
Srrreeettt.
Tak terasa perjalanan ke arah bandara udah sampai. Rani bersiap untuk turun, dan masuk untuk melaporkan tiketnya yang belum check in. Tapi sebelumnya Rani berpamitan dulu dengan ayahnya.
"Ayah Rani masuk ya."
"Ya sayang. Jaga diri baik baik di sana ya. Semangat selalu ya sayang."
"Iya ayah."
Rani melambaikan tangan ke ayahnya. Kemudian masuk ke dalam.bandara.
Sementara di ponsel Burhan terdengar suara panggilan tak terjawab beberapa kalinya. Burhan yang menelpon Rani, karena Burhan tau kalau Rani jam seperti sudah nyampai bandara.
"Ring... Ring." Ponsel Rani masih berbunyi.
Rani mengangkat sebentar ponselnya. Karena Rani lagi sibuk dengan check in.
"Assalamualaikum, sayang. Bentar ya aku lagi ngurus tiket pesawat ku. Sabar ya sayang."
"Ya udah."
Rani mematikan panggilan ke Burhan. Dan menyelesaikan urusan tiketnya kembali. Setelah selesai mengurus Rani berjalan menuju ruang tunggu pesawat. Langsung mengambil posisi duduk.
",Huu." Rani menarik nafas lega karena tinggal menunggu keberangkatan saja. Setelan duduk Rani mengeluarkan ponsel nya kembali dan menghubungi Burhan kembali.
"Ring.. Ring." Panggilan keluar ponsel Rani berbunyi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Gimana udah beres semua."
"Udahlah kalau sekarang bisa nelpon kamu, berati aku udah nggak sibuk lagi. Tinggal nunggu keberangkatan aja. Kamu nya aja nggak sabaran." Rani sedikit bercanda dengan Burhan.
"Iya kan karena aku nggak mau kekasihku ada apa apa. Jadi aku butuh kabarnya setiap saat."
"Hemmm. Mau nya."
Waktu tak terasa sudah berlalu, sebentar lagi pesawat Rani akan berangkat. Suara pemberitahuan sudah terdengar. Bahwa pesawat yang di tumpangi Rani pintu masuk nya sudah di buka.
"Sayang, Udah dulu ya. Itu ada panggilan pesawat ku akan berangkat."
"Ya sayang. Hati hati!. Awas ada barang yang ketinggalan."
"Iya. Daaa sayang. Aku matikan ya telepon nya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Sayang."
Rani segera masuk ke pesawat, dan mencari kursi tempat nya duduk. Di sebelah nya duduk, ternyata tepat bersebelahan dengan dua orang pemuda.
Awalnya Rani biasa saja duduk bersebelahan mereka. Namun ketika dalam pesawat mulai mau terbang. Rani mulai sedikit merasa gelisah. Dua pemuda itu sedikit menggoda Rani.
"Hai cewek. Kenalan yuk." Di sela pesawat sudah mendarat, pemuda itu memberanikan diri menggoda Rani.
__ADS_1
Rani tersenyum saja dengan aksi mereka. Karena mereka masih menggodanya sebatas wajar. Tapi Rani memang tipe bukan gadis yang genit untuk muda di rayu apalagi sampai digoda.
Dua pemuda merasa sedikit kecewa, karena Rani seperti nya cuek saja dengan mereka.
"Kenapa ya kalau diajak kenalan, kok cuek aja." Ungkap salah satu pemuda yang duduk tepat di sebelah Rani.
"Han, biasanya gadis itu kalau bersikap seperti itu bisa buat laki laki jatuh cinta." jawab pemuda satunya.
"Benar. Kamu bilang." Jawab teman di sebelah yang bernama Han
Ketika Rani mendengar teman di dekat pintu memanggil Han juga, Rani sedikit kaget. Rani sedikit batuk
"Han. Kok bisa namanya. Han." ujar Rani dalam hati nya.
"Hai, ada apa kamu kok, mendengar namaku. seperti kaget. Emangnya ada yang salah dengan namaku."
"Nggak..nggak. Maaf kalau aku batuk. Aku cuma kaget saja kok banyak sekali orang bernama Han."
"Banyak? Berapa banyak kamu kenal yang namanya Han. Kan baru aku yang kamu dengar di sini. Apa kamu punya juga nama teman Han?"
"Maaf ya. Aku juga punya teman namanya Han. Tapi dia namanya Burhan. Aku saja yang sering panggilannya dengan nama Han."
"Kalau aku bukan Burhan. Tapi namaku Johan. Riki aja yang sering panggil nama aku Han."
"Iya." Rani mengangguk seolah paham apa yang dikatakan pemuda yang bernama Johan, tepat duduk bersebelahan dengannya.
"Kalau kamu siapa sih? Ujar pemuda yang tepat di sebelah duduk Rani.
"Iya sih. Dari tadi kami pengen kenal kok dengan kamu." Teman nya Johan yang bernama Riki menambahkan.
"Ooh Rani. Secantik orangnya nama kamu." Jelas Johan.
"Terima kasih." Balas Rani.
Dari awal menggoda dua pemuda itu, akhirnya mereka bisa mengenal Rani. Walaupun Rani sedikit menolak pada awalnya. Tapi dua pemuda itu biasa mengenal Rani.
"Rani, kamu ke Jakarta. Memang tinggal di sana atau kamu kerja?"
"Aku kuliah. Aku tinggal nya di Lampung."
"Kamu asli Lampung juga ya."
"Iya, kalau begitu sama. Kita satu daerah."
",Kalian mau ke Jakarta. Kuliah juga atau kerja?"
"Iya sama kami juga kuliah."
"Wah. kalian kuliah dimana?"
"Kami kuliah di Universitas Persada" (Nama kampus di samarkan)
"Sama. Aku juga kuliah di sana. Kok bisa ya, kita satu kampus. Aku belum pernah lihat kalian."
__ADS_1
"Kami sudah semester 5. Kami kuliah nya malam.".
"Pantes. Aku nggak pernah lihat kalian. Aku baru semester 3."
"Adek tingkat kalau gitu ya."
"Iya. Rani tersenyum."
"Maaf ya kalau kamu tadi sedikit risih dengan gangguan kami berdua tadi. Biasa lah namanya laki laki. Kalau nggak usil ya iseng. Tapi setidaknya laki laki juga tau sikap wanita yang lembut, ramah dan nggak genit. Ya wanita seperti kamu Rani." Ujan Johan yang namanya hampir mirip Burhan.
Dari perkenalan mereka sekarang. Akhirnya mereka menjadi teman. Dan Rani juga tidak merasa terganggu lagi. Dia juga sekarang paham dengan sikap Johan dan Riki tadi. Sebenarnya mereka ingin menguji bagaimana sikap Rani kalau di sebelah laki laki yang belum kenal dan akrab dengan dia.
"Rani. Boleh dong kami minta no Hp mu."
"Boleh."
Akhirnya mereka saling tukar no handphone. Setidak nya Rani di Jakarta punya teman seperantauan dan satu kampus juga.
Tapi walau pun Rani mengenal Johan dan Riki. Namun Rani adalah gadis yang setia. Rani tetap ingat sama Burhan, kekasih yang sangat dia sayang.
Tak terasa perjalanan mereka di dalam pesawat sudah sampai ke bandara Soekarno. Suara pemberitahuan bahwa pesawat mereka akan segera landing. Mereka harus mengunakan sabuk pinggang mereka supaya aman.
"Ran, sampai juga kita di Jakarta." Jelas Johan yang duduk di sebelah Rani.
"Alhamdulillah."
Pesawat mereka akhirnya tiba di bandara Soekarno Hatta. Mereka siap siap turun dan keluar dari pesawat.
Sambil berdiri antre untuk keluar pesawat Johan tepat berdiri di belakang Rani mengajak Rani ngobrol sedikit.
"Ran. kamu pulang naik apa?"
"Naik taxi."
"Ikut kami aja, nanti kami antar. Aku disini tinggal sama om. Aku pasti di jemput." ucap Johan menawarkan kebaikan.
"Makasih Han. Nggak apa apa kok. Aku naik taxi aja."
"Oh ya udah. Hati hati. Sampai ketemu di kampus ya."
"Iya."
Akhirnya mereka keluar dari pesawat. Sambil jalan menuju ke luar bandara. Mereka mulai berpisah.
"Johan, Riki kalau kalian mau duluan. Silahkan ya! Aku mau mampir ke toilet dulu."
"Ya udah. Kami juga mau ke toilet. Bareng aja Rani naik mobilnya."
Rani langsung masuk ke toilet. Teman baru Rani pun juga. Setelah mereka selesai ke toilet. Mereka bareng menunggu mobil.
"Johan, Riki. Aku duluan ya. Aku kan naik taxi, kalian masih menunggu om nya Johan kan.'
"Iya Ran. Ya udah. Selamat jalan ya. Sampai ketemu lagi."
__ADS_1
"Aku pulang ya." Rani naik ke taxi sambil melambaikan tangan ke Johan dan Riki.
Rani pulang dengan sedikit senyuman, karena setidaknya sekarang Rani punya teman baru dan sedaerah. Jadi Rani merasa tidak sendiri berada di kota Jakarta.