
Setelah kepergian Rani. Burhan mulai merasakan kesepian, hari hari nya di liput perasaan galau ingin merantau kemana. Mulai mencari kerja, karena untuk melanjutkan ke bangku kuliah, Burhan tak punya kemampuan.
"Terbesit lah keinginan Burhan merantau ke negeri seberang. Dia membawa ijazah nya walau hanya dibekali tamatan SMA. Burhan tak berputus asa. Karena bagi nya rejeki sudah ada yang mengaturnya asal mau berusaha.
"Bu, Burhan mau merantau mencari kerja ya."
"Mau kemana nak."
"Kemana saja Bu. Yang penting di situ tempat Burhan mengais rejeki yang halal."
"Tapi kemana nak?" Ibu Burhan yang penuh ke khawatiran.
"Yang jelas ke negeri seberang Bu."
"Ke Jakarta?"
"Bukan Bu. Aku mau ke pulau Kalimantan saja."
"Di sana mau kerja apa nak."
"Belum tau Bu." Di sana PT banyak. Atau tidak di terima mungkin Burhan akan dagang saja Bu.
"Terlalu jauh nak kamu merantau nya."
"Iya tapi aku harus Bu."
"Ya sudah nak kalau begitu hati hati saja nanti di manapun dirimu berada. Jangan lupakan shalat lima waktu ya. Jaga kesehatanmu selalu. Itu pesan ibu." Ibu nya Burhan sekarang mendukung keinginan Burhan pergi merantau.
"Terima kasih Bu. Atas restu ibu. Doakan Burhan selalu ya Bu." Balas Burhan yang merasa senang, ibu nya mendukung.
"Kapan rencana mu mau berangkat."
" Besok lusa Bu. Aku mau menghubungi teman ku dulu yang ada di sana. Mengabari nya kalau aku mau menyusul nya ke sana." Jelas Burhan ke ibunya.
Ibu Burhan sedih bercampur bangga menatap anaknya yang gigih hati nya ingin mencari sampai ke negeri orang.
Setelah mendapatkan restu dari ibu dan ayahnya. Burhan mencari kabar teman nya yang ada di pulau Kalimantan. Untuk sementara dia ingin menumpang tinggal sesaat dengan temannya. Sebelum dia mendapatkan pekerjaan.
Tut..
Tut..
Tut.
"Halo Baim. Ini benar kan Baim."
__ADS_1
"Iya benar. Ini siapa ya?".
"Ini aku Burhan. Apa kabar bro!"
"Hai. Han. Waw sudah lama nggak dengar suaramu, udah beda ya. Hahahaha." Canda Baim kepada Burhan.
Baim adalah teman Burhan semasa kecil di kampungnya, Walau mereka tidak sama usia bangku sekolah tapi mereka akrab berteman di kampungnya. Baim memang beda 2 tahun sama Burhan. Kalau Burhan kelas 1 SMA, berati Baim kelas 3 SMA. Tapi mereka berteman layaknya teman sebangku. Mereka saling menghargai. Baim sekarang bekerja di sebuah perusahaan ternama di Pulau Kalimantan. Walaupun Baim sudah bekerja atau sudah agak mapan. Dia tetap rendah hati. Apa lagi dengan Burhan. Dia tidak berubah tetap menganggap Burhan teman baik di masa kecilnya.
",Apa kabar Baim. Lho masih kan di Kalimantan." Tanya Burhan yang berharap Baim tetap berada di sana. Karena Burhan ingin menyusul nya ke sana.
"Iya masihlah bro. Mau kemana lagi aku. Di sini lah tempat kerja ku. Sini susul aku disini." Ujar Baim menawarkan. Pucuk ditunggu Bulan pun tiba. Burhan langsung saja menjawab tawaran Baim.
"Iya Kawan. Aku mau nyusul lho. Bro. Bolehkan aku numpang di rumah mu, sebelum aku dapat pekerjaan." Timbal Burhan langsung berharap sahabat kecil nya menerimanya.
"Pastilah bro. Cepat kemari. Susul aku disini. Mau tinggal selamanya, nggak apa apa. Hehehe." Canda Baim
Baim memang suka sekali dengan Burhan bercanda. Kalau mereka dekat mereka suka bermain bersama. Burhan memang di sekelilingku teman teman yang baik padanya. Karena memang Burhan bisa membalas kebaikan teman nya walaupun bukan dengan uang tetapi dengan kepintaran dan perilakunya yang selalu suka membantu teman dalam kesusahan. Sekarang Baim pun ingat, Burhan dulu pernah membantu di saat dia lagi susah, makanya ketika Burhan menelpon nya Baim tak segan menawarkan apapun untuk Burhan.
"Oke. Besok lusa aku berangkat ya. Jemput aku ya di bandara." Pinta Burhan ke Baim agar bisa menjemput nya, karena Burhan mungkin buta akan wilayah tersebut. Karena ini yang pertama kalinya Burhan masuk ke negeri orang. Beda dengan Baim sekarang yang sudah keliling dunia dengan kesuksesannya. Tapi Baim sampai saat ini belum bertemu dengan tambatan hati. Sampai sekarang Baim masih sendiri.
"Oke. Kabari ya. Lho naik pesawat apa."
"Iya Kawan. Oke kalau begitu aku menyiapkan semua yang akan aku bawa ke sana ya. Sampai ketemu besok lusa ya." Ujar Burhan.
"Sipp. Sampai ketemu."
"Bu,...Ibu." Burhan langsung lari ketempat ibu nya berjualan gado gado.
",Ada apa sayang.Tampak nya kau berbahagia sekali." Tanya Ibu Burhan yang menatap wajah anaknya tampak bahagia.
"Iya Bu. Aku lagi senang sekali. Akuntasi nelpon Baim. Ibu masih ingat dengan Baim. Baim anak pak Chandra, Bu. Ingat kan?" Burhan sambil memegang bahu ibu nya.
"Baim..Baim. Oh Baim teman main mu yang dulu gemuk kayak orang China itu ya." Sahut ibu Burhan yang teringat lucunya Baim dulu di mata ibu Burhan.
"Iya betul. Ibu pintar sekali."
"Terus ada apa dengan Baim, nak." Tanya Ibu penasaran.
"Dia sekarang sudah sukses Bu. Dia mengajak aku sekarang tinggal ikut dia. Kebetulan dia belum menikah. Jadi aku numpang dulu sama dia Bu." Jelas Burhan dengan semangatnya.
"Alhamdulillah." Ibu Burhan langsung mengucap syukur untuk anaknya bahwa anak nya tidak akan terlantar di negeri orang.
"Ya Bu. Ini berkat doa ibu." Ulas Burhan yang penuh dengan syukur.
"Han. Kamu pamit juga ya sama ayah mu. Jangan sampai dia tak tahu tentang ini." Ujar Ibunya.
__ADS_1
"Iya Bu. Pasti lah Restu ayah dan ibu bagi Burhan penting." Balas Burhan.
"Iya sudah temui lah ayahmu."
"Ayah dimana Bu. Di dalam rumah nggak ada kok."
"Hmmm. Ayahmu pasti jalan jalan di sekitar tetangga. Biasalah ayah mu buat penat nya dirumah karena tidak ada kesibukan. Pasti mencari kesibukan." Ujar ibu Burhan yang tau biasa ayah Burhan kemana.
"Ya udah Bu. Burhan cari ayah dulu."
"Iya sayang."
Burhan pun berputar putar mencari ayah nya. Entah ayah berada dimana sekarang
"Ayah..ayah." Sambil berteriak Burhan berkeliling di desa nya. Tapi ia tak menemukan ayahnya.
"Duh, kemana sih ayah." Gumam Burhan yang sudah capek berkeliling mencari ayahnya.
Burhan balik lagi kearah ibunya dan bilang ke ibunya tidak bertemu dengan ayahnya.
"Bu, Ayah kemana ya. Kok tidak ketemu, aku sudah berkeliling di desa ini mencari ayah. Namun tak kunjung menemukannya."
"Kemana ya ayah." Ibu Burhan pun ikut bingung.
"Jangan jangan ada sesuatu sama ayah Bu."
"Hussst. Kamu ini apaan sih."
" Ya abis dimana mana ayah tidak ada Bu."
"Coba kau cari dirumah Han."
Burhan mendengarkan kata ibu nya dan mencoba mencari ayahnya dirumah.
B E R S A M B U N G
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah baca jangan like dan komennya ya. Simak juga novel ku sebelumnya * Dinding Pemisah*
Di tunggu
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Komentar, vote dan Hadiahnya!
__ADS_1
🌹THANKS🌹
...****************...