
Siang berlalu, rasa gelisah Burhan menunggu kabar kekasihnya pun tiada kunjung ada. Burhan mencoba mengirim pesan, dan sesekali Burhan mencoba menelpon Rani. Namun tak ada balasan dan Telpon tak diangkat.
"Mana ya Rani. Kok belum mengabari. Apa dia sibuk, apa dia lagi pergi bersama ayahnya. Atau ada sesuatu yang terjadi padanya."
Rasa gelisah berkecamuk di hati Burhan. Tak sabar menunggu kabar dari Rani.
Ring
Ring
Bertapa senang hati Burhan ketika menatap ponselnya, Rani yang memanggil.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.Sayang. Kamu kemana sayang kok nggak ada kbar dari pagi, wa ku tak kunjung dibalas balas. Kamu kemana sayang. Aku mengkhawatirkan mu."
"Aku pergi tadi sayang di ajak ayah. Tapi karena mau cepat cepat berangkat aku lupa membawa handphone."
"Kamu ya, jangan lagi seperti ini. Sungguh buat aku khawatir betul."
"Iya ya. Maaf ya sayang."
"Janji ya."
"iya."
.
"Entar kalau ayah jadi pergi kerumah teman, aku ijin pergi sama ayah. Jemput aku ya sayang."
"Siap."
"tapi nanti ya, tunggu ayah bilang jadi mau berangkat aku kabari lagi."
"Oke."
Disaat Rani lagi menelpon Burhan. Ayahnya memanggil.
"Rani .. Rani."
"Iya ayah, bentar."
"Han. Udah dulu ya, ayah panggil aku. Daa sayang."
"Daaa."
Rani menutup telpon dan segera keluar kamar menemui ayahnya.
"Iya ayah, tadi panggil Rani kan?"
"Iya. Nanti kalau ayah pergi jangan kemana mana ya."
"Ayah, tapi Rani mau pergi sebentar."
"Mau kemana?"
"Mau ke mall bentar ayah. Rani lupa ada yang mau Rani beli."
"Kenapa tadi pas sama ayah kamu nggak mampir ke mall."
"Maaf ayah tadi kelupaan. Habis yang mau di beli juga catatannya ada di handphone Rani. Kan Rani lupa bawa Hp."
"Kamu ini ya. Ya udah jangan lama lama ke mall nya."
"Iya ayah. Makasih ayah sayang."
"Udah ayah pergi dulu ya."
"Iya ayah. Hati hati."
"Anak ayah yang harus hati hati."
"Siap ayah."
__ADS_1
Rani begitu senang, ketika ia mendapat ijin ayahnya, terlepas Rani perginya sama Burhan. Minimal ayahnya mengijinkan Rani nya untuk pergi. Rani langsung mengambil handphone nya dan memberi kabar kepada Burhan
"Ring."
"Ring."
Handphone langsung berbunyi memanggil Burhan.
"Assalamualaikum. sayang."
"Waalaikumsalam."
"Sayang. Jemput aku ya. Ayah udah pergi sekarang. Tapi sebelum kerumah mu, antar aku ke mall bentar aku mau belanja dulu."
"Iya siap sayang. Emang kamu mau belanja apa. Emang di Jakarta nggak ada jualannya. Kan di sana paling banyak mall."
"Entar di sana aku kasih tau mau beli apa."
"oke deh. Jam berapa aku jemput."
"Lima menit lagi aja ya. Tunggu depan lorong."
"Daa sayang."
Rani langsung menutup handphone nya. Kemudian bersiap siap untuk pergi dengan Burhan.
Burhan pun tak sabar untuk menjemput Rani.
",Bu, Han pergi dulu ya, Han mau antar Rani ke mall bentar "
",Ya sayang. Hati hati ya."
Burhan langsung menghidupkan motornya dan berangkat. Ia pun sudah menunggu Rani di depan lorong. Tak lama Rani segera muncul dari lorong. Burhan pun begitu terpesona melihat keanggunan Rani seperti pertama kalinya Burhan menatapnya. Tanpa sadar Rani sudah berada tepat di depan matanya.
"Han. Hei Han."
"Eh Rani."
"Nggak ada kok. Aku hanya melihat bidadari yang turun dari kayangan aja Jadi membuat aku terpesona dan terdiam."
"Apaan sih. Gombalnya." Rani sambil tersenyum malu.
"Beneran kok.".
"Iya ya. Ayo jalan. Entar di lihat Pak Rahmat, aku naik apa. Tadi aja di tanya kenapa jalan. Aku jawab aja mobil nya nunggu di depan."
"Iya. Mobil pribadi. Maaf ya sayang aku cuma punya motor."
"Tuh kan mulai lagi ".
"Ya udah pegangan. Ntar kamu jatuh."
Burhan pun melajukan motor nya menuju mall yang dimaksud Rani tadi.
"Kamu mau belanja apa sih Rani."
"Udah ikut aja."
"Ini dari tadi udah ikut. Kalau nggak ikut siapa yang bawa motor nya ".
"Kamu ya."
Burhan dan Rani sangat merasa bahagia. Karena saling bersenda gurau dan bercanda bahagia. Cuma esok mereka akan berpisah lagi. Rani pulang ke Jakarta untuk kuliah dan sebentar lagi Burhan akan pergi merantau jauh. Entah kapan mereka akan bersama sama lagi. Mungkin mereka akan bercanda cuma dari kejauhan. Hanya melalui ponsel.
"Ran. Jaga diri dan jaga hati ya. Kalau kita sudah jauh lagi."
"Pasti sayang. Aku akan selalu berdoa buat kita selamanya dan akan bersatu tak terpisahkan lagi "
"Aamiin."
Burhan dengan rasa tenang mendengar jawaban Rani. Dia percaya Rani bisa menjaga hati dan cintanya untuk Burhan. Tak terasa perjalanan ke mall sudah sampai.
"Rani. Kita ke sini kan. Barang yang mau kamu cari ada kan di sini ".
__ADS_1
"Ada sayang."
Burhan pun memarkirkan motornya masuk parkiran mall Setelah turun dari motor. Burhan langsung mengandeng tangan Rani.
",Ayo sayang. Emang apa sih yang kamu cari."
"Besok kan ayah ulang tahun aku mau belikan sesuatu."
"Oh gitu. Kenapa nggak bilang dari tadi."
"Hemmm. Kan aku juga bingung mau belikan ayah apa. Makanya aku mau cari sesuatu sama kamu. Baiknya ayah di belikan apa ya?"
",Ayah mu hobi nya apa sih."
" Setau ku ayah hobi nya mancing. Tapi nggak usah di belike stik pancing. Kalau ayah udah ingat mancing lagi. Ayah lupa segalanya bahkan kesehatan ayah lupa."
"Jadi rencana kamu mau belikan ayah kamu apa, Rani."
"Rancana aku mau belikan ayah jam tangan aja sih. Jam ayah nggak ada lagi. Jam nya udah terjatuh sewaktu ayah pergi mancing."
"Ya udah ayo kita cari."
Rani dan Burhan pun masuk ke toko jam. Dan mulai mencarikan ayah nya jam yang baru. Pas di tengah jalan menuju ke toko jam. Burhan memberikan langkahnya.
"Ada apa Han. Kok kamu stop."
"Maaf ya Ran. Aku boleh kasih pendapat."
"Apa Han?"
"Tapi maaf ya Ran. Kalau ini tidak sependapat dengan mu."
"Ya nggak apa apa Han. Kalau memang bisa masuk akal. Aku terima kok."
"Bagaimana kalau nggak masuk bagi kamu."
"Ya apa dulu Han. Aku kan belum tau apa yang akan kamu sampaikan."
"Begini Ran. Kalau pendapatku. Nggak usah kamu belikan Jam. Karena maaf ya. Jam itu biaya nya mahal. Kamu membeli jam itu juga menggunakan uang ayahmu. Walaupun memang benar niat kamu. Tapi tetap uang ayahmu. Mending kita membuat sesuatu bagi ayahmu berkesan. dan dia bisa mengingatnya selalu dan menghargainya. Tanpa menghabiskan uangnya."
"Benar Han. Pendapat kamu. Tapi Apa Han itu. Aku nggak kepikiran apa yang bisa aku berikan untuk ayah
"Kamu kan pintar melukis, Kamu lukis aja wajah ayahmu, Dan di belakang di tambah seorang anaknya yang lagi sujud dan mencium tangan ayahnya."
"Kamu benar ya Han. Jadi cukup kita pesan kue aja kesini. Dan besok pagi minta diantarkan ke rumah."
"Pintar."
"Makasih sayang ya. Udah memberi masukan buat aku. Kenapa aku tak bisa berpikir dari kemaren kemaren ya tentang ini."
"Itu gunanya kita bersama sayang. Kalau bisa sampai kita jodoh dan tua nanti kita selalu saling menyadarkan satu sama lain ".
"Aamiin. "
"Cari kita kesini beli kertas lukisan aja, kita melukis di rumah kamu saja ya Han."
"Sipp."
Burhan dan Rani pun membeli untuk persiapan melukis dan sampulnya saja, Dan juga memesan kue ultahnya ke toko kue dan langsung memesan biaya antar nya besok dikirim kerumah Rani.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jangan lupa di tunggu ya.
Like
Komen
Vote
Hadiah🌹🌹
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗
__ADS_1