minta Rani. Padahal anak buah ayah nya banyak. Pembantunya saja banyak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
B E R S A M B U N G
Lanjut simak novel ku "Dinding Pemisah" ya!
DI TUNGGU
LIKE
KOMEN
VOTE
HADIAH
🌹🌹 THANKS🌹🌹
__ADS_1
...****************...