
Burhan terlelap dalam tidurnya, karena besok Burhan harus bangun pagi pagi dan mempersiapkan dirinya untuk keberangkatan nya besok.
Sepanjang tidur Burhan, dia bermimpi kalau saat ini, Burhan bersama Rani. Walau cuma mimpi Burhan sepertinya menikmati mimpinya, seolah olah Burhan takut bangun, karena itu hanyalah mimpi.
"Rani, sini sayang. Lihat indah sekali pemandangan dari dekat sini." Teriak Burhan dalam mimpi
Seakan akan Burhan bersama Rani sedang menikmati kebersamaanya.
Dari luar kamar, ibu mendengar teriakkan Burhan memanggil Rani, seakan Burhan lagi berada di samping Rani.
"Han...Han!" ibu menggelengkan kepala mengintip tidur adanya. Tak terasa waktu sudah berlalu. Ibu Burhan tidak ingin membangun kan anak nya yang lagi tidur pulas.
Waktu menunjukkan pukul 12.20 wib,. Ibunya sebenarnya ingin membangunkan Burhan untuk melaksanakan shalat tahajud nya.
,"Ya udah, sepertinya Han. Buruh Istirahat karena besok dia mau berangkat jadi perlu tubuh yang fit." dalam benak ibu nya Burhan berkata.
Tak terasa malam berlalu, Burhan terbangun dari tidur lelapnya.
"Alhamdulillah tak terasa sudah waktunya shalat subuh." Burhan berdiri sambil kearah belakang untuk berwudhu, tapi seperti biasa Burhan selalu mencari ibunya. Karena ibunya selalu penyemangat hidupnya.
"Bu... Bu?" panggil Burhan kepada ibunya.
Burhan tak melihat ibunya berada di dapur. Biasanya kalau Burhan mau mengambil wudhu, ibunya sudah repot masak di dapur.
"Ibu kemana ya?" Burhan khawatir mencari ibunya.
Tak lama dari Burhan memanggil ibunya, ibunya keluar dari kamar.
"Iya Han. Ada apa manggil ibu. Ibu shalat subuh tadi. Kamu udah shalat? " Tanya ibu Burhan padanya.
"Iya ini mau shalat Bu. Cuma Han khawatir tidak melihat ibu, biasanya kalau Han ke arah dapur. Ibu pasti ada, entah lagi apa Han nggak tau. Pokoknya ada aja yang ibu kerjakan."
"Hemmm." Ibu tersenyum mendengar jawaban anaknya. Jawaban yang lucu sekaligus memang benar.
,
",Tapi benarkan Bu?" Burhan meyakinkan dirinya dengan ibunya.
"Iya anakku. Sekarang cepetan shalat, takutnya waktu nya udah habis."
"Iya Bu.," Burhan langsung mengambil wudhu dan segera menunaikan ibadah shalat subuh.
Selesai shalat, Burhan kembali duduk mendekati ibunya, karena tak terasa detik detik kebersamaan dengan ibunya, akan lama lagi. Karena hari ini adalah hari keberangkatan Burhan yang hanya menghitung jam saja.
"Sudah shalat nya sayang."
"Udah Bu."
"Bu ada yang bisa Han bantu." Tanya Han yang berharap ibunya membutuhkan bantuannya.
"Tidak ada sayang. Kalau ibu perlu pasti ibu bilang sama Han. Sekarang belum ada kok."
"Han, kalau masih mau istirahat, ya udah istirahat aja sayang."
"Nggak Bu. Han mau bantu ibu saja. Sayur sayur nanti Han rebus Bu. Ibu kan mau masak yang lain." Han terus menawarkan bantuan kepada ibunya.
"Sudah sayang. Tinggal ibu mau angkut ke warung saja ini."
"Nanti Han yang bawa."
__ADS_1
"Iya bentar."
Ibu Burhan merasa senang melihat sikap anaknya, yang sangat perhatian pada orang tuanya. Sungguh ibunya sangat berterima kasih kepada Allah karena telah diberi anak sebaik Burhan.
"Han. Ini angkut sayuran ini nak."
"Baik Bu." Burhan satu persatu membawa kan barang jualan ibunya pindah ke warung.
Burhan dengan semangat nya membantu ibunya, karena besok Burhan tidak bisa lagi membantu ibunya setiap pagi.
Setelah semua sudah terangkut ke warung. Burhan kembali kerumah dan mulai bersiap untuk mempersiapkan keberangkatannya. Burhan mengambil handuk dan mau mandi. Karena tak terasa hari sudah jam 7 pagi.
Kring...
Kring...
Suara telpon Burhan berdering. Sepertinya panggilan telepon masuk. Burhan mendengar suara dari dalam kamar mandi sedikit bergegas mandinya.
"Siapa yang telpon aku ya? Sepertinya Rani? Berati mulai sekarang aku harus membedakan nada dering untuk kekasihku, biar aku bisa membedakan siapa yang telepon aku." Ujar Burhan dalam hatinya.
Memang benar apa yang dipikirkan Burhan memang Rani, yang menelpon. Karena seperti biasa Rani memang sudah mulai berjanji di sela sela waktu bahkan dalam kesibukan Rani berusaha memberi kabar ke Burhan. Apalagi disaat Rani lagi tidak sibuk.
"Kemana ya Han? Kok nggak diangkat. Apa dia lagi repot bantu ibu ya." Rani bertanya sendiri dalam hatinya.
Selang beberapa menit telepon Burhan mati dari Rani menelpon. Burhan keluar dari kamar mandi nya. Burhan mengambil ponselnya dan melihat ternyata benar tertulis panggilan tak terjawab dari Rani.
Burhan kembali membalas dan menelpon Rani.
"Tut...
"Tut...
Panggilan keluar Burhan memanggil kontak Rani.
"Assalamualaikum sayang."
"Waalaikumsalam, sayang. Kamu kemana kok aku telepon nggak diangkat angkat."
"Aku lagi mandi sayang. Kangen ya!,"
"Hemmm. Nggak juga sih." Rani sedikit membalas candaan Burhan.
"Benar, nggak kangen sama aku. Aku bakal jauh lho."
"Ya penting hati nya nggak kan." Balas. Rani.
"Hemmm. Bisa aja kamu sayang." Burhan sambil tersenyum mendengar balasan Rani.
"Jam berapa ke bandara sayang.".
"Jam 9 dari sini. Karena pesawat akan mendarat jam 11."
"Ya udah kamu siap siap, karena udah setengah 8 sekarang. Belum sarapannya. Hati hati ya, awas jangan sampai ada barang ketinggalan. Daaa sayang."
"Daaa juga sayang." Burhan membalas.
Burhan kembali bersiap siap setelah selesai mandi, kemudian mengambil sarapan yang telah di sediakan ibunya di atas meja.
"Bu. Ayo sarapan dulu."
__ADS_1
"Iya sayang. sebentar lagi ibu sarapan."
"Han ambilkan saja sarapan ibu." Burhan menawarkan untuk mengambilkan ibunya sarapan.
"Nggak usah sayang. Ibu kan di rumah saja. Kamu yang mau berangkat harus kenyang."
"Ya udah Han duluan Bu."
"Ya sayang."
Burhan sambil memegang sepiring nasi goreng duduk dia mendekati ibunya.
"Han, bawa gado gado ya. untuk kamu makan siang di bandara nanti. Kan kamu ganti pesawat di Jakarta nanti."
"Iya Bu." Burhan tidak menolak apa yang dikatakan ibunya.
Memang benar, Burhan akan transit lagi ke Jakarta baru ke Kalimantan. Jadi Burhan butuh makan siang.
Ibu Burhan segera membungkus gado gado untuk anaknya. karena Burhan tak lama lagi akan berangkat. Ibunya hanya bisa mengantar Burhan dari rumahnya. Ia tak bisa mengantar Burhan ke bandara. Karena jarak rumah Burhan ke bandara agak jauh.
Tak terasa waktu cepat berlalu, hari sudah menunjukkan pukul 9, Burhan sebentar lagi berangkat menuju bandara.
"Han. Ini nak gado gado sudah ibu bungkus." Ibu Burhan sambil memberikan bungkusan gado gado.
"Terima kasih Bu." Burhan sambil mengambil gado gado yang telah disiapkan ibu untuknya.
"Kamu naik apa nak ke bandara. Naik mobil atau motor?"
"Han, naik motor saja Bu. Han pesan gojek aja dari sini, karena menghindari macet."
"Benar nak. Udah kamu pesan belum."
"Belum Bu. Tapi kalau ada ojek di pangkal, Han naik aja langsung dari sana."
"Mending dari sini saja nak. Pesan gojek aja." Ibu Burhan ingin melihat keberangkatan anak nya walau hanya dari rumah.
"Ya Bu." Burhan sambil mencari gojek di aplikasi ponselnya.
Selang beberapa mobil pesanan gojek Burhan tiba.
"Burhan?" sapa tukang gojek.
"Iya pak." Jawab Burhan.
"Bu. Han berangkat ya. Doakan Han selamat sampai tujuan. serta doakan Han sukses disana. Aamiin." Burhan pamit sama ibunya dan langsung naik gojek dengan melambaikan tangannya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jangan lupa di tunggu ya.
Like
Komen
Vote
Hadiah🌹🌹
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗
__ADS_1