Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Bertemu Ibu


__ADS_3

Setelah film Srimulat di bioskop habis. Mereka keluar dari teater.


"Rani habis ini kita makan dimana ya. Kita pindah ke Restoran, atau cari makan disini saja." Tanya ayah Rani


"Kita makan di sini saja ayah. Kan ada Brasserie."


" Ayo lah."


Mereka menuju tempat makan "Brasserie" dan mulai memesan menu. Mereka pesan nya paket lengkap ada lauk pauk nya dan nasi.


"Minum nya apa. Ini menu nya. Tinggal kalian pilih."


"Baik tuan. Terima kasih." Jawab salah satu pegawai ayah Rani.


Satu persatu dari mereka memesan minuman, dan pelayannya mengambil catatan mereka.


Setelah selesai memesan, pelayan kembali ke tempatnya dan memberikan catatan menu yang mereka pesan.


Merekapun menunggu menu yang telah mereka pesan. Sambil berbincang bincang, mereka mengulangi film yang mereka tonton.


"Lucu betul ya film itu. Sampai habis suara ku tertawa terbahak bahak.


"Ya tuan. Sukses pembuat film itu bisa membuat para penonton terbahak bahak, menontonnya."


"Iya ya. Aku pun rasanya mau tertawa." Mereka terus mengulangi ceritanya.


Tak lama makanan mereka, satu persatu diantarkan. Dengan senang Rani menatap kebersamaan nya, walaupun masih merasa kurang satu kebahagiaan Rani, yaitu Rani ingin ada ibunya berada diantara mereka. Namun hanya kerinduan yang ada di hati Rani.


"Nak. Kok kamu kelihatan sedih."


"Nggak apa apa ayah. Aku hanya merindukan ibu."


Ayah Rani sedikit terdiam mendengar jawaban Rani. Hati ayah nya juga sebenarnya masih merindukan ibunya Rani. Namun tak kuasa, karena ibu Rani sudah menjadi milik orang lain.


"Sudah nak, kan kamu masih bisa bertemu ibu mu kalau kamu mau." Sambung Bi Atun menghibur hati Rani.


" Iya Bi. Tapi dimana ibu. Aku tidak punya no hp nya."


"Sabar sayang. Suatu hari Allah akan mempertemukan kalian kembali." Hibur Bi Atun.


"Ayo semuanya dimakan." Ajak ayah Rani, setelah pesanan makanan cukup di hidangkan di atas meja. Dan menghentikan kegalauan Rani tentang ibunya.


Semua nya bergerak mengambil satu persatu. Mulai dari nasi sampai lauk pauk nya.


Di saat mereka lagi asyik makan, entah tiba tiba sontak mata Rani ke arah pintu. Ibu Rani dan teman temannya masuk juga ke dalam restauran tempat mereka makan.

__ADS_1


"Ayah. Itu bunda." Rasa bahagia Rani ketika menatap ibunya datang masuk ke tempat mereka makan. Rani berdiri dan memanggil ibunya.


"Bundaaaaa." Suara bahagia Rani memanggil ibunya.


"Rani." Ibu Rani kaget bercampur bahagia ketika melihat anaknya tersayang memanggil namanya.


Rani berjalan kearah ibunya dan memeluk dengan senangnya, ketika pertemuan tak disangka sangka. Baru saja apa yang dikatakan Bi Atun terjadi. Bahwa suatu Hari Allah akan mempertemukan mereka, dalam keadaan apapun, kalau Allah sudah berkehendak.


"Kalian ada apa disini semua nak, ada acara kah." Tanya ibu Rani heran.


"Ayah kan hari ini ultah Bun. Bunda apa sudah lupa."


"Oh iya ya. Maaf nak Bunda bukan lupa. Tapi tak disangka aja kalian merayakan disini.


Ibu Rani menatap ayahnya Rani. Betapa kencangnya jantung ayah Rani ketika melihat mantan istrinya berada di depannya.


"Bentar ya, aku ke sana. Kalian cari duluan tempat duduknya ya." Ujar ibu Rani kepada teman temannya.


"Sinta. Ini siapa?" Teman teman nya ibu Rani bertanya karena tidak tahu kalau Sinta sudah memiliki putri remaja yang cantik jelita. Karena ibunya Rani. Sudah pindah kerja dari tempatnya yang lama. Jadi teman temannya tidak mengetahui masa lalu ibu Rani. Yang mereka tahu ibunya Rani sudah bersuami. Dan tidak punya anak.


"Oh iya. Kenalkan ini putriku lho. Cantik kan seperti ibunya." Ibunya Rani bangga kan putrinya pada teman teman barunya.


"Iya Sin. Ternyata kamu sudah punya putri. Udah besar lagi. Mirip sekali sama kamu. Cantik dan manis lagi." Ucapan salah seorang teman ibu Rani.


"Oh kami baru tau Sin. Maaf ya."


"Ya udah. Kami ke sana sebentar ya." Ulang ibu Rani kepada teman temannya.


"Oke deh." Teman ibu Rani kompak.


Rani dan ibunya pun mendekat di meja makan ayah. Sungguh jantung ayahnya kali ini benar benar mau copot. Ketika ibu Rani mendekat.


"Ayah." Panggil Rani.


"Selamat ulang tahun, mas." Ibu Rani memberi selamat kepada ayah Rani.


"Iya, Sin. Terima kasih" Tatapan mata ayah Rani sungguh tidak berpaling. Dia seakan bermimpi bisa menatap kembali mantan istri yang masih sangat dia sayangi.


"Kalian semua ikut." Ibu Rani menyapa seluruh assiten yang ada dirumah Rani. Karena ibu Rani semuanya kenal.


"Nyonya." Semua menyapa ibu Rani dan mereka bersalaman.


"Ya udah mas. Aku ke sana dekat teman temanku ya." ucap ibunya Rani.


"Sin. Bagaimana kalau semuanya gabung disini. Kami juga baru baru kok. Atau mejanya di dekat disini saja semua. Ya kalau kalian mau makan bisa pesan baru lagi."

__ADS_1


"Iya Bun." Disini saja gabung kami semua." Rani pun mengharapkan ibunya berada diantara mereka.


Seakan akan jodoh masih ada antara ayah Rani dan ibunya. Disaat ayah ultah, ibunya bisa hadir diantara mereka. terlepas apapun alasannya.


"Ya bunda bilang ke mereka dulu ya. Mau tidak bergabung."


"Iya Bun. Rani kangen betul sama bunda."


Ibunya Rani melangkah kearah teman teman mereka yang sedang duduk. Mereka lagi melihat menu mereka.


"Bagaimana teman teman, kalau kita duduknya gabung dengan mereka. Di sana ada acara ultah mantan suamiku. Mereka mengajak kita gabung juga di sana. Mau ya?"


"Oke deh." Teman teman ibunya Rani kompak setuju. Mungkin karena mereka juga paham. Kalau masih ada rindu diantara mereka. Terutama antara anak ke orang tuanya.


"Ayo ayo." Mereka sambil pindah mengarah duduk ke tempat keluarga nya Rani.


"Mas. Perkenalan semua teman temanku.Teman teman. Ini ayahnya anak ku Rani." Ibunya Rani mengenalkan mereka satu persatu dan ayah Rani berjabat tangan dengan teman temannya ibu Rani.


"Silahkan kalian pesan ya. Hari ini ultah saya. Anggap saja hari ini saya merayakannya."


"Terima kasih pak. Kami beruntung sekali hari ini, bisa ikut merayakannya bersama sama."


Sungguh perasaan ayah Rani. Sangat senang sekali. Terasa mimpi dia bisa berkumpul kembali satu keluarga disini. Seakan akan mereka masih ada kesempatan berjodoh nantinya. Begitu pun perasaan Rani, dihatinya sangat berharap betul ayah dan ibunya kembali seperti dulu. Menjadi keluarga, dan bersatu selamanya tanpa terpisahkan lagi.


Setelah selesai teman temannya memesan. Mereka memanggil pelayan dan memberikan pesanan mereka. Dan menunggu beberapa saat.


"Kami makan duluan ya." Ujar ayah Rani mengawali makan bersama dengan para assiten rumah tangganya.


"Oh silahkan pak."Jawab semua teman teman ibu Rani.


"Bun. Rani rindu banget sama bunda."


"Iya sayang. Bunda pun sangat rindu sama Rani." Rani dan ibunya saling mencurahkan hati satu sama lain.


"Bun, Rani boleh minta no hp Bunda."


"Pasti sayang. 0812789*****." Rani sambil mencatat no hp yang diberikan ibunya.


Sungguh bahagia hati Rani. Angin apa yang membawa ibu bisa berada di sampingnya.


Tak lama dari Rani dan ibunya saling merindukan. Pelayan membawa menu yang telah ibu dan teman teman mereka pesan.


"Ayo semua kita makan dulu. Rani juga sayang makan nak ya."


"Iya Bun."

__ADS_1


__ADS_2