
Setelah seharian menemani ibunya di warung. Burhan kembali lagi mengecek barang barang yang akan dibawanya.
Selesai melaksanakan ibadah magrib, Burhan kembali mendekati ibunya untuk makan malam.
"Han, sudah shalat magribnya nak. Ayo kita makan!" Ajak ibunya.
"Iya Bu. Bentar lagi Han lagi ngecek. Ada yang tertinggal atau tidak yang mau Han bawa nantinya."
"Ibu tinggu di dapur ya."
"Baik Bu."
Burhan masih memeriksa semua barangnya, sementara ibu kembali ke dapur menyiapkan makan malam mereka. Selesai Burhan memeriksa semua yang dibutuhkannya sudah cukup. Burhan keluar kamar, menemui ibunya di dapur.
"Ayo makan Han."
"Iya Bu."
Burhan mengambil posisi duduk berhadapan dengan ibunya. Agar mereka lebih enak untuk berbicara.
"Jam berapa besok dari sini sayang. Pagi atau siang berangkatnya." Tanya ibu Burhan.
"Siang Bu."
"Syukurlah. Kalau siang."
"Emang ada apa Bu. kalau pagi?"
"Kalau pagi takutnya ibu dalam perjalanan kamu tidak sempat untuk makan siang. Biasa itu kalau sudah terlalu sibuk."
"Iya Bu. Tapi Han sempat makan dulu, jam 9, sarapan. Terus untuk makan siang Han bawa aja ya Bu. Atau kalau nggak Han bawa gado gado aja Bu. Nanti lama Han, tidak makan gado gado buatan ibu."
",Iya sayang. Nanti ibu bungkus kan gado gado..
"Makasih Bu."
"Sekarang kamu makan yang banyak ya."
"Iya Bu."
"Oh iya apa kabar Rani sayang? Ibu sudah lama tidak mendengar suara nya."
"Ibu mau berbicara sama Rani, bentar Bu ya. Han ambil ponsel sebentar."
"Ya sayang. Makan saja dulu. Nanti selesai kita makan baru kamu telepon Rani nya."
"Iya Bu."
Burhan semangat makan nya, karena selesai makan, Burhan mau menelpon kekasihnya. Dan juga Burhan mau menyampaikan sama Rani, ibunya juga mau berbicara.
"Pelan pelan sayang makannya, kok mendengar ibu menanyakan kamar Rani. Langsung saja kamu mau telpon. Makan aja buru buru. Santai saja!"
"Nggak Bu. Emang masakan ibu enak kok. Nanti lama Han tidak makan masakan ibu. Jadi malam ini Han benar benar Ingin menikmati masakan ibu."
"Kamu ini Han. Ada ada saja buat alasan. Pintar anak ibu kalau cari alasan."
__ADS_1
Burhan tersenyum malu. Walau bagaimana pun apa yang dikatakan ibunya kepada dia memang benar. Ibu Burhan dengan semua tingkah anaknya.
Setelah Burhan selesai menghabiskan makanan nya di piring. Burhan segera beranjak menuju ke kamarnya, untuk mengambil ponselnya.
Ibu Burhan tersenyum saja melangkah anaknya yang terlalu semangat menghubungi Rani. Sekalian meluapkan kerinduannya pada Rani.
Burhan mencoba menghubungi Rani
",Ring... Ring... Ring."
"Assalamualaikum sayang." Suara Rani mengangkat telpon Burhan.
"Waalaikumsalam juga sayang. Ini ada yang kangen sama kamu."
"Hemmm. Bisa aja kamu, masak sama aku kangennya satu hari full."
"Nggaklah sayang. Aku juga tau kesibukan kamu. Kuliahnya, atau lagi jalan sama teman kuliah.mu. Aku mengerti sayang. Masalahnya yang kangen ini beda?"
"Beda?" Rani menjadi penasaran.
"Iya beda. Yang kangen kali ini, ayo siapa tebak?"
"Ibu ya."
"Iya. kok kamu tau."
"Ya tau aja. Kamu disana kan cuma berdua sama ibu. Kalau tidak ibu ya siapa lagi."
"Iya sayang. Kamu benar sekali. Ini ibu." Burhan sambil menyerahkan ponselnya ke ibu.
"Wassalamu'alaikum. Sayang. Kamu sehat nak Rani disana."
"Sehat Bu."
"Kamu sudah tau Rani. Kalau besok Burhan berangkat."
"Iya Bu. Burhan sudah cerita kok. Semoga Burhan disana cepat mendapatkan pekerjaan ya Bu."
"Aamiin sayang. Mudah mudahan."
"Aamiin." Rani juga mengaminkan ucapan karena kalau Burhan memang cepat dapat pekerjaan setidak nya dalam hati Rani untuk hidup kedepannya akan sukses bersama Burhan.
Burhan adalah laki laki yang memang di pilih Rani dalam hidupnya. Rani juga berharap Burhan adalah jodoh nya yang akan di takdirkan kelak. Karena Burhan adalah tipe laki laki yang baik, penyayang dan bakal membawa nya ke surga.
"Rani, kalau kamu pulang atau libur kuliahnya main sama ibu ya. Walau tidak Burhan. Nanti kalau Burhan nggak ada, Rani nggak pernah datang lihat ibu." Ujar ibu Rani yang menginginkan Rani tetap ada melihat nya walau tidak anaknya yang di cintai Rani.
"Pasti lah Bu. Rani kan paling suka gado gado ibu. Jadi pasti Rani ke sana. Sebelum Rani suka sama Han. Ibu dulu kan yang Rani datangi."
"Iya. Kamu benar juga. Bisa aja kamu membuat ibu tersenyum." Ibu Burhan tersenyum sambil mengingat ucapan Rani memang benar, sebelum mendengar anaknya Burhan dengan Rani punya hubungan, Ibu sudah lama mengenal dan tau siapa Rani. Memang Ibu Burhan juga menyukai Rani, dalam hati ibu nya Burhan juga pernah terlintas, seandainya Rani jodoh anaknya Burhan, ia akan sangat bahagia.
"Rani kamu disana tinggal sama siapa nak?"
"Ini sama Bu Tini Bu."
"Siapa dia?" Masih bibi mu?" Tanya ibu Burhan penasaran.
__ADS_1
"Dia adalah orang yang kemaren kena serempet motor, depan rumah Rani Bu. Karena penuh luka luka, dan penabraknya kabur. Jadi, Rani bawa kerumah sakit terdekat. Kebetulan ibu mau kerja dan mencari tempat dia mau dimana bakal kerja, ternyata di perjalanan semua barangnya diambil perampok Bu. Jadi uang dan semuanya raib Bu." penjelasan Rani ke ibu Burhan.
"Jadi sekarang dia bekerja dan ikut di kontrakan kamu ya."
"Iya Bu. Rani pamit dengan ayah. Di bolehkan ayah Bu."
"Ya sudah. Tapi kamu harus tetap waspada ya."
"Iya Bu."
Setelah beberapa lama ibu Burhan dan Rani bercengkrama di telpon. Ibu Rani mengakhiri pembicaraan mereka.
"Sudah dulu ya sayang. Ini ibu kembalikan sama Burhan." Ibu menyerahkan ponselnya ke Burhan.
"Halo sayang. Udah kangen kangennya sama ibu. Ibu ternyata bisa juga kangen sama gadis bernama Rani, yang cantik baik hati ramah tamah dan tidak sombong. Wajar sih kalau anak nya juga kangen dan tergila gila kalau nggak mendengar suaranya." Puji Burhan kepada Rani.
"Apaan sih? Kamu bisa aja menyenangkan hati orang." Balas Rani dengan malu.
"Ya tapi benar kan, kenyataan nya ibu baru beberapa hari tidak ketemu kamu, langsung pengen ngobrol sama kamu. Katanya nanti lama mendengar suara Rani."
"Hemmm. Gombal."
"Bener kok. Mau nanya ini orang nya masih di sebelah aku kok." Burhan canda ke Rani.
"Nggak nggak. Jangan tambah buat aku malu sayang sama ibu."
"kenapa harus malu. Ibu ku akan ibumu juga kan. Mau kan nanti?"
"Iya sayang. Tapi udah ya. Aku jadi malu bener kok sama ibu. Tapi jujur aku senang mendengarnya."
"Alhamdulillah. Kalau kamu jadi senang. Tolong jaga ibuku ya, kalau kamu pulang kesini. Sekali kali kamu datang kesini, walau aku nggak ada disini."
"Siap sayang. Aku pasti lakukan, kan sudah aku bilang sama ibu. Sebelum aku menjadi kekasihmu. Aku juga sering datang untuk ibu. Walaupun alasan beli gado gado sih. Apalagi sekarang ibumu juga akan jadi ibu ku juga."
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Ya udah sayang. Met istirahat ya. Besok aku bangun aku kabari lagi."
"Iya sayang. Daaaa. Assalamualaikum." Rani menutup teleponnya.
"Waalaikumsalam."
Burhan kembali ke kamarnya untuk beristirahat tidur karena besok Burhan akan berangkat.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jangan lupa di tunggu ya.
Like
Komen
Vote
Hadiah🌹🌹
__ADS_1
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗