Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Di Rumah Pamannya Baim


__ADS_3

"Baim kalau kamu capek, aku bisa bawa motor. Kamu tinggal mengarahkan kita harus kemana."


"Tidak apa apa Han. Kamu yang lebih capek. Dari Lampung tiba ke Kalimantan belum istirahat."


"Aku kan naik pesawat, Baim. Jadi tidak terlalu capek." Ujar Burhan yang ingin menggantikan temannya Baim mengendarai motor.


Dalam perjalanan nya Burhan dan Baim bersenda gurau dan bercerita tentang masa sekolah dia masih SMP, sampai cerita mengapa mereka tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.


"Baim. Kenapa kamu tidak melanjutkan kuliah juga."


" Mungkin aku sama seperti kamu Han. Untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi butuh biaya yang banyak. Sedangkan saat itu kehidupan orang tua tidak seperti teman teman pada umum lainnya. Mungkin saat ini, maaf Han dirimu juga lagi merasakan apa yang aku rasakan dulu."


"Benar Baim. Saat ini aku merasakannya. Tapi aku tidak bersedih hati. Mungkin ini adalah jalannya,dan sudah mencari rencana Tuhan."


"Iya Han. Yang jelas.jangan patah semangat. Kita harus jalani." Baim mengangguk mengerti dan juga memberi semangat kepada Burhan.


"Baim, kamu ingat dengan Adi, teman kita SMP." Tanya Burhan yang mengingat teman mereka akrab di sekolah SMP.


"Oh iya ya. Dia sekarang ada dimana?"


"Iya Baim. Semenjak kita tamat dari SMP. Aku tidak pernah bertemu dia lagi. Apalagi dia sudah tamat duluan sama dirimu. Untungnya dirimu masih bertetangga sama aku. Jadi kita masih bertemu sampai sekarang ini."


" Iya juga Han. Benar apa yang kamu katakan." Baim tersenyum mendengar jawaban Burhan yang masuk diakal.


Kalau Adi memang jauh dari rumah mereka berdua. Dan setelah SMP, Adi juga tidak meneruskan sekolah di tempat mereka. Makanya mereka tidak pernah bertemu lagi


"Kita mampir makan Han. Mau kita bungkus atau makan disana saja."


"Aku ikut saja Baim." Sahut Burhan.


"Kita makan disana saja ya. Jadi pulang kerumah bisa langsung istirahat. Kamu pasti capek di perjalanan."


"Baim.. Baim. Terima kasih sudah peduli sama aku. Terutama sudah repot repot menjemput aku dan memberi tumpangan rumah disini. Aku beruntung sekali berteman dengan dirimu."


"Hemmm. Panjang sekalian pujian nya." Sela Baim dengan canda nya.


"Bener Baim. Aku hutang Budi banget sama kamu "


"Iya Han. Tidak usah terlalu dipikirkan . Sudah bisa membantu teman itu sudah sangat baik yang bisa aku lakukan."


"Ya Baim. Pokok nya terimakasih banyak."


"Ya ya " Baim menjawab dengan senang hati atas pujian Burhan.


Tepat di depan warung makan pecel lele mereka mampir untuk makan malam. Hari sudah masuk magrib untuk nya tepat di sebelah warung tersebut ada masjid, mereka berdua memesan makan dan menunaikan ibadah shalat magrib terlebih dahulu.


"Mas, pecel lelenya dua ya. Tapi kami tinggal dulu, kami mau shalat magrib dahulu." Ucap Baim pada penjual pecel lele.

__ADS_1


"Ya mas." Balas si penjual pecel lele.


Mereka bergegas ke masjid dan segera melaksanakan ibadah shalat magrib. Burhan dan Baim mengambil wudhu di tempat yang sudah di sediakan tepat di belakang masjidnya. Mereka ikut shalat berjamaah di masjid. Selesai melaksanakan ibadah magrib mereka kembali ke warung makan. Dan makanan mereka sudah disiapkan.


"Ini mas." Pelayan nya mengantarkan makanan mereka.


"Terima kasih."


Burhan dan Baim menyantap makanan mereka dengan lahapnya sambil bercerita.


"Baim, apa sudah lama kamu tidak disini?" Tanya Burhan


"Iya Han. Sama seperti mu sekarang ini, ketika selesai jelang dua bulan aku mulai memutuskan untuk merantau kesini."


"Siapa yang membawa mu kesini Baim."


"Tadinya aku ikut pamanku disini, karena pamanku di pindah tugaskan aku sendiri disini. Dan rumah yang aku tunggu sekarang rumah pamanku. Alhamdulillah aku tidak memikirkan biaya kontrakan rumah lagi."


"Alhamdulillah kalau begitu Baim. Aku pikir kamu di sini ngontrak."


"Iya Han. Maaf memang aku sengaja tidak memberi tahu mu, kalau aku tinggal dirumah pamanku, takutnya kamu jadi nggak mau. Kamu juga jangan sungkan. Anggap saja itu rumah kamu juga."


"Terima kasih Baim. Kamu sudah mau bantu aku ".


"Sama sama Han."


Setelah selesai menikmati makan mereka, Burhan dan Baim melanjutkan lagi perjalanan mereka menuju rumah Baim.


"Aku yang bawa motor ya Baim." Burhan merasa tidak enak merepotkan Baim. Karena mulai dari di jemput sampai nanti akan menumpang menginap di tempat Baim. Jadi Burhan menawarkan diri untuk membalas kebaikan Baim untuk yang pertama.


"Ya udah. Tidak apa apa kamu bawanya."


"Tidak apa apa Baim. Kamu sudah menjemput dan menerima aku disini itu sudah sangat membuatku senang. Jadi selagi aku bisa balas membantu kamu, aku akan lakukan."


"Hemmm. Kamu bisa saja Han. Jangan terlalu di pikirkan kok. Sudah sewajarnya kita saling membantu."


"Iya Baim. Aku beruntung bertetangga baik dengan kamu "


"Mulai lah pujian nya." Baim tersenyum mendengar kata kata Burhan


",Beneran Baim. Aku nggak memuji, memang kamu tetangga the best."


"Hemm."


""Mana kunci nya Baim,?" Burhan sambil memutar motor untuk di bawanya.


"Ini Han. Tapi benar ya. Kamu tidak capek."

__ADS_1


"Tidak Baim."


Baim segera naik motor dan duduk di belakang karena yang bawa motor adalah Burhan. Baim sekedar mengarahkan jalan menuju rumahnya.


Selang beberapa menit perjalanan mereka. Akhirnya sampai lah di rumah pamannya Baim yang ditunggunya sekarang ini.


",Wah rumah pamanmu bagus sekali Baim." Puji Burhan.


"Alhamdulillah Han."


Paman Baim seorang tentara. Walau pamannya seorang tentara, tetapi istri pamannya juga seorang pembisnis. Istri pamannya pintar dalam usaha. Membantu perekonomian paman Burhan.


"Syukurlah Baim. Dengan adanya paman. Kamu bisa terbantu disini, tanpa harus mengkontrak rumah lagi di daerah sini


"Iya Han. Istri pamanku juga pintar berbisnis. Istrinya membantu perekonomian pamanku. Makanya sekarang mereka sukses. Tetapi mereka belum bisa menikmati rumahnya yang disini. Mereka juga punya rumah di tempat pamanku pindah kerja."


"Waw. Pamanmu hebat. Punya banyak rumah."


"Alhamdulillah Han. Ini juga berkat istrinya juga "


"Alhamdulillah Baim."


"Suami istri memang harus saling membantu. Pamanku sangat beruntung memiliki istri seperti bibi Vina. Sudah cantik, pintar berbisnis. Dan baik lagi, sama aku pun dia baik banget"


"Alhamdulilah Baim." Burhan sangat senang mendengar cerita Baim. Walau pamannya bukan pamannya dia, tapi dia ikut merasakan kebahagiaan nya. Karena dengan adanya Baim di tempatkan dirumah paman Baim, Burhan tidak lagi memikirkan biaya kontrakan.


Baim membuka rumah pamannya. Dan menyilahkan Burhan untuk masuk.


"Ayo Han. Silahkan masuk. Anggap rumah kamu sendiri kok. Jangan sungkan."


"Iya Baim. Terima kasih."


Mereka masuk kedalam rumah. Dan istirahat sejenak, menghilangkan penat mereka selama perjalanan.


"Pakaian kamu masukkan di kamar Han. Kalau mau mandi di sana kamar mandinya.,"


"Iya Baim." Burhan segera mengangkat tas nya. Dan mengambil handuk, untuk mandi, karena memang dia harus mandi, agar perasaan letih nya berkurang."


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jangan lupa di tunggu ya.


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Hadiah🌹🌹


🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗


__ADS_2