Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Perjalanan Ke bandara


__ADS_3

Rani masuk ke kamarnya dan mengambil ponsel di dalam tas nya. Rani teringat untuk mengabari Burhan. Karena Rani tak mau Burhan marah lagi kalau sampai lupa memberi kabar untuknya


Ring 3x


Suara handphone Rani memanggil Burhan. Burhan mengangkat telpon nya.


"Assalamualaikum." Rani menyapa Burhan.


"Waalaikumsalam, sayang."


"Lagi apa sayang. Udah tidur apa?


"Belum. Lagi menunggu kabar kekasih tersayang ku "


"Hemmm."


Gimana kamu ketahuan ayah mu tidak kalau keluar lama lama."


"Alhamdulillah, tidak Han. Ayah belum pulang. Jadi ayah tidak tau aku pulang lama."


"Alhamdulillah, kalau begitu sayang."


"Iya sayang."


"Jam berapa berangkat besok, sayang?"


"Besok pagi 8 dari rumah."


"Maaf ya , aku tidak mengantar mu."


"Nggak apa apa sayang, aku lebih paham kok. Karena ayah ku yang menghalangi cinta kita."


"Iya sayang. Ya udah kamu sekarang istirahat. Besok kamu kan mau berangkat."


"Daaa sayang. I love u"


"Love too."


Rani dan Burhan mengakhiri percakapan mereka, dan segera tidur. Karena Rani besok harus bangun pagi, dan siap siap untuk berangkat.


Tak terasa waktu sudah hampir pagi, Rani pun terbaru. Rani melaksanakan shalat subuh. Kemudian bersiap siap untuk berangkat. Begitu juga ayah Rani. Dia juga bersiap siap karena dia tau kalau Rani berangkat nya pukul 08.00 WIB. Ayah Rani akan mengantar Rani ke bandara.


"Ayah. apa ayah sudah bangun sekarang ?" Panggil Rani yang takut kalau ayah nya belum bangun.


"Iya sayang. Ada apa?"


"Syukur deh ayah udah bangun. Kirain Rani masih tidur."


"Nggak lah. Ayah kan tau kalau anak kesayangan ayah akan berangkat. Ayah harus mengantarnya."


"Hehehe." Rani tertawa kecil mendengar ucapan ayahnya membuat hatinya senang.


Di sela sela bincang kecil ayah dan Rani. Bi Atun mendekat dan memberi tau kalau makanan telah siap.


"Tuan dan Non silahkan sarapan, Bibi sudah siapkan di dapur."


"Makasih Bi. Tapi bentar lagi. Ayah kalau mau sarapan duluan aja. Rani sebentar lagi kok."


"Bi tolong bawakan saja ke sini." Ayah Rani mau makan nya di ruang tamu.


"Baik tuan."

__ADS_1


Rani mengangkat semua barang barang nya untuk berangkat jangan sampai ada yang tertinggal.


Tak lama bi Atun, dengan segelas kopi dan sepiring nasi goreng. Dibawakan untuk ayah nya Rani.


"Ini Tuan. Silahkan!"


"Terima kasih Bi."


"Rani.. Ayo sarapan dulu sayang. Nanti kamu lupa sarapan, terlalu sibuk menyiapkan diri. Kenapa tidak dari semalam kamu siapkan semua, jadi pagi ini tinggal berangkat aja abis sarapan."


"Iya ayah. Aku cuma meriksa ulang kalau aja ada yang lupa nanti."


"Ya udah sarapan aja dulu."


"Ya ayah sayang." Rani menghentikan meriksa barang barangnya, Rani langsung ke dapur dan mengambil segelas air teh dan sepiring nasi goreng, lalu duduk di dekat ayahnya.


"Jam berapa pesawat kamu berangkat, nak?"


"Jam 10 ayah."


"Sekarang jam berapa? Ayo buruan kita sarapan, nanti kamu terlambat ke bandaranya."


"Nggak ayah. Ini baru setengah 7, nyantai aja ayah. Kan bandara tidak terlalu jauh dari rumah kita."


"Iya sayang. Tapi takutnya jalan macet. ini kan pagi jam anak anak sekolah. Biasanya jalan sedikit macet."


"Udah kalau ketinggalan pesawat, besok lagi berangkatnya." Rani bercanda ke ayahnya sambil tertawa.


"Hemm,.. mau nya!"


"Ayah nggak marah kan kalau Rani lama lama di sini."


"Nggak lah ayah, kali ini Rani bercanda. Masa Rani batal lagi berangkat nya, apalagi tiket udah di beli. Sayang lah."


"Itu tau, nanti kalau ayah bilangnya begitu. Ayah tidak sayang lagi sama Rani."


"Hehehe.." Rani tersenyum malu apa yang dikatakan ayahnya.


Setelah Rani dan ayahnya selesai sarapan. Mereka bergegas siap untuk berangkat. Ayah Rani segera mengeluarkan mobilnya dari parkiran.


"Rani udah siap belum."


"Udah ayah." Sambil lari kecil Rani menuju ke mobil ayahnya.


Hari sudah menunjukkan pukul 8. Sesuai yang dikatakan Rani kepada Burhan tepat. Jam 8 Rani sudah berangkat dari rumahnya.


Di rumah Burhan


Burhan mengambil ponselnya, untuk menanyakan kabar Rani. Apa dia sudah di perjalanan ke bandara.


"Sayang. Kamu sudah dimana?" Burhan mengirim pesan ke Rani


"Ting." Ponsel Rani berbunyi suara pesan masuk. Rani segera membukanya.


"Iya sayang. Ini baru saja keluar dari rumah mobil ayah."


"Oh iya sayang. Hati hati dan selamat jalan ya. Telpon aku ya kalau sudah sampai bandara."


",Pasti sayang."


Rani dan Burhan saling mengirim pesan. Mereka tersenyum bahagia membaca pesan satu sama lain.

__ADS_1


"Kok kamu sibuk sekali sayang. Kamu lagi WhatsApp sama siapa sih? Pakai acara senyum senyum bahagia gitu." Ayah Rani sedikit curiga.


"Nggak ayah. Cuma lihat grup teman teman kuliah."


"Beneran? Anak ayah nggak bohong kan?" Canda ayah Rani kepadanya.


"Ayah. Kok nggak percaya betul sama Rani."


"Yang nggak percaya itu siapa sayang. Ayah kan cuma nanya aja."


Saat Rani lihat tau ayahnya curiga dengan nya. Rani balik bertanya sama ayahnya.


"Ayah.. ayah. Ayah kangen nggak sama bunda?"


"Kamu ini Ran. Nggak ada pertanyaan yang lain apa?" Ayah nya Rani sedikit menyimpangkan ingatan Rani tentang ibunya.


"hemmm..ayah ini. Rani kan cuma pengen tau tentang perasaan ayah sama bunda. Itu aja kok."


"Iya sayang. Tapi masalahnya bunda udah punya suami baru nak."


Rani terdiam akan jawaban ayahnya.


Memang benar apa yang dikatakan ayahnya Rani. Mana mungkin ayahnya bisa bersatu kembali, selagi ibu nya sudah bersuami.


"Iya ya. Aduh...mana mungkin bunda bisa bersatu sama ayah." Dalam hati Rani berbicara sendiri. Hingga pikiran Rani jadi kacau.


Disela Rani terbawa lamunan. Ayah Rani mencoba memanggilnya. Karena ayahnya tau kalau anak nya sedang melamun jauh.


"Rani. Ran.... Hei Ran." Ayah Rani mengejutkannya yang lagi terbawa lamunannya.


"Eh iya... iya." Rani sambil menoleh ke arah ayah nya yang lagi menyetir mobil.


"Apa sih Ran. Kok kamu jadi diam. Apa yang kamu pikirkan."


"Ingat bunda, ayah." Jawab Rani sedih.


"Udah sayang. Ikhlaskan bunda. Kalau memang masih jodohnya ayah. Bunda akan kembali sama ayah."


"Aamiin."


Rani sedikit lega mendengar nasehat ayah yang bijak. Seandai ayah Rani tidak bersikap kasar sama ibu nya. Ibu nya tidak akan pernah pergi meninggalkan mereka.


Rani kembali tersenyum, dalam hatinya berharap kata kata ayahnya bisa jadi kenyataan.


"Ya Allah, semoga apa yang di ucapkan ayah padaku, bisa jadi kenyataan. Aamiin."


Rani menatap kearah luar mobil. Mulai kembali memperhatikan jalan, sambil sesekali melihat ke arah jam. Kalau tak lama lagi mereka sampai ke bandara. Dan tak lama lagi ia akan terbang ke kota Jakarta.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jangan lupa di tunggu ya.


Like


Komen


Vote


Hadiah🌹🌹


🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2