Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Kado ultah


__ADS_3

Setelah Burhan dan Rani selesai mampir ke mall. Dan membeli untuk persiapan ultah ayah Rani. Burhan dan Rani pulang dan kembali ke rumah Burhan untuk melanjutkan melukis photo ayah Rani, sebagai hadiah ultah ayahnya Rani.


"Yuk. Hati hati." Burhan mengangkat belanjaan Rani dari motornya.


"Sayang kita melukisnya di ruang tengah aja ya.Nggak enak kalau diluar takutnya ada orang lain yang melihat."


Dari jauh ibu Burhan melihat anak nya datang bersama Rani. Ibunya mendekati Burhan dan Rani.


"Kalian bawa apa. Kok sibuk sekali."


"Ini Bu. Ayah Rani besok ulang tahun. Jadi Rani mau memberi ayah nya kado dengan sebuah lukisan dari hasil karya Rani sendiri."


"Oh gitu sayang. Terus kue nya sudah ada. Kalau belum ada ibu bantu buatkan ya."


"Oh nggak usah Bu. Tadi Rani udah pesan di toko kue, Jadi besok tinggal


di paket kan saja."


"Kenapa tidak minta tolong ibu saja, ibu kan bisa buat kue nya."


"Maaf Bu. Rani tidak mau merepotkan ibu juga. Ibu kan belum sehat betul."


"Siapa bilang. Ibu sudah sehat kok. Besok saja ibu sudah mulai jualan. Tadi pagi Burhan sudah antar ibu ke pasar, beli bahan bahan buat jualan besok."


"Tuh kan ibu saja hari ini udah repot mau jualan, ntar kalau buat kue besok nggak jadi jualan. Nggak apa apa Bu. Kan kue nya udah beli juga."


"Ya udah. Selamat ulang tahun aja ya buat ayah Rani. Semoga panjang umur dan sehat selalu."


"Amiin. Makasih Bu. Ibu juga semoga sehat selalu ya"


"Aamiin.Makasih juga sayang."


Burhan dan Rani menuju ke ruangan tengah. Mempersiapkan alat lukisnya. Rani pun mulai menggoreskan pensilnya dan mulai melukiskan wajah ayahnya. Rani memang gadis yang pintar melukis, dalam sekejap lukisannya terbukti wajah ayahnya. Dan di belakang nya di lukis nya Sorang anak yang lagi mencium tangan ayahnya. Dan di tambah sebuah ungkapan ayahku sayang.


Setelah Rani selesai melukis. Lukisan yang nampak begitu indahnya. Burhan dan Rani segera memasukkan nya kedalam bingkai yang ukurannya panjang 1m x 1m.


"Han. Ayo kita bungkus. Biar besok akan kehilangan rapi.


"Ayo." Han dan Rani membungkus bingkai lukisan yang sudah di selesaikan Rani.


Rani pun tersadar ini sudah sore, takutnya ayah pulang duluan dari Rani. Jadi Rani tidak bisa menyimpan lukisan, sebagai kado terindah untuk ayahnya besok..


"Han ini jam berapa ya? Aku harus pulang.Takutnya keburu ayah yang pulang."


"Sudah jam 4 sore Ran."


"Waduh. Keburu ayah pulang ya. Ya udah aku pulang dulu ya Han. Ibu mana, aku mau pamit."


"Bu. Rani mau pamit pulang."


Ibu Burhan kearah depan. Menemui Rani.


"Bu. Aku pulang dulu ya." Pamit Rani.


"Iya sayang.Hati hati. Kamu diantar Burhan kan"


"Iya Bu."


"Ya udah, nanti tambah sore. Bukan ibu mau ngusir."


"Rani pamit ya Bu Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Burhan menghidupkan motornya. Rani pun naik. Burhan pun melajukan motornya mengantar Rani pulang. Seperti biasanya pas depan lorong kerumah Rani. Rani pun turun.


"Terima kasih ya sayang."


"Iya. Aku pulang ya."


"Daaa. Hati hati."


Burhan pun pulang. Rani tampak seperti biasa jalan menuju kerumahnya.

__ADS_1


"Lah, Non Rani. Kok jalan kaki lagi."


"Nggak kok pak. Aku turun mobil depan lorong."


Penjaga rumah Rani geleng geleng saja.


"Pak. Ayah sudah pulang belum."


"Belum Non."


"Hmmm. Syukur deh."


"Ada apa Non?"


"Nggak apa apa kok bersyukur aja. Aku pulangnya nggak terlambat."


",Betul Non"


"Ya udah pak. Aku masuk dulu. Nanti keburu ayah pulang."


",Iya Non."


Ternyata benar tak lama Rani masuk ke dalam rumah. Suara mobil ayahnya Rani datang. Seperti biasa Pak Rahmat membukakan pintu pagar rumah.


"Untung saja duluan aku pulang dari ayah." Bisik hati Rani.


Ketika nyampai rumah. Ayah Rani mulai bertanya tentang anak nya udah pulang belum.


"Bu Atun. BI.."


"Iya tuan."


"Rani udah pulang belum."


"Udah tuan."


"Ya udah bagus lah."


Rani langsung masuk ke kamarnya, supaya ayah nya tidak curiga. Rani langsung mandi dan ganti baju tidurnya. Setelah itu Rani keluar dari kamarnya, pura pura Rani tidak tahu kalau ayahnya sudah pulang.


"Ini baru saja."


"Ya udah ayah mandi sana. Pasti ayah capek sekali ya."


"Anak ayah tau sekali Tadi jam berapa puang dari mall nya. Ada semua yang dicari."


"Ada ayah. Malah dapat yang di luar pemikiran Rani."


"Memang nya kamu cari apa?"


"Ayah mau tau aja."


"Mesti lah ayah tau. Urusan Rani kan urusan ayah juga."


"Iya sih. Ayah betul. Tapi besok saja Rani kasih taunya ya."


"Kamu ini sama ayah pakai rahasia segala.".


"Mesti ayah. Untuk yang satu ini ayah harus di rahasiakan dulu."


"Hemmmm."


.


"Ya udah ayah mandi dulu sana. Ntar bibi akan buatin ayah kopi."


Ayah Rani tersenyum. Melihat tingkah anaknya, Ayah Rani jadi teringat sama istrinya yang sudah lama pergi meninggalkan dia dan anaknya Rani.


Rani lah yang menghibur hati nya disaat ayah Rani merasa sendiri. Ayah Rani belum siap untuk mencari pengganti ibunya Rani. Karena hati ayahnya Rani masih selalu teringat akan ibunya Rani.Namun kenyataan ibu Rani sudah bersama laki laki lain. Tapi ayah Rani masih tetap mencintai dan berharap ibu Rani kembali padanya.


"BI Atun, tolong buatin ayah kopi ya."


"Iya nak Rani."

__ADS_1


Rani segera kembali ke kamar, karena sebentar lagi menjelang magrib, Rani harus melaksanakan ibadah shalat magrib.


Ayah Rani pun segera juga segera melaksanakan ibadah magrib. Dan setelah itu ayah Rani memanggil Rani.


"Rani."


"Iya ayah."


"Kamu sudah shalat magrib."


"Sudah ayah."


"Kemari."


"Duh ayah mau nanya apa ya. Jadi gugup juga di panggil sama ayah. Kira kira apa ya yang ingin ayah bicara kan sama aku " Bisik suara hati Rani.


"Rani."


"Iya ayah. Tunggu sebentar Rani lagi beresin mukena."


Tak lama Rani keluar dari kamarnya dan mendekati ayahnya.


"Iya ayah. Tadi panggil Rani."


"Sini nak. Ayah mau nanya. Kamu kapan pulang lagi ke Jakarta."


"Besok ayah rencana."


"Udah beli tiket."


"Belum ayah. Rani ragu besok atau lusa aja."


"Kalau lusa bisa. Lusa aja."


"Ya deh."


Rani tau mungkin ayahnya masih rindu bersama Rani. Karena besok hari ultahnya ayah. Mungkin juga ayah Rani pura pura tidak mengingatnya. padahal ayahnya ingin Rani menghabiskan hari ultahnya bersamanya. Seolah olah besok tidak ada apa apa. Karena mungkin ayahnya ingin Rani yang mengingatnya sendiri dengan kebersamaan mereka besok.


",Ya udah istirahatlah kamu pasti capek. Habis jalan ke mall."


.


"Ayah juga istirahat ya."


"Iya sayang. Ayah mau menghabiskan kopi buatan bi Atun."


"Kamu nggak makan malam dulu."


"Kenyang ayah. Di mall tadi Rani makan banyak sekali."


"Ayah nggak makan?"


"Sama ayah udah kenyang juga."


"Ya udah kita istirahat. Ayah habis kopinya,tidur ya!"


"Ya udah. Ayah pasti tidur juga."


"Selamat malam ayah."


"Selamat malam putri ayah."


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jangan lupa di tunggu ya.


Like


Komen


Vote


Hadiah🌹🌹

__ADS_1


🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗


__ADS_2