
Burhan meletakan koper pak Iwan, serta tas ranselnya ke dalam tempat penyimpanan barang yang berada di atas kepala mereka.
Kemudian mereka memakai sabuk pengaman dalam pesawat. Burhan seperti seorang pengawal pribadi pak Iwan. Melayani pak Iwan seakan pak Iwan adalah ayahnya..Perhatian Burhan sangat di hargai pak Iwan.
"Han, kamu disana kerja ya?" Tanya pak Iwan yang ingin tahu apa bakal kegiatan Burhan di Kalimantan nanti.
"Belum tau pak. Untuk saat ini aku menumpang dulu dengan temanku. Katanya dia bisa membantu ku mendapatkan pekerjaan disini. Tapi kalau saya apapun pekerjaan akan saya jalani. Karena saya ingin bahagiakan ibu saya." Ujar Burhan menjelaskan kepada pak Iwan.
Pak Iwan mendengar ucapan Burhan sangat bangga, keyakinan nya kuat bahwa Tuhan mempertemukan Burhan padanya untuk membantu nya suatu saat nanti. Tapi pak Iwan bukan menunda nunda kemampuannya dalam membantu Burhan. Namun pak Iwan yakin dengan kuasa Allah, akan mempertemukan Burhan kembali padanya.
"Han. catat juga no handphone pak ya. Harap pak Iwan yang suatu saat di butuh kan Burhan.
"Iya pak. Berapa?" Burhan sambil mengeluarkan ponselnya.
Pak Iwan menyebutkan no ponselnya, Burhan mengetik ponselnya dan menyimpan nomor yang disebutkan oleh pak Iwan .Tak lama suara pramugari pesawat memberitahukan bahwa pesawat yang mereka tumpangi akan segera terbang. Mereka segera mematikan ponsel mereka.
Semua para penumpang, meyiapkan diri mereka. Dan berdoa masing masing dalam hati mereka. Kemudian pesawat mereka melaju terbang.
"Han, kamu dijemput teman kamu ya?" Tanya pak Iwan kembali.
"Ya pak."
"Pokoknya jangan lupa mampir ke tempat bapak ya suatu hari nanti."
"Siap pak." Burhan menyenangkan hati pak Iwan.
Dalam satu jam perjalanan. Mereka sampai di bandara Jakarta, dan akan transit ke Kalimantan.
"Alhamdulillah pak, kita sampai Jakarta dengan selamat."
"Iya Han. Alhamdulillah kita sampai."
Burhan dan pak Iwan, bersiap keluar turun pesawat, untuk transit ke Kalimantan.
"Mari Mak kita turun." Ajak Burhan.
"Iya. Han."
Burhan membantu pak Iwan membawakan tas nya, Seperti biasa memang Burhan sangat sigap dalam membantu orang tua. Burhan tidak pamrih dalam membantu orang. Memang sikap penolong ayah Burhan turun kepadanya.
Dengan kebaikan Burhan, pak Iwan bertambah kagum dan bangga padanya. Keyakinan pak Iwan bertambah untuk membantunya nanti, disaat Burhan memang membutuhkan pak Iwan.
"Nak Burhan. Sebenar nya aku mau membantumu. Tapi aku memberi kesempatan untukmu berkembang, dan tumbuh menjadi pemuda yang kuat." Dalam hati pak Iwan.
Mereka berdua melaporkan tiket transit mereka kembali. Setelah itu mereka mencari tempat duduk menunggu keberangkatan mereka. Mereka seperti ayah dan anak yang sangat akrab.
__ADS_1
"Han. Kita makan yuk." Ajak pak Iwan kepada Burhan.
"Makan lah, Burhan sudah di bawakan ibu Han gado gado. Kalau bapak lapar tidak apa apa Han tunggu disini saja." Tolak Burhan dengan sopan. Sebenarnya dia sangat ingin ikut pak Iwan. Namun Burhan tidak ingin merepotkan orang lain.
"Tidak apa apa nak. Temani bapak makan. Tidak enak sendirian, tidak ada yang menemani ngobrol." Pak Iwan masih mencoba memaksa Burhan.
"Ya pak." Akhirnya Burhan mau mendengar alasan pak Iwan tidak enak sendiri.
Burhan mengikut pak Iwan mencari tempat makan di dalam bandara. Pak Iwan masuk ke dalam sebuah tempat makan yang begitu terkenal mahal.
"Pak. Serius kita makan disini?" Walaupun Burhan belum pernah masuk ke tempat makan yang dimasuki pak Iwan, namun Burhan tau kalau tempat makan itu harga menu nya tidak ada yang murah.
"Iya ayo." Ajak pak Iwan dengan santai.
Burhan menganggukkan kepalanya, dengan sedikit bingung. Karena dia takut akan merepotkan pak Iwan. Karena Burhan melihat pak Iwan seperti orang biasa yang sama dengan dirinya. Tapi Burhan masih tetap hormat kepada pak Iwan.
"Silahkan Han pesan." pak Iwan menawarkan menu kepada Burhan.
"Iya pak." Burhan memilih menu yang disodorkan pak Iwan kepadanya. Dengan rasa bingung Burhan mencari menu yang termurah, namun dilihatnya di dalam menu tidak ada yang sesuai harga diinginkannya.
"Silahkan Han mau pesan apa?" Tanya pak Iwan kembali. Yang melihat Burhan membolak balik buku menu tersebut.
"Han. Minum aja pak. Han kan sudah bawa gado gado." Ujarnya menolak menu yang tertera disana. Karena Burhan memang tidak mau merepotkan pak Iwan.
"Kok cuma minum. Tidak apa apa Han. Gado gado nya nanti bagi sama pak, pak juga mau cicip gado gado buatan ibu kamu."
"Han. pilih menu paket ini aja pak."
"Oh ya udah." Pak Iwan pun menyebutkan menu pilihan mereka kepada pelayan tempat mereka makan.
Selama mereka menunggu pesanan mereka sampai. Mereka terus berbincang bincang tentang kehidupan mereka.
"Han. Ayah kamu kerja apa?"
"Ayah." Burhan sedikit terdiam menjawab pertanyaan pak Iwan.
"Han...Han." Panggil pak Iwan sedikit membuat Burhan terkejut.
"Iya pak."
"Kok kamu diam. Ada apa Han. Apa pertanyaan bapak membuat kamu sedih."
"Ayah. Baru saja meninggal pak sebulan yang lalu."
"Oh. Maaf ya. Pak tidak tau."
__ADS_1
"Tidak apa apa pak. Wajar kalau pak bertanya."
"Sakit atau meninggal akibat apa?"
"Sakit pak." Jawab Burhan sedikit meneteskan air matanya.
"Maaf ya, pak jadi bikin kamu sedih. Anggap saja saya ayah kamu."
"Terima kasih pak." Burhan sedikit tersenyum mendengar ucapan pak Iwan yang menghibur hatinya. Ternyata masih ada orang baik seperti pak Iwan yang ditemuinya. Padahal Burhan sadar, kalau dia baru mengenal pak Iwan.
Selang beberapa detik dari mereka mesan menu. Pelayan mengantar makanan yang mereka pesan.
"Silahkan." Ujar pelayan.
"Terima kasih mbak." Ujar Burhan kepada pelayan.
Burhan begitu merasa tidak enak kepada pak Iwan karena tanpa dia sadari, dia betul betul merasa membebani pak Iwan.
"Ayo Han. Kita makan."
"Iya pak. Ini katanya mau cicip gado gado ibu Han." Burhan sambil membuka gado gado ya dan menaruhnya tepat di depan pak Iwan.
"Terima kasih nak." Pak Iwan sambil menyendok gado gado yang sudah dibukanya tadi.
Burhan mengikuti pak Iwan. Mana menu yang sudah dipesan sama pak Iwan, Burhan pun di suruh pak Iwan untuk makannya.
"Waw. Mantap benar." Ujar pak Iwan mengambil gado gado ya Burhan..
"Iya pak. gado gado ibu memang lezat banget."
"Kalau pak main lagi ke Lampung. Pak akan mampir ke rumahmu. Pak pasti merindukan makan gado gado buatan ibumu." Ujar pak Iwan yang menikmati kelezatan gado gado buatan ibu Burhan.
"Harus pak." Sambil tersenyum senang Burhan membanggakan gado gado buatan ibunya.
Bersambung..
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jangan lupa di tunggu ya.
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Hadiah🌹🌹
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗