Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Kejujuran Rani


__ADS_3

"Duh Rani kemana ya, lagi lagi Rani lupa mengabari ku, ada apa sih dengan Rani. Sesibuk ini kah dia, sampai lupa mengabari ku."


Dalam hati Burhan bertanya tanya, apakah gerangan yang terjadi pada kekasihnya Rani. Sampai lupa mengabari nya.


Selang beberapa saat Burhan memikirkan Rani. Ternyata Burhan juga merasakan hal yang sama. Rani juga merasa kalau dia lupa mementingkan Burhan.


"Ya Allah. Pasti Burhan marah lagi sama aku. Bisa bisa aku melupakan janji Ku Pada Burhan." Rani berbicara sendiri dalam hatinya.


Rani segera mengambil ponselnya. Panggilan tak terjawab Burhan banyak di ponsel Rani. Bahkan pesan nya juga sudah terlalu banyak.


Tangan Rani sedikit gemetar. Karena Rani mengakui rasa bersalahnya. Wajar kalau Burhan marah. Aku pun kalau berada di pihak Burhan akan berlaku sama, merajuk, cemberut bahkan bisa marah. Aku harus membalas pesan nya Burhan dan memberi kabar nya. Dan meminta maaf padanya.


"Ring.."


"Ring.."


"Ring.."


Ponsel Rani memanggil Burhan. Namun tak ada jawaban dari Burhan, sehingga membuat Rani menjadi bingung harus berbuat apa.


"Han. Kamu kemana? Maafin aku ya, aku bukan melupakan kamu dengan tidak memberi kabar, namun aku lagi baru sampai. Langsung memesan taxi. Sekarang aku lagi berada di dalam taxi. Jangan marah sayang." Rani mengirimkan pesan pada Burhan dan berharap Burhan akan menelponnya dan mengerti keadaan Rani.


Memang Rani merasa bersalah, karena memang ketika pesawat landing. Rani tidak langsung mengaktifkan ponselnya, sehingga Burhan jadi bertanya kemanakah Rani belum tiba tiba dan memberikan pesan padanya.


Selang beberapa saat dari Rani mengirimkan pesannya pada Burhan. Ponsel Rani berbunyi, ketika di lihatnya Burhan yang menelpon balik.


Dengan semangat Rani, mengangkat telpon Burhan. Rani sangat bahagia mendengar suara Burhan pada saat menelponnya.


"Assalamualaikum sayang." Rani langsung mengawali percakapan.


"Waalaikumsalam. Kamu kemana sayang." Tegas Burhan sedikit khawatir.


"Maaf sayang. Aku baru tiba, ponselku di mobil ini baru aku aktifkan. Itu pun langsung mengabari kamu sayang."


"Benar, apa yang kamu ucapkan. Kamu tidak sedang membohongiku."


"Tidak sayang. Mengapa aku membohongi mu. Betul kok. Aku baru sempat mengambil ponsel ku."


"Ya udah. Mungkin aku saja yang terlalu mengkhawatirkan. Mungkin juga akunya kurang sabar."


"Nggak apa apa sayang. Aku beruntung sebenarnya punya kekasih yang peduli sama aku."


"Hemmm..Maunya!"


Rani tersenyum ketika Burhan sedang bercanda. Terdengar kembali suara Burhan! yang sudah kembali ceria, Burhan sekarang pun tidak lagi cemberut.


"Han, jangan marah ya. Aku sebenarnya mau cerita. Tapi kamu jangan marah ya."


"Apa sih Rani?"


"Tadi di pesawat sayang. Ada dua pemuda di sebelah aku duduk. Awalnya mereka berdua membuat ku jadi risih, rasanya tak mau duduk di sana."

__ADS_1


"Ada apa sayang? mereka mengganggumu. Atau berani goda kamu. Ayo kita labrak kalau memang iya."


"Dengar dulu sayang. Kok langsung emosian. Aku kan belum selesai cerita."


"Aku takut aja sayang kamu diganggu."


"Nggak sih, mereka sebenarnya baik. Mungkin cara mereka aja mengenalku dengan cara sedikit menggoda. Tapi mereka sadar kok, aku bukan tipe wanita yang mudah tergoda. Aku tipe setia kok. Apalagi sama kamu."


"Hemmm. Beneran? Aku dengar jadi mau terbang ni."


"Iya Han. Benar kok. Aku setia sama kamu lho. Tapi tadinya aku kaget salah satu dari mereka yang berada disebelah jendela. Memanggil temannya yang di sebelah aku. Sama seperti aku memanggil mu, sayang. Dia panggil namanya Han. Aku jadi kaget, akhirnya aku menoleh."


"Terus?"


"Mereka melirik melihat aku seperti nya kaget. Ketika aku mendengar nama Han. Jadi mereka bertanya padaku. Mengapa aku terkejut mendengar nama Han."


"Kamu jawab apa? Burhan penasaran.


"Aku cerita kalau namanya Han. Seperti nama kekasihku."


"Benar kamu bicara seperti itu ke dia?"


"Iya sayang."


"Terus." Burhan semakin pengen tahu lebih banyak cerita dari Rani


"Lalu laki laki yang di sebelah itu memperkenalkan dirinya, namanya bukan Burhan, seperti nama kekasihku tapi Johan. Akhirnya dari perkenalan itu mereka jadi kehilatan baik sayang. Mereka sepertinya cuma pengen kenal aja sama aku. Aku tipe wanita yang mudah tidak."


"Iya."


"Ya Allah apa yang aku pikirkan, seharusnya aku percaya dengan Rani. Dia adalah kekasihku yang baik. Buang..buang pikiran aneh ini. Aku harus percaya, percaya sama Rani." Suara hati Burhan penuh dengan rasa bersalah.


"Han..Han. Kok kamu diam? Kamu marah ya sama aku?"


Burhan pun kaget mendengar Rani memanggilnya di telepon.


"Apa sayang? Nggak kok. Aku tak bisa marah kamu. Aku percaya kamu setia sama aku."


"Syukur deh, kalau begitu. Memang mestinya kamu percaya sama aku. Aku dan kamu memang harus saling percaya."


"Iya harus." Burhan membalas jawaban Rani.


Memang Burhan akui, Rani adalah kekasih yang setia bagi dia. Bukti saja, perkenalan dia dengan dua pemuda tadi Rani menceritakan pada Burhan. Kalau dia tidak setia, Rani tidak akan jujur pada Burhan.


"Sayang. Sepertinya sebentar lagi aku mau sampai, aku siap siap dulu. Takutnya barang barang aku ada yang ketinggalan di mobil."


"Iya sayang. Udah hati hati ya. Istirahat dan jangan lupa makan ya. Daaa. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Rani bersiap untuk turun dari taxi, satu persatu barang yang Rani bawa di periksa. Takut ada satu barang tertinggal.

__ADS_1


Rani menanyakan harga yang harus dibayar Rani.


"Berapa pak?"


"Ini nak 86rb nak."


Rani langsung menyerahkan ongkos taxi yang harus dibayarnya. Seperti biasa Rani adalah gadis yang baik. Rani tidak mengambil kembalinya dan di berikan sama pak sopirnya.


"ini pak." Sambil menyerahkan uang selembar seratus ribu.


"Ini kembali nak." Pak sopir memberikan uang kembalinya.


"Biar aja pak. Kembalian nya buat pak saja."


"Terima kasih nak ya."


" sama sama."


Pak sopir membuka mobil Rani sambil membantu mengangkat barang bawaan Rani.


"Terima kasih juga ya pak ".


"Sama sama nak." sambil mengangguk kan kepala


Dengan merasa senang Rani melangkah kan kakinya masuk ke kontrakannya. Seperti biasa kontrakan Rani, seperti rumah sendiri. Seperti rumah tipe 36. Tapi perumahan elite.


Rani masuk kamarnya langsung mengganti pakaiannya karena Rani sebentar lagi langsung bersiap mau berangkat ke kampusnya.


"Kuliah hari ini jam berapa ya?" Rani sedikit lupa jadwalnya untuk hari ini.


Rani langsung mengacak acak bukunya mencari jadwal kuliahnya yang ditulisnya di buku.


"Kemana buku catatan jadwal ku." Dalam hatinya sambil sedikit kesal mencari buku tersebut.


"Aku harus telepon Nita dulu aja, aku betul betul lupa dengan jadwal kuliah hari ini."


Rani langsung mengambil ponselnya dan menelpon salah satu teman kampusnya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jangan lupa di tunggu ya.


Like


Komen


Vote


Hadiah🌹🌹


🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2