
Rasa bersalah Rani kepada Burhan, membuat Rani jadi tak tenang. Rani segera mandi karena ia mau ke rumah Burhan untuk menjelaskan semua dengan Burhan tentang rasa salah lupa memberi kabar kepadanya.
"Duh.. Kok bisa aku melupakan Burhan. Sedikit pesan tidak aku kirim ke dia, wajar kalau Burhan bersikap seperti itu. Kalau aku di posisi dia, mungkin aku akan berlaku sama seperti dia. Pasti aku sangat kecewa, Tapi aku harus bagaimana menjelaskan nya apakah Burhan akan mengerti dan memaafkan ." Suara hati Rani yang mengerti perasaan Burhan namun dia bingung harus bagaimana.
"Non... Non. Kemana ya Non Rani nya?" Bi Atun bingung melihat Rani tidak ada di ruang tamu.
Bi Atun mencari ke arah kamar Rani. Terdengar dari bilik kamar mandi Rani suara Rani mandi.
"Oh, Non Rani lagi mandi rupanya."
Bi Atun keluar kamar, dan menunggu Rani. Roti bakar Rani di diletakkannya kembali di dapur.
Rani mandi nya agak sedikit cepat, karena hatinya campur gelisah. Tak sabar mau ke rumah Burhan. Rani pun bersiap siap dan segera keluar kamarnya.
"Non.. Mau kemana? Ini roti Non yang minta di buatkan tadi." Ujar Bi Atun sambil kembali membawakan roti bakar yang di pinta Rani tadi.
Di ambilnya roti dalam piring yang dipegang bi Atun. Kemudian. Rani menghirup dua teguk air teh yang dibuatkan Bu Atun.
"Bi Atun, rotinya aku makan di mobil aja ya. Makasih udah buatin sarapan."
"Non. Mau kemana? Nanti ayah nanya Non, terus bibi jawab nya kemana."
"Jawab aja bi, Tadi Rani bilang ada yang mau di beli. Dia ke mall bentar."
"Ya udah. Hati hati Non." Bi Atun sedikit lega.
Rani cepat cepat ke parkiran, dan segera mengeluarkan mobilnya sambil memakan roti yang di buatkan bi Atun.
Pak Rahmat seperti biasa, sudah siap dengan tugasnya. Ketika melihat mobil siap keluar. Pak Rahmat mulai membuka kan pagar rumah Rani.
"Makasih pak."
"Hati hati Non."
Rani melajukan mobilnya ke arah rumah Burhan. Dan tak sabar menemui Burhan. Karena dari tadi, Rani melihat pesan nya juga belum di buka Burhan..
__ADS_1
"Apa Burhan benar benar marah padaku." Tanya hati Rani.
Sepanjang perjalanan Rani memikirkan Burhan. Hingga tiba di depan rumah Burhan. Rani melihat Burhan sibuk mondar mandi membantu mengangkat barang jualan ibu nya. Burhan menatap ke arah depan sebentar, seketika itu juga dia memalingkan mukanya. Burhan melihat mobil Rani datang. Kemudian Burhan berlagak seolah olah tidak tahu kedatangan Rani
Rani keluar dari mobilnya dan memanggil Burhan.
"Han...Han." Suara keras Rani memanggil Burhan. Namun Burhan seolah olah tak mendengar. Tapi sebenarnya Burhan sangat senang melihat kekasihnya datang, berati Rani belum berangkat. Tapi ada rasa kecewa dan kesal, mengapa Rani tidak mengabarinya. Apa mungkin memang Rani sengaja untuk memberi Burhan kejutan.
"Kok Rani, tidak jadi berangkat ya? Apa ini alasan dia tidak mengabari ku. Apa dia ingin memberi ku kejutan?" Dalam hati Burhan bertanya tanya marah campur bahagia. Disisi lain marah Rani tak ada kabar, tapi disisi lain, Burhan sangat senang melihat Rani datang dengan memberi kejutan dia tak jadi berangkat.
"Han.. Han. Maaf." Ungkap Rani dengan rasa bersalahnya.
Burhan masih seolah olah tidak mendengarkan Rani.
"Han, kamu dengar tidak. Itu Rani manggil kamu." Ibu nya Burhan ikut bersuara, karena dia merasa kasihan pada Rani yang di cuekin anaknya.
"Iya Bu. Aku tau Rani memanggilku, tapi aku kesal Bu. Mengapa tak ada sedikit kabar semalaman dari Rani."
"Tapi kan, kamu dengar dulu apa alasan yang membuat dia tidak mengabari mu. Jangan langsung marah. Nggak boleh kayak gitu, nak." Ibu Burhan sedikit membela Rani.
"Han.. Maafin aku ya. Aku tidak mengabari mu semalaman, Selesai ngobrol sama ayah, rencana aku mau hubungi dan mengabari kamu Han. Tapi saat aku mulai terbaring, aku terlalu merasa senang membayangkan kalau ayah dan bunda bisa bersatu. Tau tau aku tak sadar, aku sudah terlelap tidur Han. Ketika aku terbangun hari sudah jam 7 pagi Han. Aku ambil ponsel ku, ketika aku lihat banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari kamu Han. Han tolong maafkan aku, aku sungguh menyesal. Mengapa aku harus membayangkan hal yang belum tentu jadi kenyataan. Sekali lagi, maafkan aku Han." Dengan suara sedih Rani menjelaskan kepada Burhan. Rani sangat menyesal kejadian semalam.
Burhan ketika mendengar penjelasan Rani, sedikit tersentuh. Namun jujur dalam hatinya, sudah tidak marah lagi ketika dia melihat mobi Rani, tiba tepat di depan Rumahnya. Rasa marahnya sebenarnya sudah terkalahkan dengan rasa senangnya, karena melihat kekasih hatinya datang ke rumahnya. Di tambah penjelasan Rani yang begitu masuk di akal nya. Burhan juga tahu mungkin Rani kemaren begitu capeknya seharian merayakan ultah ayahnya setelah itu langsung ke rumahnya.
"Beneran itu semua?". Burhan tidak langsung menampakkan wajah senangnya.
"Iya sayang. Aku tidak berbohong. Betul aku ketiduran."
"Jangan di ulang lagi ya. Kalau seperti ini lagi, aku bisa marah lama."
"Benar sayang. Kamu tidak marah lagi padaku "
"Iya. Manis. Udah yang marah siapa. Cuma namanya orang yang disayang pasti khawatir kekasihnya tak ada kabar."
",Iya ya aku mengerti."
__ADS_1
"kok, kamu nggak jadi berangkat. Ketinggalan pesawat ya?"
"Kan ngeledek."
"Kan kamu sendiri bilang, ketiduran. Siapa tau kamu bangunnya udah pagi. Jadi pesawatnya udah terbang."
"Nggak sayang. Memang aku batal hari ini berangkat. Kemaren aku lupa beli tiketnya, jadi ketika ingat udah malam betul. Jadi harga tiket udah dua kali lipat harganya. Kan sayang. Jadi aku bilang saja sama ayah kalau undur saja besok pulangnya. Sekalian masih kangen sama kamu."
"Hemmm. Merayu nya bisa aja."
"Betul kok. Aku masih kangen sama kamu. Masih ingin dekat kamu. Cuma semalam mau ngabarin. Malah pikiran ku terpecah ingat kebersamaan dengan bunda, maka ketiduran. Udah sayang. Maaf ya. Ini aku udah datang kok."
Burhan kembali tersenyum karena mendengar penjelasan kekasihnya yang begitu menyenangkan hatinya.
"Han. Kita jalan yuk.Tapi aku mau naik motor saja. Kalau pakai mobil aku nggak bisa peluk kamu."
"Hemmm. Bisa aja buat hati ku senyum kembali." Sambil jari Han menyentuh hidung Rani menunjukkan kalau Han sudah senang kembali.
"Iya dong. Rani gitu lho "
Rani dan Burhan kembali akur lagi. Karena memang antara mereka tidak ada yang egois. Mereka saling bisa mendengar kan satu sama lain. Burhan dan Rani memang sama sama anak yang baik.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jangan lupa di tunggu ya.
Like
Komen
Vote
Hadiah🌹🌹
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗
__ADS_1