
Rani pun diantar ayahnya ke loket bis, Rani memang tidak terlalu menikmati kemewahan ayahnya. Rani terlihat anak biasa saja, dia bukan gadis yang sombong. Yang berlimpah dengan harta kemewahan ayahnya. Berangkat pun ke Jakarta Rani, menggunakan bis. Walaupun dia memiliki fasilitas mobil dan motor. Namun tidak dimanfaatkannya, karena Rani ingin tahu bagaimana hidup mandiri. Seperti gadis biasa lainnya.
"Ran. Jaga diri ya baik baik di sana. Ayah sebenarnya khawatir kamu naik bis. Kenapa kamu tidak mau ayah belikan mobil sendiri. Atau kamu bawah mobil ayah dirumah." Ujar ayah Rani yang khawatir dengan anak nya merantau sendiri di Jakarta.
"Nggak apa apa ayah. Aku bisa jaga diri kok disana. Percaya lah aku tidak apa apa. Aku sudah biasa kok." Sahut Rani yang sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana nya. Dia bukan tipikal anak yang bergantung pada orang tua, atau mengandalkan harta orang tua. Bagi nya harta orang tua adalah hadiah istimewa dari Allah. Yang patut di syukuri nya, bukan untuk di manfaatkan nya.
"Bener kan nak, kamu bisa menjalani nya semua tanpa bantuan dari ayah." Tanya ayah Rani yang tidak yakin kemampuan anak gadis nya.
"Bisa ayah. Percayalah. Rani kan sudah 2 semester di Jakarta, walau cuma ayah kasih fasilitas motor. Bagi Rani itu sudah banyak membantu Rani."
Rani memang di fasilitasi ayah nya hanya sebuah motor di Jakarta, tapi baginya itu sudah cukup membantunya. Rani memang ingin teman teman nya disana mau berteman dengan Rani apa adanya, tanpa memandang harta nya. Rani tidak ingin teman nya menerima Rani karena sebagai anak orang kaya. Di mata Rani, semua teman sama. Walaupun ada teman nya yang pamer harta tapi Rani tidak mau seperti mereka. Dia hanya ingin belajar hidup sederhana.
Setelah Rani berada di loket, tanpa dia sadari, ternyata Burhan mengantar keberangkatan Rani. Burhan menyamar dengan menggunakan kumis, seperti laki laki tua yang sudah dewasa. Nekad nya. Burhan ingin mengantar kekasih nya pergi. Tak sebanding rasa khawatirnya saat ini melepas kekasihnya pergi.
"Ran. Aku ada disini, di dekat mu." Isi pesan Burhan. Rani mencari cari dimana posisi Burhan berada.
"Kamu dimana sayang." Tanya Rani yang penasaran.
"Kamu lihat arah ke belakangmu, pria berkumis memakai baju biru."Burhan memberi tahu Rani tentang keberadaannya.
"Hemmm. Ada adanya kamu Burhan" Gumam Rani sambil tersenyum lucu melihat tingkah Burhan.
Burhan pun memberi kode tangan nya, ketika Rani menoleh. Sesekali wajah Rani memalingkan muka nya menatap Burhan. Menghindari ayahnya supaya tak mencurigai kehadiran Burhan di dekat mereka.
"Rani. ingin rasanya aku memelukmu mengantar kepergian mu." Pesan Burhan lagi ke Rani.
__ADS_1
Rani membalas nya dengan stiker kecupan mesra nya ke pesan WhatsApp Burhan.
"Hati hati di jalan ya sayang. Jaga diri dan jaga hati." Burhan berulang ulang mengirim pesan ke Rani.
"Ya sayang." Balasan pesan Rani agar Burhan jangan terlalu mengkhawatirkan Rani. Rani sudah terbiasa hidup di kota. Jadi tak ada rasa takut lagi di hati Rani. Tanpa Burhan tau juga Rani juga sudah di bekali ayah nya ilmu bela diri. Sedikit dikit Rani pintar menjaga dirinya.
Ayah Rani tidak sedikit pun mengkhawatirkan anak gadis nya, karena ayah Rani sudah yakin dengan anak nya, ilmu bela diri yang sudah dia turunkan kepada Rani. Akan selalu menjaga Rani dimana pun. Ayah Rani hanya mengkhawatir kan Rani yang tak ingin menggunakan fasilitas kemewahan ayahnya. Semua dilakukan Rani dengan mandiri.
"Penumpang jurusan Jakarta no flat 6689 siap berangkat." Terdengar suara pemberitahuan bahwa bus yang akan ditumpangi Rani akan segera berangkat.
Hati Burhan mulai terasa sepi ketika mendengar suara pemberitahuan tersebut. Rani menatap Burhan dengan senyuman, seakan senyuman nya berkata " Jangan khawatir sayang, aku bisa jaga diri di sana."
Rani kemudian naik bus yang ditumpanginya, kebetulan tempat duduk Rani, bisa melihat ke arah ayah dan Burhan yang mengantar nya saat ini.
Terlihat lambaian hangat Burhan, mengantar kepergian Rani. Rani pun membalas lambaian tangan nya. Seketika ayah Rani pun ikut melambaikan tangannya. Karena ayah Rani mengira, Rani melambaikan tangan nya untuk ayah Rani. Saat itu juga Rani tersadar, kalau lambaian nya bisa membuat ayah nya curiga. Karena tatapan Rani bukan ke arah ayahnya. Tetapi kearah pria yang berkumis berbaju biru.
Rani mengeluarkan handphone nya, untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Burhan.
"Sayang, Terima kasih ya udah repot mengantarku. Percayalah aku bisa jaga diri kok." Rani mengirim sebuah pesan kepada Burhan.
"Ya sayang. Alhamdulillah." Balas Burhan yang merasa lega.
Bus Rani mulai penuh dengan penumpang. Dan sebentar lagi akan segera berangkat.
"Kabari aku ya, kalau sudah tiba. Atau dimana pun bus nya mampir." Pesan Burhan lagi yang mengkhawatir kan Rani.
__ADS_1
"Pasti sayang." Kata kata Rani selalu membuat Burhan merasa lega dan hilang khawatirnya.
Bus yang di tumpangi Rani mulai menutup pintunya. Dan segera melaju berangkat. Lambaian tangan Rani mulai diarahkan kepada dua orang yang disayangi nya saat ini. Begitu pun Burhan dan ayah Rani tak henti hentinya melambai kan tangan untuk Rani.
Lama kelamaan Bus mulai melaju dan tidak tampak lagi.
Burhan dan ayah Rani pulang dengan masing masing. Ayah Rani mengambil mobil nya ke parkiran dan Burhan ke arah parkiran motor.
Ketika ayah Rani naik di atas mobilnya, entah ayah Rani menatap kearah pria berkumis berbaju biru yang melintasi nya. Seakan pria itu tidak asing Dimata ayah Rani.
"Jangan jangan dia. Dia...Dia? Siapa ya?" Ayah Rani berusaha keras mengingat pria berkumis tersebut. Namun ayah Rani bingung mengingatnya, karena pertemuan nya dengan Burhan baru satu kali. Jadi pikiran ayah Rani antara ingat dan lupa siapa pria berkumis berbaju biru tersebut.
"Udah ah. Persetan." Gumam ayah Rani yang sudah kebingungan.
Sementara Burhan masih menikmati suasana kesendirian saat ini. Rasa sepi nya mulai hadir semenjak Rani berangkat.
"Mengapa tak dari kemaren kemaren ya, aku di dekatkan dengan Rani." Gumam Burhan yang menyesali mengapa baru sekarang, dia dan Rani di dekatkan dalam ikatan pacaran.
"Coba Rani dan aku dari awal liburan kuliah, sudah pacaran sama aku. Pasti sudah banyak memori yang kami ciptakan." Ujar Burhan menyesali.
"Rani..Rani." Burhan menyebut nyebut nama Rani yang selalu di rindukan nya.
Tak lama dari Burhan masih berpikir keras tentang Rani. Ada pesan masuk dari Rani.
"Sayang udah pulang belum." Tanya Rani di dalam bus yang sudah jauh dadi Burhan.
__ADS_1
"Eh..Iya sayang. Burhan pun tersentak sadar dan langsung membalas pesan Rani.
Setelah itu Burhan menyalakan motor nya dan melaju pulang ke rumahnya.