Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Makan siang di rumah Burhan.


__ADS_3

"Han. Sekarang sudah jam berapa ya? Mata Rani mencari jam di sekeliling dinding rumah Burhan. Namun tak ada satupun jam yang terlihat.


"Jam 12, Mengapa kamu mau pulang? Makan dulu kita. Ibu tadi sudah masak kok, ibu bilang tadi, kalau Rani main kesini ajak Rani makan dulu. Ibu sudah masakin buat Rani." Burhan sambil menarik tangan Rani menuju dapur.


"Malu Han. Bukan nya masakin ibu, eh malah aku yang dimasakin sama ibu kamu." Rani menutup muka nya malu.


Burhan pun membuka tudung saji, yang sudah penuh masakan ibu. Ibu Burhan pintar masak, kalau Ibunya Burhan buka rumah makan pasti laris.


"Waaaw" keluar pujian dari mulut Rani, ketika melihat semua menu yang di masak ibu Burhan.


"Ada apa Rani." Burhan ikut tercengang karena gaya Rani.


"Ini semua ibu mu yang masak, Han?" Tanya Rani kagum, melihat masakan ibu nya Burhan yang nampak menggugah selera. Melihat nya tak akan bisa menolak untuk memakan nya.


"Iya." Burhan mengangguk bangga, karena Burhan akui memang masakan ibu sangat top markotop.


"Ayo, Rani Kita makan?" Burhan mendahului Rani mengambil piringnya.


Mereka berdua menyantap masakan ibu Burhan dengan lahap nya.


"Eh, Han. Kita berdua makan aja disini. Kita duluan, mana ayah sama ibu mu." Tanya Rani yang baru terkenang kalau dirumah ini. Kan masih ada ayah Burhan.


"Udah, nyantai aja. Makan yang banyak banyak ya sayang. Biar cepat gemuk." Terlihat wajah Burhan yang sangat bahagia menatap Rani yang lagi makan berdua dengannya, seakan dia membayangkan Rani adalah istri yang lagi duduk dan makan bersama dengan nya.


"Kruf..kruf" Suara lalapan yang lagi dimakan Burhan. Begitu renyah nya.


"Han. Mantap betul ya rasa masakan ibu mu. Restauran aja kalah sedap nya." Puji Rani. Memang Ibu Burhan kalau soal masak jagonya.


"Pasti dong. Ibu ku!" Jawab Burhan bangga.


"Coba ibu buka rumah makan atau warteg, atau sejenis lainnya. Pasti sangat laris Han." Ujar Rani percaya kalau masakan ibu Burhan pasti melambung laris.


"Ibu sudah tua, Ran. Ayah juga sudah sakit sakitan. Ibu jualan gado gado juga, itu membantu perekonomian keluarga, Ran. Kasian ibu, sekarang menggantikan ayah menjadi tulang punggung." Burhan menjelaskan sambil tertunduk sedih.


"Cup..cup. Maaf Han, jadi buat kamu sedih. Duh.. Aku hari ini, sudah ibu sedih, sekarang gantian kamu yang sedih karena perkataan ku. sekali lagi maaf ya Han." Ujar Rani dengan merasa tidak enak.


"Nggak apa apa, Ran. Ucapan kamu semangat ku, benar aku harus membantu ibu. Walaupun ibu memang cocok buka rumah makan, setidak nya aku harus sukses, agar ibu tidak terlalu capek untuk menyalurkan hobi nya masak. Ibu harus punya pelayan yang bisa bantu nya. Tapi dengan modal awal, aku harus sukses dulu. Biar ibu tidak terlalu susah." Curhat Burhan yang bersemangat.


"Kamu hebat Han, aku bangga menjadi kekasihmu. Semangat mu kuat. Semoga sukses ya!" Doa Rani dan semangat Rani untuk Burhan.


"Bener, Ran. Kamu bangga menjadi kekasih ku saat ini." Tanya Burhan yang begitu dalam.

__ADS_1


"Ya sayang. Aku bangga. Semangat ya! Tukas Rani agar Burhan tambah bersemangat.


"Ayo, lanjut makan Ran. Makan yang banyak, bila perlu tambah lagi. " Burhan menawarkan nasi ke Rani.


"Udah Han, ini udah hampir 2 piring. Perut ku udah buncit ne." Jawab Rani yang sudah susah bernafas karena kekenyangan.


"Sungguh mantap masakan ibu. Luar Biasa, perut ku kenyang sekali." Ujar Rani yang sudah susah berdiri.


Setelah mereka membereskan lagi makanan yang berada di atas meja, Rani menutup nya kembali dengan tudung saji. Kemudian mengangkat piring bekas makan mereka ke tempat cucian piring.


"Ting...Ting." Bunyi piring yang ditumpuk Rani.


"Udah, Jangan di cuci." larang Burhan ke Rani yang mau mencuci piring tersebut.


"Nggak apa apa Han. Siapa yang mau cuci kalau nggak Rani. Ibu capek sudah masak buat kita, terus kita tinggal makan nya saja. Piring abis kita makan, ibu lagi yang cuci nya. Nggak mungkin lah Han." Jelas Rani yang terus melangkah ke arah tempat cucian piring.


"Ya udah, kalau kamu masih mau mencuci nya." Ujar Burhan sambil membantu mengangkat gelas kotor ke arah Rani yang sudah menggosok piring kotor tersebut.


"Makasih sayang."


"Hemm."


"Han, panggil ibu dan ayahmu, mungkin mereka sudah lapar."


"Iya ini, masalahnya beda Han. Sekarang mungkin lagi ada aku, mereka segan masuk ke rumah." Jelas Rani sambil mencuci piring .


"Nggak Han. Masak masuk rumah sendiri, merasa segan. Apalagi ada menantu nya. Mana ada orang tua segan, Ran..Ran. Ada ada aja kamu ini." Burhan tertawa mendengar celoteh Rani yang tak masuk di logika Burhan.


"Ya bisa aja." Rani masih tak mau mengalah dengan pemikiran nya.


"Nggak mungkin" Sela Burhan.


"Mungkin." Rani masih membela.


"Nggak mungkin."


"Mungkin,."


"Kok kita jadi berantem, sama kayak ayah dan ibu tadi pagi, Ran." Ujar Burhan yang teringat ayah dan ibu nya bertengkar kecil seperti dia dan Rani.


Terpikir mengapa mereka tadi bertengkar mulut sedikit, sekarang terjadi sama Burhan dan Rani. Burhan pun membayangkan kejadian dia sama persis sama ayah dan ibunya. Burhan jadi senyum senyum sendiri.

__ADS_1


"Hei. Kok jadi melamun." Rani mengejutkan Burhan yang lagi asyik dengan lamunannya.


"Astifigrullah. Rani kamu ini ngagetin aja." Tukas Burhan yang tersentak kaget oleh Rani.


"Abis nya, kamu melamun. Emangnya apa yang kamu lamun kan? " Rani penasaran dengan Burhan yang tersenyum senyum sendiri.


"Kepoo, ih kepoo." Burhan meledek Rani.


"Hemmm" Rani cemberut.


"Tuh kan cantik lagi kamu, kalau lagi cemberut, cantik nya luar biasa." Ujar Burhan bercanda.


Rani pun kembali tersenyum dengan pujian Burhan.


"Nah, tambah cantik kalau lihat tersenyum ini." canda Burhan tambah jadi ke Rani.


"Hemm." Rani sambil menepuk manja pundak Burhan.


Mereka asyik bercanda, sampai lupa kalau jam sudah menunjuk kan pukul 1 lewat. Sedangkan Rani, masih banyak yang belum disiapkan nya di rumah.


"Han. Ini sudah jam berapa ya?" Tanya Rani yang tersadar kalau dia berada di rumah Burhan sudah cukup lama.


"Jam setengah 2, Ran." Burhan sambil melihat jam di Hp nya.


"Haah. Beneran, Han."


"Bener sayang."


"Aduh, aku pulang dulu ya, masih ada yang belum aku siapkan untuk berangkat." Ujar Rani yang sudah kebingungan. Rani pikir dia Kana pulang dari tempat Burhan jam 12 siang. Tak terpikir oleh nya kalau mau makan dulu di rumah Burhan.


B E R S A M B U N G


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah baca jangan like dan komennya ya. Simak juga novel ku sebelumnya * Dinding Pemisah*


Di tunggu


👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻


Komentar, vote dan Hadiahnya!

__ADS_1


🌹THANKS🌹


...****************...


__ADS_2