Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Perasaan Pulang Malu Tak Pulang Rindu hadir


__ADS_3

"Nak tolong bawakan karung yang berwarna biru ya." Pinta pedagang sayur tersebut.


Burhan dengan semangat membantu bapak pedagang sayuran.


"Warna biru ini apa ya, yang diminta bapak tadi?" Dalam hati Burhan mengingatnya, tapi dengan sedikit ragu ragu.


"Nak, kok belum kamu angkat." Teriak pedagang sayur.


"Iya pak. Tunggu ini mau saya angkat. Warna biru kan?" Tanya Burhan.


"Iya. Cepat lah bawa kesini." Sahut pedang sayur.


Burhan dengan cepat mengangkat karung berwarna biru. Karung itu berisi kentang. Dengan rasa tertatih Burhan memindahkan karung itu ke dekat pedagang sayur itu.


"Di buka ya pak?" Tanya Burhan lagi.


"Iya."


Melihat kerja Burhan pedagang sayur itu merasa senang. Di matanya terlihat Burhan adalah sosok pemuda yang gigih dan baik. Setelah mengenal Burhan pedagang itu, mulai menyukai Burhan.


"Nak, kamu pulang kemana?" Tanya pedagang sayur yang sudah tua.


"Saya pulang ke daerah Ke Jalan Diponegoro pak."


"Tidak jauh dari sini."


"Ya pak. Saya belum hafal betul daerah sini."


"Asli mana kamu?"


"Saya orang Lampung pak."


"Salam kenal dari bapak. Nanti kalau sudah lama di sini, kamu pasti Beta disini." Ujar pedagang sayur.


"Aamiin. Mudah mudahan pak."


"Kamu sudah kerja nak?" Tanya pedagang sayur ingin mengetahui Burhan lebih dalam lagi.


"Belum pak. Saya datang kesini, untuk mencari pekerjaan. Baru hari ini, temanku membantu memasukan lamaran kerjaku di sebuah perusahaannya."


"Baguslah kalau begitu, tapi sebelum kamu bekerja atau dapat panggilan kerja, kamu bisa kok kerja sama bapak. itung itung bantu bapak jualan disini."


"Benarkah pak?" Tanya Burhan sangat senang. Setidaknya dia dapat uang untuk kebutuhan nya sehari hari selama menunggu panggilan kerja.


"Iya nak. Apa tampang bapak suka bohong." Canda pedagang sayur itu kepada Burhan.


"Tidak pak. Justru saya saya berterima kasih. Saya tidak sia sia datang kesini, walau saya niat nya ber


kerja di perusahaan, namun dengan diajak bapak bekerja, saya bisa meringankan beban ibu. Ibu tidak mengkhawatirkan saya hidup di perantauan."


"Iya yang penting kamu semangat."


"Iya pak."


Betapa bahagia Burhan, walau hanya membantu pedagang sayuran. Namun setidaknya Burhan bisa mampu bertahan untuk hidupnya sehari hari tanpa merepotkan temannya.

__ADS_1


"Pak, kalau begitu aku pamit pulang dulu. Saya sangat bersyukur bapak mau terima saya bekerja disini."


"Sama sama nak, besok jangan lupa dari pagi ya kesini."


"Baik pak."


Burhan pulang dengan perasaan senang. Apa yang di dapat nya hari ini akan diceritakannya dengan Baim. Burhan akan berbagi kabar yang baim kepada Baim.


"Aku harus cerita sama Baim." Suara hati Burhan terlihat senang.


Burhan tak sabar mendengar kabar dari Baim, bagaimana kabar surat lamarannya. Apakah dia langsung di terima, atau masih menunggu. Tapi setidaknya Burhan sedikit senang tentang cerita hari ini. Walau masih menunggu panggilan kerja, namun Burhan masih bertahan hidup di perantauannya. Setidaknya dia tidak merepoti temannya Baim. Baim sudah memberi tumpangan. Tidak mungkin Baim juga yang akan memberinya makan selama Burhan di Makasar.


Tak lama dari Burhan pulang. Terdengar suara motor Baim, yang pulang dari kerjanya.


"Hai bos." Panggil Burhan pada Baim.


"Hei. Sepertinya temanku ada yang lagi senang."


"Iya Baim. Hari ini aku senang banget.


"Apa dong?" Tanya Baim penuh penasaran.


"Kasih tau nggak ya." Candaan Burhan menghidupkan suasana.


"Mestilah." Balas Baim.


"Oke. Aku kasih tau. Tapi sebelumnya aku mau tanya dulu tentang lamaran aku kemaren."


"Tanya apa?"


"Bagaimana masalah lamaran kerjaku, kira kira ada petunjuk tidak aku bisa kerja."


"Iyalah Baim. Semoga saja."


"Aamiin. Terus apa yang membuatmu hari ini semangat."


"Aku di terima kerja di pasar, Baim. Walau hanya membantu berjualan, itu juga menambah pengalaman kerja bagiku."


"Iya Han. Semangat ya."


"Pasti." Burhan sambil mengangguk kan kepalanya.


"Terus, apa yang kamu jual Han?"


"Aku membantu bapak itu berjualan sayur sayuran Baim."


"Alhamdulillah Han. Walau masih menunggu, ada pekerjaan yang juga membutuh kan tenaga kamu."


"Iya Baim. Mudah mudahan seiring jalan aku cepat bekerja.


Tak lama Burhan dan Baim bincang bincang. Terdengar suara ponsel Burhan berdering panggilan telepon dari Rani.


"Ring..


"Ring..

__ADS_1


"Assalamualaikum sayang."


"Waalaikumsalam sayang."


"Gimana sayang. Kamu udah bekerja disana?" Tanya Rani.


"Belum sayang. Tapi saat ini aku bekerja di pasar membantu berjualan sayuran disini."


"Semangat sayang. Jualan juga adalah pekerjaan halal."


"Iya sayang."


"Yang penting kamu selalu bersabar dan penuh semangat."


"Pasti."


Burhan tambah semangat mendengar dukungan dari kekasihnya Rani. Orang yang menjadi penyemangat hidupnya selain ibunya.


Malam pun berlalu, Burhan menikmati istirahatnya karena besok aktivitasnya kembali lagi untuk membantu berjualan di pasar.


Pundi demi pundi Burhan dapatkan setiap hari nya dengan membantu pedagang sayuran dan mendapat pengalaman dalam berdagang.


Burhan sedikit lupa dengan tujuan datang ke Kalimantan untuk bekerja ikut Baim di perusahaan Baim, karena sampai sekarang ini belum ada panggilan di tempat Baim bekerja.


Namun perasaan tidak enak Burhan dan Baim. Sedikit berkurang karena walau Burhan belum bekerja, setidaknya dia tidak menganggur selama hidup di Kalimantan. Dan dia juga masih bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa membebani Baim. Begitu juga dengan Baim, dia sedikit lega. Walau pun dia belum bisa membantu Burhan bekerja, namun Burhan datang tidak duduk bengong saja, walau hanya bekerja membantu berjualan. Burhan ada kegiatan.


*Sebulan Kemudian*


Hari berhari Burhan menjalani kehidupannya di Kalimantan, belum ada tanda tanda Burhan di terima di perusahaan Baim. Perasaan rindunya ingin bertemu ibu dan juga kekasihnya Rani sudah membalut di tubuhnya. Namun dia harus bagaimana, Pulang Malu Tak Pulang Rindu. Itulah perasaan yang dialami Burhan pada saat ini.


Untung kesibukannya, dalam membantu berjualan mampu membantu kejenuhan nya di setiap hari.


Setiap hari Burhan berada di pasar, dan satu persatu Burhan juga sudah banyak mengenal masyarakat di daerah Kalimantan. Bahkan Burhan pun juga sudah banyak teman teman sesama pedagang.


"Han. Kamu tidak mau berdagang saja daripada bekerja." Ujar bosnya yang jualan sayuran.


"Buat tidak mau pak. Tapi tujuan saya datang kesini untuk bekerja bukan untuk dagang. Kalau memang suratan atau takdir saya menjadi pedagang saya akan jalani." Jawab Burhan.


"Tapi Han, Saya perhatikan kamu sepertinya sudah mahir dalam berdagang. Pastinya kamu akan sukses kalau kamu dagang kelak." Tambah pedagang sayuran itu memuji Burhan.


"Alhamdulillah pak. Kalau bapak berpikir demikian."


"Benar Han. Bapak tidak berbohong. Ada jiwa pedagang dalam diri kamu. Kalau pun kelak kamu jadi pemimpin perusahaan kamu juga akan sukses." Puji bapak pedagang sayuran itu.


"Sekali lagi terima kasih pak." Burhan tidak merasa tinggi hati atas pujian bapak pedagang sayuran tersebut. Namun Burhan jadikan motivasi untuk hidup ke depan. Dan Burhan dengan segala usahanya mengikuti takdir yang telah tertulis untuknya kelak.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jangan lupa di tunggu ya.


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Hadiah🌹🌹


🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗


__ADS_2