Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Rasa bersalah


__ADS_3

Setelah beraktivitas seharian, mulai dari merayakan ultah ayahnya dan berpamitan ke rumah sang kekasihnya Rani. Rani terasa begitu lelah, namun terasa lega dan puas di hatinya. Karena hari ini, dia bisa berada di dekat orang orang yang disayanginya. Di sela istirahatnya Rani teringat kalau dia belum mencari tiket untuk berangkat besok.


"Ya Ampun, lupa aku mau cari tiket untuk besok." Dalam hati Rani berkata.


Rani mengambil handphone nya dan membuka aplikasi, untuk memesan tiket besok. Untung juga Rani punya M-Banking. Jadi Rani juga bisa langsung membayarnya. Rani langsung memilih pesawat Lion yang sering ia pesan. Di sela Rani mencari tiket keberangkatan untuk nya besok..Terdengar di luar kamar ayah Rani memanggilnya.


"Rani." Panggil ayah Rani.


"Iya ayah." Rani menjawab dari dalam kamar


"Sini nak."


"Bentar ayah. Ini Rani lagi memilih tiket pesawat untuk besok."


"Dekat ayah saja beli tiketnya."


Rani segera keluar, mendekati ayahnya.


"Ada apa ayah. Kan Rani sudah bilang lagi cari tiket untuk keberangkatan besok."


"Naik apa mau nya kamu besok."


"Cari yang murah saja ayah, Kan lebih hemat uangnya."


"Oh gitu. Ada yang murah. Setau ayah kalau buat berangkat besok beli nya malam pasti semua naik harganya."


"Iya sih ayah. Abis Rani lupa. Atau besok nya lagi aja, Rani berangkat ya ayah."


"Kamu ini ada ada aja. Nanti kamu banyak ketinggalan kuliah. Besok lagi besok lagi. Undur terus pulangnya."


"Hehe." Rani tersenyum malu.


"udah dapat belum tiketnya. Kalau belum, ya udah kamu boleh pikirkan lagi. Mau pulang besok ya? ya nggak apa apa pulang. Kamu sudah 4 hari tidak kuliah. Tapi kalau masih mau nambah 1 hari. Ayah juga tidak marah kok."


"Bener ayah."


"Ya kan Rani yang tau, kira kira kalau ketinggalan kuliah Rani tau kerugiannya dimana."


"Nggak ayah. Kalau 5 hari berati, Rani ketinggalan kuliahnya 1 hari semuanya mata kuliahnya. Jadi nggak apa apa ayah."


"Hemmm. Ya udah kalau begitu. Sekarang beli lah buat berangkat itu lusa. Jadi kamu nggak kelupaan lagi beli tiketnya."


"Siap ayah. Makasih ya." Rani sangat senang sekali berati masih 1 hari dia bisa berada dekat ayahnya dan kekasihnya.


Ayah Rani juga sebenarnya senang anaknya masih berada dekatnya, karena kalau Rani sudah berangkat maka ayahnya sendiri lagi. Walau pun banyak assiten rumah tangganya, tapi tanpa Rani ayahnya masih terasa sepi. Karena adanya Rani rumah sedikit ramai mendengar suaranya.

__ADS_1


"Ayah ini harganya lebih murah buat besok."


"Ya udah kamu beli lah sekarang, nanti lupa lagi kalau di tunda tunda lagi beli tiket nya.


"Iya ayah."


Rani pun langsung memesan tiket yang dia pilih.


"Berapa bayarnya?" Tanya ayah Rani sambil menyodorkan hp nya, menyuruh Rani membayar pakai uang ayahnya melalui M- Banking.


"Makasih ayah."


Rani senang karena uang tiket nya langsung bayar melalui aplikasi handphone ayahnya. Walaupun Rani tau M- Banking nya juga ayahnya yang mengisikan tapi setidak yang di atmnya, tidak berkurang. Rani tau memang kebutuhan nya selalu di penuhi ayahnya. Setiap bulan uangnya selalu di isi ayahnya 3 jt perbulannya. Namun Rani juga memang anaknya tidak suka hidup foya foya maka ayahnya mempercayakan uang juga kepada Rani. Selain untuk kebutuhan kuliah. Rani juga digunakan untuk keperluan dia sehari hari.


"Ayah. Rani ke kamar lagi ya. Rani mau istirahat, capek seharian beraktivitas."


"Ya sayang. Met istirahat."


Rani melangkah ke kamarnya, Dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.


"Duh.. Capek banget hati ini. Tapi jujur aku bahagia banget. Semoga ayah dan bunda bisa bersatu lagi ya." Lagi lagi suara hati Rani menginginkan ayah dan bunda nya bersatu kembali.


Tak lama Rani membayangkan ayah bunda nya bersatu lagi. Rani pun tak sadar dan sudah terlelap tidur pulas.


"Alhamdulillah, sudah pagi. Ini jam berapa ya? Ya Allah..ini sudah jam 7 pagi . Untung aku nggak jadi berangkat hari ini, kalau nggak aku terlambat sampai ke bandara." Rani sangat kagek ketika menatap jam dinding.


Rani segera bangun, langsung ke kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok giginya, kemudian keluar kamar mencari ayah nya.


"Ayah... ayah. Ayah kemana sih? Suara Rani memanggil ayahnya dengan nada keras.


Kok dipanggil nggak nyaut nyaut. Apa ayah lagi pergi ya? Tapi kemana? Hati Rani bertanya tanya.


"Bi..Bi Atun." Panggil Rani.


"Apa Non?"


"Bi Atun tau ayah kemana? Apa ayah titip pesan sama bibi?" Tanya Rani yang sedikit bingung kemana arah ayahnya, biasanya ayah nya pasti keluar menunggu Rani bangun.


"Iya Non. Ayah Non tadi bilang kalau Rani nanya, ayah pergi ke perkebunan sawit dahulu. Ada kerjaan katanya yang harus di tangani."


"Oh gitu."


"Non. Mau bibi buatkan sarapan apa? Roti bakar atau mie goreng."


"Tolong masakin Roti bakar saja sama teh ya bi."

__ADS_1


"Baik non."


Bi Atun langsung menuju ke dapur untuk membuatkan Rani sarapan, karena bibi memang perhatian sama Rani, bibi tau Rani kalau bangun tidur harus sarapan, karena Rani sering sakit kalau tidak sarapan dulu di pagi hari.


"Aku belum kasih kabar sama Burhan, kalau aku hari ini nggak jadi berangkat. Burhan pasti tunggu kabar ku. Ya Allah kok sampai lupa memberi kabar padanya."


Rani mengambil ponselnya di kamar. Yang di letakkan nya di atas kasur tempat Rani tidur. Ternyata setelah dibuka nya ponsel tersebut. Banyak panggilan tak terjawab dari Burhan dan beberapa pesan masuk


"Ya Allah, beberapa panggilan tak terjawab. Burhan pasti marah." Suara hati Rani yang kaget melihat ponselnya penuh panggilan tak terjawab.


Rani membaca isi pesan Burhan. Banyak pesan dari Burhan yang merasa sedih karena tak ada kabar dari Rani.


"Sayang, kamu dimana? kok kamu tidak menyempatkan diri mengabari ku, Rani apakah kamu benar benar sayang sama aku atau sebaliknya?" Pesan demi pesan dari Burhan di baca Rani


Rani langsung balik menelpon Burhan. Dan ingin meminta maaf serta membujuk Burhan karena dia merasa sangat bersalah, tidak mengabari Burhan.


Ring..


Ring..


Suara bunyi handphone Rani memanggil Burhan.


"Angkat dong sayang. Kamu dimana? Maaf aku salah." Rani berharap panggilan terangkat oleh Burhan


Beberapa kali panggilan tak diangkat oleh Burhan, membuat rasa sedih Rani berkecamuk di dada nya. Rani pun segera membalas pesan Burhan.


"Sayang, angkat dong. Maafin aku semalaman tidak memberi kabar, aku ketiduran sayang. Habis berbincang sama ayah di ruang tengah. Tentang aku yang mau berangkat ke Jakarta. Tapi yang harus kamu tau, aku nggak jadi hari ini berangkat. Ayah menyuruh berangkat besok saja. Tapi maaf aku tidak mengabari kamu, karena asyik memikirkan ayah dan bunda ku suatu saat bersatu. Terus aku tak menyangka aku terlelap tidur, sampai lupa mengabari kamu. Sekali lagi maafin aku sayang. Tolong balas pesan aku ya, kalau kamu sudah membaca. Kamu dimana? Aku harap kamu memaafkan aku. I love u." Pesan panjang yang ditulis Rani kepada Burhan.


Rani menjadi gelisah karena belum dapat jawaban dari Burhan. Namun Rani sadar wajar kalau Burhan marah, karena sebuah kabar dari dia sangat berati untuk Burhan. Bagaimana kalau Rani yang di posisi Burhan, mungkin Rani akan bersikap sama terhadap Burhan.


Bersambung......


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jangan lupa di tunggu ya.


Like


Komen


Vote


Hadiah🌹🌹


🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2