Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Memutuskan merantau


__ADS_3

Beberapa hari Rani dan Burhan terpisah. Burhan mulai terbesit, kalau dia mau berangkat.


"Aku harus merantau. Aku perlu kerja. Aku harus membahagiakan dua wanita dalam hidup ku. Yaitu ibu dan Rani." Suara hati Burhan mulai berkata kata.


"Tapi aku mau kemana ya. Apa benar aku harus berangkat ke Kalimantan. Iya aku lupa mengabari Baim kembali. Kemaren, aku bilang padanya lusa mau berangkat. Nyata nya sudah seminggu aku belum berangkat. Tapi Baim juga tidak menghubungi ku, jadi atau nggak nya aku. Apa dia menunggu aku, atau dia memang nunggu aku mengabari lagi. Aku akan coba hubungi dia kembali." Burhan sungguh bingung apa yang harus dia lakukan.


"Ring.. Ring."


"Iya halo. Burhan kamu kemana tidak mengabari ku jadi atau nggak. Aku menunggu kabar mu, pikir aku kamu tidak jadi berangkatnya atau sibuk masih" Baim banyak berbicara ketika mengangkat telpon Burhan. Karena tanya di hati sudah banyak tersimpan.


"Iya Baim. Maaf kemaren aku lupa mengabari mu. Memang sih aku masih sibuk, karena kekasih ku pulang. Maaf ya."


"Hemmm kamu ya, bucin banget sampai sampai berangkat aja bisa di tunda."


"Iya Baim. Namanya anak muda."


"Terus gimana kamu jadi berangkatnya."


"Iya ini rencana mau berangkat. Besok aku kabari ya. Kalau aku jadi beli tiket."


"Oke. Aku tunggu ya."


"Iya."


Burhan sedikit tenang, setidaknya dia disana ada teman. Walaupun Burhan belum tau, dia langsung mendapat pekerjaan. Atau Burhan masih pengangguran. Yang terpenting Burhan berusaha dulu. Burhan segera ngomong pada ibunya tentang rencana nya mau berangkat.


"Bu. Han jadi ya berangkat." Burhan mencoba bicara sama ibunya.


"Berangkat sayang terus Kamu disana tinggal sama siapa? Apa langsung bekerja kamu disana Han." Tanya ibu Han penuh harap.


"Doakan Han, Bu."


"Pasti sayang. Ibu akan selalu mendoakan mu. Karena ibu hanya punya kamu Han satu satunya."


"Ibu nggak apa apakan Han tinggal sendiri disini?"


"Nggak apa apa sayang."


Hati Burhan sebenarnya ragu untuk meninggalkan ibunya sendiri disini. Namun memang Burhan harus melangkah pergi.


"Berati besok Han sudah beli tiketnya Bu."


"Iya udah nak beli. Ibu masih ada kok tabungan."


"Maafin Han Bu. Han janji Han akan sukses disana."


"Aamiin."

__ADS_1


Setelah Burhan sudah berbicara dengan temannya, ibu nya. Sekarang Burhan tinggal mengabari Rani. Tentang rencana nya mau merantau ke Kalimantan.


"Aku harus kabari Rani juga sekarang." Bisik hati Burhan.


Burhan langsung mengambil ponselnya dan mencoba mengabari Rani.


"Ring... Ring... Ring." Burhan menghubungi Rani.


"Assalamualaikum Sayang."


"Waalaikumsalam. Belum tidur sayang."


"Belum. Kamu sendiri kenapa belum tidur."


"Tadi aku habis menelpon temanku di Kalimantan. Kemudian berbicara dulu sama ibu. Sekarang baru menelpon kamu."


"Memang nya ada apa sayang. Kamu jadi mau berangkat ke Kalimantan nya."


"Iya sayang. Makanya aku mau ijin sama kamu. Aku berangkat ya?"


"Iya sayang. Hati hati disana. Kamu yang penting jaga kesehatan. Jangan terlalu capek. Dan satu lagi kamu harus setia sama aku."


"Hemmm. Iya siap bos."


Rani tersenyum sendiri mendengar jawaban dari Burhan. Setidaknya jawaban Burhan membuat nya senang.


"Pasti sayang."


"Jadi sekarang kamu tidak sendiri lagi sayang. Aku sedikit lega meninggalkanmu. Walau kita jauh ada yang menjaga kamu."


"Makasih sayang kamu khawatir sama aku."


"Iyalah sayang kamu kan kekasihku. Tapi maaf aku belum bisa bahagiain kamu."


"Nggak apa apa sayang. Kamu kan sudah bahagiakan aku dengan memberi perhatian. Itu aja sudah sangat cukup kok."


"Ya udah sayang. Kamu sekarang istirahat ya. Besok kan mau kuliah. Udah banyak kamu ketinggalan mata kuliah."


"Ya sayang. Daaa. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Burhan mulai merebahkan tubuhnya ke kasur, untuk memastikan niatnya yang mau berangkat. Apa dia memang benar benar siap mengambil keputusannya.


"Aku memang harus berangkat. Aku harus mengejar masa depan. Demi kedua orang yang aku sayangi." Kata hati Burhan membulatkan tekad nya untuk meraih kesuksesannya.


"Han. Apa kamu sudah salat isya nak." Dari luar ibu Burhan mengingatkan nya.

__ADS_1


"Iya Bu." Burhan segera berdiri dan pergi ke belakang untuk mengambil wudhu, memang Burhan lupa kalau tadi dia belum shalat Isya. Karena setelah magrib, Han menghabiskan waktunya untuk membulatkan tekadnya, untuk meraih kesuksesan nya. Ke arah kebelakang Burhan di tegur ibunya.


"Lain kali jangan kebanyakan melamun ya sayang." Canda ibu sedikit kepada Burhan.


"Tidak Bu. Han tidak melamun kok, hanya menghubungi teman yang berada di Kalimantan Bu. Setelah itu, Burhan kan bicara sama ibu. Terus panjang cerita sama ibu. Burhan menelpon Rani Bu."


"Jadi gimana kabar temanmu yang ada di Kalimantan itu.Ia disana tinggal dengan siapa Han."


"Iya Bu. Burhan sudah menghubungi dia..Jawab nya dia menunggu, memang sebelumnya aku sudah bicara sama dia. Besok lusa aku berangkat. Tau nya aku sudah seminggu berada disini Bu. Dia ngontrak sendiri juga di sana Bu. Jadi aku untuk beberapa hari ikut dia dulu Bu."


"Iyalah sayang. Yang penting untuk beberapa hari kamu ada tempat berteduh. Ibu sangat lega mendengarnya."


"Tidak apa apa Bu. Han kan laki laki juga. Ibu jangan terlalu khawatir sama Han."


"Iya sayang. Tapi setidaknya untuk pertama, kamu sudah tau arah dan tujuan kamu."


"Iya. Alhamdulillah Bu."


"Ya udah shalat lah dulu sana. Habis itu baru kamu tidur. Istirahat."


"Ya Bu."


Burhan ke belakang. Mengambil wudhu. Dan setelah itu melaksanakan shalat isya. Selesai shalat Burhan berdoa kepada Allah semoga dia di beri kelancaran dalam mencari pekerjaan. Dan selalu di lindungi Allah dimana ia berada.


"Ya Allah ampunilah dosaku, Dosa kedua orang tua. Berilah umur yang panjang untuk ibuku. Dan semoga kelak aku bisa sukses dan bisa membahagiakan ibu ku. Aamiin Ya Rabbal Alamin. Dalam sujud Burhan berdoa kepada Allah.


Burhan kembali berbaring dari tempat tidurnya. Kemudian Burhan terlelap tidur. Tak terasa waktu berjalan hari sudah masuk subuh. Burhan pun segera terbangun. Untuk kembali melaksanakan shalat subuh. Seperti biasa, kalau ke arah belakang Burhan pasti mencari ibunya. Setidak nya sudah melihat ibunya, Burhan merasa sudah tenang. Karena Burhan sangat sayang sekali pada ibunya, dan tinggal satu satunya orang dalam keluarga dalam hidupnya, selain Rani kekasihnya.


"Ibu. Lagi apa?" Seperti biasa sapaan Burhan pada ibunya.


"Biasa sayang. Masak. Untuk sarapan dan persiapan ibu buat jualan."


"Iya Bu." Burhan sambil melewati ibunya untuk mengambil wudhu. Selesai berwudhu, Burhan kembali ke kamar dan melaksanakan ibadah.


Burhan memang anak yang taat pada agama. Sesibuk apapun Burhan tidak pernah meninggalkan shalatnya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jangan lupa di tunggu ya.


Like


Komen


Vote


Hadiah🌹🌹

__ADS_1


🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗


__ADS_2