Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Menghabiskan waktu bersama ibu di warung.


__ADS_3

Burhan sudah mempersiapkan semua keperluan yang akan di bawa besok. Dan mengabari Baim, Rani dan ibunya. Hari ini Burhan ingin menghabiskan waktunya bersama dan membantu ibunya. Karena Burhan akan lama berada dekat ibunya.


"Mudah mudahan ibu selalu sehat dan selalu di lindungi Allah SWT." Burhan berdoa dalam hatinya sambil melangkah mendekati ibu nya.


"Han..Han." Panggil ibunya sambil menatap anaknya yang. berjalan menuju kearahnya dengan melamun.


"Iya Bu. Ada apa?" Burhan kaget mendengar ibunya sedang memanggil dia.


"Kamu kok melamun sayang. Ada apa?" Ibu perhatikan ada yang kamu pikirkan." Tanya ibu Burhan yang tau akan kondisinya anaknya, mana lagi bahagia, mana lagi sedih.'


"Nggak Bu. Han tidak melamun kok."


"Terus kamu bengong sambil jalan kearah ibu. Ala itu tidak lagi melamun." Ujar ibu nya Burhan tau.


"Iya Bu. Han berdoa buat ibu, agar ibu dilindungi dan selalu diberi Allah kesehatan selalu. Jadi Han sambil berdoa sambil jalan kearah ibu. Makanya Han, nampak lagi melamun." Burhan menjelaskan pada ibunya.


"Oh begitu. Kirain kamu ada yang dipikirkan."


"Iya Han memikirkan ibu sendiri disini, nggak ada yang jaga. Kemana mana ibu sendiri."


"Nggak usah khawatir Han. Ibu bisa kok. Dulu ibu belum ada Han, ibu juga sendiri." Ujar ibu Burhan menenangkan hatinya.


"Iya itu beda Bu. Ibu masih muda kalau Han belum lahir."


"Kamu benar juga ya." Ibu Han sambil bercanda.


.


"Ibu, doakan Han ya!. Mudah mudahan Han cepat sukses dan bisa membawa ibu bersama Han disana."


"Nggaklah ibu hanya mau tinggal disini Han."


"Ibu."


"Ya sayang. Jangan khawatir kok. Ibu pasti baik baik saja kok."


Burhan memang dihadapkan dua pilihan, tapi setidaknya memang Burhan harus memilih. Memang dia sangat sayang pada ibunya tapi karir Burhan juga penting. Karena Burhan sudah dewasa, mungkin dia juga akan menikah dan menghidupi istri nya kelak.


Mendengar kata kata ibunya Burhan sedikit tenang, setidak benar kat ibunya. Ibu nya akan baik baik saja. Ibunya bukan wanita lemah. Ibu nya adalah wanita yang kuat dan mandiri di usia mudanya dulu.

__ADS_1


"Ibu benar. Aku harus percaya sama ibu, dan semangat berjuang. Karena ini masa depan ku." Suara hati Burhan mulai berbicara sendiri lagi.


"Tuh anak ibu bengong lagi. Jangan terlalu dipikirkan nak. Jalani aja kehidupan ini. Kalau kita ikhlas tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Kita tidak boleh melupakan kalau Allah maha segala, Allah akan. membantu umatnya disaat hamba Nya butuh pertolongan." Seru ibu Burhan yang tau anak nya saat ini lagi dilanda kegalauan.


"Iya Bu. Han tidak apa apa kok.".


"Han...Han ibu ini adalah ibumu yang melahirkan kamu dari kecil ibu hafal dengan sikap mu."


"Hemmm. Ibu." Wajah Burhan terlihat malu, karena dia percaya apa yang dikatakan ibunya. Ibunya mamang tau tentang dirinya, jadi tidak ada yang bisa di tutupi dari ibunya masalah sikap nya.


"Bu. Nggak ada yang Han bisa bantu sekarang. Atau ibu suruh beli apa, atau juga ibu suruh ambil sesuatu." Cara Han menghindari malu sama ibunya. Han mencoba mengalihkan pembicaraan dengan ibunya.


"Lagi nggak ada sayang. Semua nya udah lengkap. Tinggal nunggu pembelinya." Canda ibu yang membuat Han tersenyum kecil.


"Iya lah Bu. Kalau itu kita mesti sabar."


" Tuh anak ibu pintar. Jadi kita jadi manusia harus sabar dan ikhlas." Lagi lagi arah pembicaraan ibu kembali menyindir kesedihan anaknya.


"Iya Bu. Han akan selalu jadi anak yang pantang mundur. Semangat selalu. Dan akan berusaha selalu ikhlas apa yang sudah ditakdirkan Oleh Allah untuk Han." Jawab Burhan kepada ibunya.


"Bagus." Ibu Burhan sambil mengacungkan kedua tangannya.


Burhan menatap ibunya dengan penuh ketenangan. Ibu nya yang selalu ada dan membuat nya semangat.


"Sekarang istirahat, besok kan mau berangkat persiapan dirimu."


"Nggak apa apa Bu. Han mau dekat ibu, nggak apa apa kan Han ada di warung. Siapa tau ibu butuh sesuatu terus nyuruh Han."


"Hemmm." Ibu tersenyum mendengar ucapan Burhan.


Burhan duduk di dekat ibunya, mereka terus berbincang bincang, di sela pembicaraan mereka. ada banyak pembeli yang datang silih berganti. Memang gado gado buatan ibunya Burhan sudah cukup terkenal. Dan banyak yang senang membelinya karena selain enak, ibu Burhan juga ramah dengan pembelinya.


"Alhamdulilah Bu. Banyak yang menyukai gado gado ibu." Burhan bersyukur karena mendengar setiap pembelinya datang, memuji gado gado buatan ibunya.


"Alhamdulillah sayang. Memang dulu sebelum ibu menikah dengan ayah mu, ibu jualan gado gado. Nenek mu memang pintar membuat gado gado, jadi resep nenek menurun sama ibu, karena ibu sering membantu nenekmu." Cerita ibu Burhan mengenang masa remajanya, ketika ibunya belum mengenal ayahnya.


"Berati jualan gado gado ini sudah lama ibu bisa?"


"Iya sayang. Memang sudah lama. Ibu tidak jualan gado gado lagi. Semenjak ibu sudah menikah sama ayah. Ayah menyuruh ibu untuk berhenti jualan, ayah mu merasa cukup menghidupi ibu pada saat itu., Ayah mu memang sangat menyayangi ibu, dia tidak mau ibu terlalu capek.tapi pada saat kalian sudah besar. Kehidupan kita berubah, karena ayahmu terkenal PHk kemaren, makanya ayah mu mengijinkan ibu untuk berjualan membantu perekonomian. Maafkan ayah dan ibu ya nak. Kamu tidak bisa menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi." Ibu Burhan merasa bersalah karena sebagai orang tua, dia tidak bisa mewujudkan cita cita anaknya.

__ADS_1


"Mengapa ibu jadi menangis Bu?"


"Tidak apa apa sayang. Ibu hanya merindukan ayah."


"Kata ibu kita harus mengikhlaskan ayah. " Burhan berusaha membuat ibu nya kembali tersenyum.


"Iya nak. Ibu hanya rindu sama ayah. Bukan tidak mengikhlaskan." Ibu Burhan memberikan senyuman hangat padanya.


"Nah begitu, ibu kelihatan cantik."


"Kamu ini Han. Bisa saja membuat ibu jadi tersenyum."


"Anak siapa dulu?"


"Hemmm. Persis banget Han kamu seperti ayahmu, selalu menghibur ibu disaat sedih."


"Itu makanya Bu, Burhan sedih meninggalkan ibu. Tidak ada yang menghibur hati ibu kalau rindu sama ayah."


"Kan masih ada photo ayah, nak. Yang menemani bunda. Han juga, sering sering menelpon ibu ya."


"Pasti Bu. Ibu adalah segalanya bagi Han. Ibu penyemangat Han."


"Terimakasih nak."


Tak terasa selama Han berada di warung ibunya, dengan pembeli yang silih berganti datang. Gado gado ibunya Burhan sudah habis terjual.


"Habis Bu." Tanya Burhan karena melihat ibunya nampak sedang beres beres."


"Alhamdulillah sayang."


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jangan lupa di tunggu ya.


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Hadiah🌹🌹


🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗


__ADS_2