Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Pemakaman ayah Burhan


__ADS_3

Suara sirine mobil berbunyi kencang mengiring mobil yang mengantar ayah Burhan. Serta rumah sakit jaraknya yang agak jauh dari rumah Burhan membuat perjalanan terasa menyedihkan saat mendengar suara sirine mobil.


Sepanjang jalan Burhan hanya bisa menangis meratapi kepergian ayahnya, ibu Burhan merangkul Burhan dan memberi kekuatan untuk Burhan.


"Sudah sayang ikhlaskan ayahmu. Mari kita berdoa sepanjang jalan buat ayah."


"Iya Bu." Burhan pun mengangguk, sambil mengelap air mata di pipinya.


Setelah Burhan dan ibu nya sampai dari rumah sakit dengan mobil jenazah yang membawa mayat ayahnya, mereka sudah di sambut semua keluarga Burhan lainnya. Baik dari keluarga ayahnya dan juga keluarga dari ibu Burhan. Karena meninggal nya ayah Burhan sudah mereka kabar kan sebelumnya dari rumah sakit. Tak lupa teman teman dari Burhan pun datang menyambut nya.


Ayah Burhan adalah orang yang baik, jadi tetangga mereka sudah berdatangan dan menyambut kedatangan jenazah ayah Burhan.


"Sabar sayang" Semua keluarga Setiap memeluk Burhan memberi dukungan"


Burhan hanya mengangguk tanpa bisa mengeluarkan satu kata.


" Sabar bro." Tak lupa juga sahabat sahabat Burhan, Terutama Udin, Budi dan Anton datang memberi semangat dan dukungan kepada Burhan, sambil memeluk Burhan. Agar Burhan sabar dan tabah. Karena kita semua akan kembali kepada Sang Pencipta kita Allah SWT.


Ayah Burhan pun di baringkan di ruang tengah, agar yang datang bisa mendoakan almarhum sebelum Belian dimandikan dan dishalatkan. Burhan pun duduk di samping ayah nya Burhan sambil mendoakan ayahnya, sesekali Burhan meratapi kepergian ayahnya karena Burhan belum bisa membahagiakan ayahnya


"Ayaaaah." Sesekali Burhan meratapi kepergian ayahnya.


"Sabar nak. Doakan ayahmu agar tenang di sisi Allah SWT." Ibu sambil memeluk Burhan.


"Ayah."


"Sabar sayang."


"Aku belum bisa membahagiakan ayah, Bu."


"Iya sayang. kamu bisa membahagiakan ibu.berati kamu juga sudah bisa membahagiakan ayah nak." Ibu berusaha membuat Burhan merasa tenang.


"Ibu, kenapa ayah cepat meninggalkan kita Bu. Apalagi disaat aku belum bisa membahagiakan kalian berdua."


"Ayah yakin kamu bisa nak. Dia akan tersenyum di surga ketika tahu anak nya kelak sukses dan bisa membanggakan.


"Iya Bu." Burhan pun mengangguk tersenyum.


Setelah beberapa jam, shalat Dzuhur pun sudah berlalu dan silih berganti orang berdatangan telah mendoakan ayah Burhan, tiba waktunya untuk ayah Burhan dimandikan. Ayah Burhan akan dimakamkan abis shalat ashar.


"ini Han, ganti sarung, Han kan ikut mandikan ayah."


"Iya Bu."


Burhan langsung mengambil sarung dan siap siap ikut memandikan ayahnya, sampai ke peristirahatan ayahnya terakhir.


Tiba waktu nya ayah Burhan mulai diangkat, dan Burhan beserta saudara saudara ayahnya sudah siap menunggu di tempat pemandian ayahnya.

__ADS_1


"Ayah." Dalam hati Burhan ketika melihat wajah ayahnya dihadapannya, tepat posisi Burhan berada dikepala ayah nya memandikan ayahnya.


Burhan terus membasuh wajah ayahnya dengan perasaan sedih, karena hari ini terakhir Burhan bisa menyentuh dan melihat ayah nya secara nyata. Beserta lagi ayahnya akan pergi selama lamanya dari dunia.


Setelah ayahnya selesai dimandikan, dan saat nya ayah Burhan di Kafani. Burhan pun segera mandi, dan mengganti pakaian, karena.sebentar lagi akan ikut untuk menyolatkan ayahnya.


Ayah Burhan pun selesai di Kafani, tinggal muka ayahnya belum di tutup, Karena semua keluarga, terutama Burhan dan ibunya mencium ayah untuk yang terakhir kali. Tinggal kakak perempuan Burhan, yang tak tau sampai sekarang ada dimana, dan tak bertemu ayahnya untuk yang terakhir kalinya.


"Ayaaaaahhh." Tangisan Burhan terdengar pilu yang ke sekian kalinya. membuat yang menatap nya ikut mengeluarkan air mata, teman teman pun ikut merangkul Burhan.


"Sabar Bro."


Burhan pun menghapus air matanya, dan kembali menguatkan diri, karena ia menatap ibunya yang layu sedih di tinggal ayahnya. Burhan tidak ingin menambah kesedihan ayahnya.


"Pergilah ayah tenang lah disisi Allah SWT." pilu Burhan mengantar kepergian ayahnya.


Setelah semua keluarga mencium ayah Burhan untuk yang terakhir kalinya. Ayah Burhan mulai dimasukkan ke dalam keranda, dan akan dishalatkan di masjid yang tak jauh dari rumah Burhan.


Berbondong bondong keluarga, tetangga dan kerabat menuju ke masjid, Burhan dan teman temannya pun ikut shalat. Mereka mengambil barisan berdekatan.


Setelah ayah Burhan selesai di shalat kan. Sudah saat nya keluarga mengantar ke peristirahatan ayah Burhan terakhir kalinya. Ayah Burhan di naikan ke dalam mobil, karena tempat pemakaman agak sedikit jauh dari rumah Burhan. Burhan ikut mobil yang membawa ayahnya untuk dimakamkan. Sedangkan ibu dan keluarga yang lainnya ikut mobil yang lain.


Sampailah mereka ke pemakaman, galian makam ayah Burhan sudah siap, dan saat nya ayah Burhan di makamkan. Burhan pun ikut membantu mengangkat jenazah ayah di masukkan ke liang kubur. Setelah seharian Burhan merasakan pilu nya di tinggal ayahnya. Burhan pun berangsur angsur tegar, karena ia menatap masih ada ibunya yang membuat nya kuat dan harus di bahagiakan nya.


Setelah ayah Burhan sudah berada di peristirahatannya. Semua nya meninggalkan makam ayah Burhan.


"Iya Bu."


"Selamat tinggal ayah. Kami pulang." Pamit Burhan dalam hatinya.


"Han. bareng kita yuk." Ajak Udin sembari merangkul Burhan.


Burhan pun mengangguk. Mereka pun mengarah ke mobil Anton, untuk pulang mengantar Burhan.


"Terima kasih ya buat kalian semua."


"Iya Han. Kita kan sahabat. Kalau butuh apa apa jangan sungkan ya, Han." Jawab Anton.


Semua tersenyum menatap Burhan.


Burhan pun merasa senang, karena ia mendapat sahabat sahabat nya yang begitu baik untuk nya. Dan selalu ada di kala Burhan susah.


Di saat kesedihan Burhan yang terobati oleh teman temannya, tak lama Burhan mendapat telepon dari Rani.


"Assalamualaikum. Sore sayang."


"Waalaikumsalam. Sore juga sayang."

__ADS_1


"Han, kenapa suara kamu agak berat."


"Ayahku, Rani."


"Ayah kenapa Han?"


"Ayah telah meninggal dunia Ran."


"Innalilahi wainna ilaihi Raji'un. Turut berduka cita ya Han. Sabar ya sayang. Semangat kan masih ada ibu dan aku."


"Iya sayang. Terima kasih ya."


"Maaf ya Han. Aku baru tau. Jadi tak bisa menghadiri pemakaman ayahmu."


"Tidak apa apa, Ran. Aku maklumi, tidak ada yang memberi kabarmu. Aku pun sampai lupa mengajarimu, karena terlampau sedih."


"Iya Han. Aku pun maklum. Yang penting sekarang kamu kuat,sabar dan tetap semangat."


"Amiin."


"Aku pulang ya Han."


" Nggak usah Ran. Nanti apa alasan sama ayahmu."


"Tidak apa apa Han. Aku bisa kok memberi alasan yang tepat sama ayah."


"Iyalah, mudah - mudahan. Aamiin."


"Tunggu aku pulang ya. Daa. Assalammualaikum."


"Iya sayang. Waalaikumsalam."


Burhan mu sedikit tenang. Nampak di wajahnya sedikit berkurang kesedihannya, setelah mendengar suara Rani. Apalagi mendengar Rani akan pulang. Perasaan Burhan yang pilu tadi setidaknya berganti tenang. Walaupun tak dipungkiri kehilangan seorang ayah, seakan perahu hilang dayungnya. Tapi Rani mengembalikan semangat Burhan walaupun hanya sedikit. Rasa cinta Burhan yang begitu besar ke Rani yang mampu mengubahnya semua.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jangan lupa di tunggu ya.


Like


Komen


Vote


Hadiah🌹🌹


🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2