Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Melepas Rindu Sebelum LDR


__ADS_3

"Rani, mengapa kamu murung dan bersedih. Kamu marah ya, karena menunggu ku terlalu. Sekali lagi maaf ya Rani."


"Tidak apa apa kok Han. Bukan menunggu kamu lama yang membuat ku sedih." Jawab Rani yang nampak di raut wajah terukir kesedihan.


"Lantas apa Ran. Yang membuat mu jadi bersedih." Tanya Burhan.


"Maafin aku, Han. Tadi aku membuat ibu bersedih, dengan menanyakan. perempuan yang ada di dekat mu di dalam photo itu. Rani sambil mengacungkan tunjuk nya kearah photo yang di tempel di dinding.


"Aku tak tau pertanyaan ku, akan membuat ibu mu jadi bersedih Han." Ujar Rani sedih.


"Oh itu Kak Juwita. Dia adalah kakak perempuan ku satu satunya. Aku dan kakak ku hanya dua bersaudara. Tapi ibu merasa punya anak satu saja sekarang. Karena semenjak menikah, kak Juwita lost contacts, entah apa yang membuat kak Juwita hilang Khabar. Kami pun tak bisa mencari informasi tentang dia. Hal ini yang membuat ibu terpukul. Jadi, kalau ada seseorang yang mengingatkan atau bertanya tentang dia, maka ibu akan terluka hati dengan mengingat nya kembali." Jelas Burhan kepada Rani.


"Oo.." Rani mengangguk. Dan mengerti.


"Udah, nggak apa apa. Kamu kan tidak sengaja bertanya. Wajar kok. Karena kamu melihat photo ada kak Juwita di dekat ku. Pertanyaan mu adalah hal yang wajar, pasti di lakukan setiap orang. Jangan menyalah kan diri sendiri." Ujar Burhan membuat Rani menjadi tenang.


" Iya, Han. Terima kasih kamu sudah mengerti." Sahut Rani.


"Iya, Ran. Ibu pun begitu, dia juga pasti mengerti akan pertanyaan mu. Cuma ibu merasa tak sanggup saja, kalau bathin nya kembali, mengingat anak nya yang tak tau dimana, apa anak nya baik baik saja, atau sebaliknya." Jelas Burhan tentang perasaan ibunya.


Mendengar penjelasan Burhan, Rani begitu lega. Rasa bersalah yang tertanam di dirinya kini bisa ia cabut kembali.


"Jadi, kamu berangkat naik bis, apa sewa mobil Rani." Tanya Burhan sedikit khawatir. Ingin rasa nya dia mengantar pujaan hati nya ,sampai ke Jakarta sana. Namun apalah daya , Burhan menyadari siapa dirinya saat ini untuk Rani.


"Naik Bis lah sayang. Jangan khawatir sayang, aku sudah biasa kok " Jawab Rani, sembari tau tentang kegalauan yang di rasakan Burhan.


"Alhamdulilah, kalau begitu. Cepat kabari aku ya, kalau sudah sampai." Pinta Burhan.


"Pasti sayang." Rani meyakinkan.


Suasana hati Rani, sudah mulai membaik, tampak wajah nya sudah kembali cerah.


"Ran. Jangan nakal. ya disana, Jaga diri jaga kesehatan, ya!" Ujar Burhan yang. sangat takut dengan LDR nya.


"Iya sayang. Kamu juga ya, semangat semangat untuk aku." Balas Rani.


"Iya dong sayang. Aku pasti semangat." Jawab Burhan bersemangat.

__ADS_1


"Han. Mana ibu dan ayahmu tadi." Tanya Rani menatap suasana rumah Burhan tiba tiba sepi sunyi.


"Biasa lah sayang, Ibu pasti sudah di depan, udah di warung nya jualan gado gado. Sedangkan ayah. Pasti jalan jalan ke sekeliling taman, menghirup suasana pagi." Jelas Burhan yang sudah tau aktivitas mereka di pagi hari.


"Oh gitu. Bukan karena ada aku kan, mereka pergi." Tanya Rani.


"Maksudnya?" Burhan tanya balik dengan pertanyaan Rani yang membingungkan nya.


"Iya, kan ada calon menantu nya, jadi mereka kasih kesempatan berdua disini." Canda Rani sambil tersenyum, nampak bibir indah nya yang membuat tambah cantik Rani di pagi hari.


"Hemmm." Budi seakan mencibir membalas candaan Rani.


"Salah ya? Maaf kalau salah!. Tapi bisa iya kan? Tanya Rani pelan.


"Iya sayang. Mereka itu tau kalau aku sudah dewasa, mereka mengerti kok." Burhan merayu sambil gesit tangannya menyentuh dagu Rani.


Rani tambah tersenyum dengan sikap yang dilakukan Burhan. Seakan menginginkan hal lebih dari Burhan.


"Ran. Diminum teh nya sayang."


"Iya lupa. Habis menatap kamu bibir ku serasa sudah manis, jadi aku pikir aku sudah minum teh dari tadi."


Burhan, sebenar nya lebih agresif tapi karena Burhan menghargai Rani, Jadi Burhan tidak mau, kalau sikap nya akan kehilangan Rani. Karena Burhan belum mengenal Rani secara dalam. Hubungan mereka pun bisa dikatakan baru seumur jagung.


Berbeda dengan Rani, karena Rani sudah menganggap Burhan adalah kekasihnya, jadi dia merasa lepas dan berani terbuka dengan Burhan. Bahkan sifat sedikit genit nya pun, tak malu Rani tampak kan ke Burhan.


"Sayang, tidak inginkan kamu memeluk ku?" Genit Rani ke Burhan.


Namanya laki laki siapa yang tak ingin merasakan hangatnya pelukan seorang wanita, apa lagi wanita itu pujaan hati nya.


"Hemm. Siapa yang nggak mau sayang. Apalagi memeluk kekasihku sendiri." Ungkap Burhan yang merasakan ucapan Rani menggetarkan jiwanya.


"Sini. Peluk aku." Sahut Rani.


Burhan langsung mendekati Rani, dan mengangkat tangan Rani, Burhan memeluk erat Rani.


"Sayang. Jaga diri ya disana. Kabari aku kalau sudah sampai. I love u" Bisik Burhan di telinga Rani.

__ADS_1


"Ngos... ngos." Suara nafas Burhan terdengar kencang. Burhan pun masih rada takut, Jantung nya berdetak kencang membuat nafas nya tak beraturan.


Pelukan tak lama Burhan lepaskan.


Rani, nampak biasa dengan pelukan Burhan. Karena Rani menganggap itu pelukan rasa sayang nya ke Burhan. Walaupun jujur, Rani menginginkan lebih di pikirannya. Tapi Rani sadar ini rumah Burhan. Yang membuat Rani bisa mengontrol emosi jiwa nya.


"Han. Kok kamu gugup ya memeluk aku." Pertanyaan Rani membuat Burhan malu.


"Hemm, Maaf.


Aku jadi kepikiran macam macam Ran." Balas Burhan.


Rani pun tersenyum mendengar jawaban Burhan.


"Hemm. Aku tau itu" Sahut Rani.


"Apa ayo? Sotoy." Raut wajah Burhan memerah malu.


"Tau dong. Rahasia."


"Hemm. Oh iya jam berapa kamu berangkat Ran? " Tanya Burhan mengalihkan pembicaraan Rani, yang membuat nya malu.


"Jam 3 sore nanti, Han. Tenang kok masih lama." Ujar Rani.


"Kalau kita jalan dulu, gimana?" Ajak Burhan, supaya Rani tidak bosan.


"Disini aja Han. Enak disini. Walau hanya dirumah, tapi ada kamu serasa rame dan nyaman." Ungkap Rani.


"Bisa aja kamu, Ran...Ran." Burhan tersenyum sambil menatap wajah Rani.


Mereka menikmati saling menatap wajah masing masing. Sesekali mata Rani dan Burhan berkedip. Sebentar lagi mereka akan menikmati LDR.


Tak bisa saling bersentuhan.


Burhan menatap Rani, kemudian membelai rambut indah Rani. Ingin rasa nya, Burhan terus memeluk Rani, namun Burhan tak ingin dia khilaf. Nama nya seorang laki laki, Se alim alim nya, bisa tergoda juga. Bak kucing melihat ikan. Walaupun Burhan benar benar tulus mencintai Rani. Tapi karena mereka berada di rumah Burhan lah, yang bisa mengontrol emosi mereka.


"I love u Honey." Ungkap Burhan

__ADS_1


"Love u too." Balas Rani.


__ADS_2