
Semakin semangat ayah Rani mendengarkan cerita anaknya. Ayah Rani serasa terhibur dengar suara anaknya yang jauh dimatanya.
Rani memang anak yang baik. Rani bisa membuat kedua orang tuanya bahagia.
"Ayo sayang. Terus! Jangan tambah ayahmu ini penasaran. Ada apa?"
"Iya setelah Rani keluar kontrakan. Rani marah dengan laki laki yang menyerempet ibu ibu tadi. Karena dia bukan bertanggung jawab malah ibu itu dimarah balik sama laki laki itu ayah. Siapa yang kesal. Rani juga bantuin ibu itu di bilangnya bela in. Apa nggak keterlaluan banget orang itu ayah.
"Rani mengajak nya damai ayah, Rani yang minta maaf. Karena katanya yang salah ibu itu menyebarang tidak hati hati ayah. Hingga sekarang spion motor laki laki itu hancur. Iya Rani berusaha keras menenangkan laki laki itu. Supaya dia bertanggung jawab, Rani mau mengganti spion laki laki itu yang hancur, asal dia mau bawa ibu ini berobat ke rumah sakit terdekat. Tapi apa yang terjadi ayah."
"Apa yang terjadi nak." Ayah Rani tambah penasaran.
"Orang itu kabur ayah."
"Kabur?"
"Iya ayah. Orang itu memang tidak punya perasaan mana sudah marah marah. Kabur lagi." Rani merasa kesal.
"Memang orang tak bertanggung jawab. Laporkan saja nak sama yang berwajib."
' Nah itu ayah. Rani lupa mengingat nomor flatnya. Kalau Rani ingat pasti Rani laporkan "
.
"Kamu hebat nak. Berani membela yang benar."
"Iya ayah. Rani nggak getar melawan orang seperti laki laki yang tidak bertanggung jawab itu."
"Anak ayah betul kamu nak."
"Lah memangnya Rani anak orang lain. Kan anak ayah Rani." Balas Rani ke ayahnya dengan canda.
"Iya sayang. Anak ayah."
Ayah Rani memang percaya anak nya bisa jaga diri. Karena Rani memang di bekali ayahnya karate. Selama Rani sekolah. Ayah nya mengikutkan Rani pelatihan karate.
"Tapi ayah!"
"Tapi apa sayang?"
"Ayah, ibu yang di serempet motor tadi ada di sebelah Rani. Rani kasihan sama ibu ini. Seluruh tubuhnya terluka, ayah."
"Terus, mau kamu bawa kemana ibu itu, nak?"
"Kerumah sakit yang terdekat ayah."
__ADS_1
"Jiwa sosial anak ku juga tertanam. Hebat anak ayah. Ya udah kamu bawa aja ibu itu berobat ya sayang"
"Iya ayah. Tapi satu lagi ayah."
"Apa nak?"
"Ibu ini dari desa, rencana dia mau berangkat jadi TKI. Tau nya pas dijalan, semua barang tas dan dompetnya di curi orang ayah. Terus rencana Rani. Ibu ini akan Rani bawa, Rani ambil sebagai pembantu di rumah ayah. Jadi Rani tidak sendirian di sini ayah."
"Kamu percaya nak sama ibu itu?"
"Iya ayah. Rani percaya kok."
"Ya udah sayang. Tapi kamu tetap waspada ya."
"Pasti ayah."
Rani sangat senang sekali mendapat ijin dari ayahnya untuk mengajak Bu Tini jadi pembantunya di rumah. Rani memberitahu pada Bu Tini tentang ceritanya pada ayah. Walaupun Bu Tini berada di samping Rani, Bu Tini tidak terlalu mendengar semuanya. Karena Rani berbicara sama ayahnya melalui telepon.
"Alhamdulillah Bu. Ayah mengijinkan ibu tinggal dirumah."
"Alhamdulillah nak. Ibu lega sekali. Ibu nggak tau berbuat apa, kalau ibu tidak di temukan dengan kamu nak."
"Orang baik, akan di pertemukan Allah dengan orang baik juga Bu. Walau di pertemukan sebentar dengan orang jahat Allah hanya sekedar menguji umat nya kuat atau tidak menjalaninya semua. Tapi Allah maha tahu umatnya bisa melewati semuanya. Aamiin."
"Kamu memang anak yang baik nak. Pasti ayah dan ibu mu sangat baik. Maka Allah memberikan mereka anak yang baik seperti dirimu."
"Nak. Kamu kok sedih, ada yang salah ya dari ucapan ibu. Ibu minta maaf ya kalau ibu sudah membuat kamu sedih."
"Ya Bu. Tidak apa apa. Rani memang sedih mendengar ucapan ibu, karena ibu tidak tau kehidupan Rani tak sebaik yang ibu ucapkan. Tapi mereka memang mendidik aku jadi anak yang baik. Walaupun mereka tidak bisa baik dalam rumah tangga mereka."
"Jadi ayah ibumu? Maaf nak ya. Mereka berpisah sudah ya?" Tanya Bu Tini yang merasa bersalah sudah membuat Rani sedih.
"Iya Bu. Ayah dan Bunda ku mereka bercerai. Karena ayah sering kasar pada bunda. Akhirnya bunda pergi. Dan sekarang bunda sudah menikah dengan laki laki Bu."
"Maafin ibu ya nak. Ibu sudah membuat kamu sedih."
"Udah Bu. Lupakan saja. Tidak apa apa kok."
Rani melihat perjalanan mereka sudah mendekat rumah sakit.
"Sebentar lagi kita sampai Bu." Ujar Rani mengalihkan pembicaraannya.
"Iya nak."
"Sreeeeettttt." Suara mobil berhenti.
__ADS_1
"Sudah tiba Bu." Sopir mobil memberi tahu kalau rumah sakit yang mereka pesan sudah tiba.
"Iya pak. Ini ongkosnya." Rani memberikan ongkos kepada sopir.
"Iya mbak " Sopir mobil itu mengambil ongkos yang di serahkan Rani.
"Terima kasih ya pak." Ujar Rani kepada sopir mobil itu. Rani sambil menggandeng Bu Tini. Dan segera menutup pintu mobil.
"Terima kasih juga mbak." Ujar sopir sambil melajukan mobilnya.
Rani menuntut ibu Tini Melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
"Duduk disini dulu Bu ya. Rani mendaftar dulu."
"Iya nak." Ibu Tini menunggu Rani mendaftarkan dirinya berobat.
Rani melihat di samping sebelah kanan pintu masuk tadi, ada bagian informasi. Jadi Rani bertanya kepada perawat yang duduk di bagian informasi.
"Pagi mbak. Daftarkan pasien berobat disini ya, atau dimana ya?"
"Siapa yang mau berobat mbak."
"Itu pasiennya mbak. Tini namanya." Rani sambil menunjukkan arah Bu Tini yang menunggu dia mendaftar.
"oh iya mbak. Ini no antrinya. Kalau di panggil langsung saja masuk." Tegas perawat di bagian informasi.
"Mbak. Bisa pinjam kursi rodanya. Itu itu habis kecelakaan jadi jalannya sedikit susah. Karena dia banyak terluka."
"Oh, itu tanya di satpam yang berdiri itu mbak ya. Nanti di ambilkan nya kursi."
"Terima kasih mbak."
Rani mendekati satpam yang lagi berdiri di depan pintu merek masuk tadi dan mencoba meminjam kursi roda buat Bu Tini.
"Siang pak. Pak boleh pinjam kursi rodanya pak, buat pasien, dia abis kecelakaan jadi jalannya agak lambat."
"Sebentar mbak ya." Satpam itu langsung ke dalam ruangan mengambil kursi roda.
"Iya pak. saya tunggu disini." Rani menjawab.
"Ini mbak kursinya." Satpam memberikan kursi itu kepada Rani.
"Terima kasih pak." Rani sambil menarik kursi roda yang di berikan satpam tadi padanya. Rani langsung menuju kearah Bu Tini.
"Bu, pindah duduk ke kursi roda ya."
__ADS_1
"Iya." Bu Tini berdiri sambil digandeng Rani untuk pindah duduk ke kursi tersebut
Rani dan Bu Tini kembali duduk dan menunggu antrian mereka untuk giliran mereka bertemu dokternya.