Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Kecelakaan


__ADS_3

"Ring...Ring ...Ring." Suara ponsel Rani memanggil Nita.


Nita adalah teman dekat Rani kuliah. Kalau Rani tidak masuk kuliah atau ijin, Nita selalu menunjukan catatan kuliah. Jadi walaupun Rani ketinggalan kuliah, namun Rani masih ada catatan dari Nita. Nita juga gadis yang baik. Tetapi Nita bukan anak kalangan orang kaya seperti Rani. Namun Rani seperti biasa siapanya tidak pandang bulu dalam memilih teman. Selagi cocok dengan hatinya Rani senang untuk menjadikan nya teman.


Tak lama dari suara handphone Rani memanggil temannya Nita. Terdengar suara ribut di depan rumah Rani. Rani penasaran, akhirnya ia juga melihat dan keluar rumah. Ternyata ada motor menyerempet seorang ibu. Laki laki yang menyerempet ibu ibu tidak bukan nya menolong malah marah. Rani mendengar hal itu segera mendekat."


"Hei mas. Jangan kasar dong sama ibu ini. Ibu ini terluka. Bukannya kamu menolongnya malah maki makinya."


"Hei..Mbak, kamu ngapain bela ibu ini. Ibu ini nyeberang jalan, nggak lihat lihat. Malah saya yang hampir celaka. Ini motor saya kaca spion nya malah pecah. Seharusnya dia mengganti. Kalau dia nyeberang harusnya hati hari jadi saya tidak menabrak dia."


"Iya mas. Maaf masalahnya ibu ini sedang terluka. Dia butuh pengobatan dari dokter."


"Mbak.. Saya ini juga rugi lho. Motor saya pecah semua spionnya. Untung semuanya nggak hancur."


"Ya udah mas. Gini aja. Tolong antar ibu ini kerumah sakit terdekat. Nanti masalah spion motor nya saya yang bertanggung jawab .Harga spion mas berapa?" Tanya Rani dengan penuh tanggung jawab untuk seorang ibu yang dianggapnya lemah dan butuh pertolongan.


"Kamu ini mbak. Ngapain sih bantu orang seperti ini."


"Apaan sih mas. Bicara nya yang baik baik aja kok." Rani sedikit geram dengan laki laki yang menabrak seorang ibu.


"Kamu itu dek. Ngapain sih ikut ikut pakai belain ibu ini." Laki laki bermotor itu menunjukkan emosinya.


"Mas..mas tolong ya jangan emosi disini. Kerugian mas kan sudah saya katakan. Saya akan menanggung nya. Katakan saja berapa? Saya cuma minta tolong ibu ini diantarkan kerumah sakit. Itu aja kok mas. Kenapa mas ngotot marah nya seperti ini."


"Habis dek. Ibu ini sungguh membuat saya jadi terlambat. Padahal saya buru buru."


"Iya tapi mas. Masalahnya ibu ini terluka kok."


"Aaaahhhh. Mau dia terluka mau dia mati. Masa bodoh." Ujar laki laki itu.


"Mas. Kamu itu keterlaluan banget ya jadi orang."


Rani jadi emosi mendengar jawaban laki laki tadi. Laki laki itu memang tidak punya perasaan. Laki laki itu segera kabur dari tempat dimana Rani membantu ibu ibu yang di serempet motor laki laki tadi. Rani lupa mengingat no flat motor laki laki itu supaya dia bisa melaporkan ke polisi.


"Eh mas... mas. Kenapa kabur, nggak sopan banget jadi orang ya. Tidak punya hati nurani." Teriak Rani kesal.


Rani menatap ibu yang di serempet motor itu terlihat lemas. Rani tidak tega membiarkan ibu itu sendirian. Rani akhirnya membawa ibu itu masuk ke rumahnya.

__ADS_1


"Bu. Ikut saya ke rumah saja ya. Nanti saya antar ke rumah sakit ya."


"Terima kasih banyak nak. Kamu anak yang baik." Ibu ibu tadi mengucapkan terima kasih karena Rani sudah mau membantunya.


"Iya Bu, sama sama. Ibu jangan sungkan. Ibu habis kecelakaan perlu pengobatan."


"Iya nak. Maaf ibu jadi merepotkan kamu."


"Tidak apa apa Bu. Oh iya ibu pulang kemana. Nanti abis dari rumah sakit saya antar pulang."


"Ibu dari kampung nak. Rencana ibu mau ikut mencari pekerjaan jadi TKW. Tapi ibu di mobil nggak tau ternyata ibu kena copet orang nak. Jadi ibu tidak bisa kemana mana. Alamat dan KTP, uang ibu semuanya abis raip nak."


"Aduh. Ibu kasian banget ya. Begini aja bu. Ibu saya antar ke rumah sakit. Tapi sebelumnya saya telepon ayah saya dulu. Kalau ibu di ijinkan ayah. Ibu mau tidak ikut saya di kontrakan saya. Jadi bisa kerja ngurusi saya Bu. Saya disini sendiri, kuliah. Kalau ada ibu, ibu bisa bantu bantu di mana saya."


"Sekali lagi terima kasih banyak nak. Ibu beruntung sekali bertemu dengan anak sebaik kamu."


"Iya Bu. Saya sampai lupa mengenalkan saya. Panggil saya Rani Bu."


"Iya nak Rani. Nama ibu adalah Tini."


"Iya Bu. Ayo sekarang kita ke rumah sakit Bu. Ibu perlu dapat pengobatan. Nanti di mobil aja m, Rani telpon ayah Bu. Mudah mudahan ayah senang dengan keputusan Rani. Mengajak ibu untuk tinggal di rumah Rani. Doain ya Bu."


Rani percaya dengan keputusan yang diambilnya, untuk mengajak Bu Tini tinggal bersama nya di Jakarta. Selain kasihan Rani, percaya Bu Tini orang baik. Dan ini juga mungkin takdir dari Allah, Rani dipertemukan dengan Bu Tini.


Setelah siap siap untuk mengajak Bu Tini kerumah sakit, Rani memesan mobil untuk mengantar Bu Rani.


"Sabar Bu ya! Ini mobil lagi Rani pesan." Rani memesan mobil untuk menuju rumah sakit terdekat.


"Ya" Ibu Tini mengangguk kan kepalanya.


Tak lama ada suara mobil datang. Sopir nya menelpon apa benar atas nama Rani yang pesan mobil nya.


"Bu mobil sudah berada di depan. Ayo Bu." Rani sambil menggandeng Bu Tini. Karena Bu Tini badannya masih luka luka, dan sakit karena terpental di serempet motor laki laki yang tak bertanggung jawab.


Bu Tini berjalan dengan tertatih menuju ke mobil. Karena memang dia perlu pengobatan. Takutnya luka Bu Tini ada yang parah. Apalagi dia sempat terpental.


Rani dan Bu Tini masuk ke dalam mobil. Dalam mobil Rani ingat kalau ia harus telpon ayahnya untuk minta ijin sama ayahnya buat ngajak Bu Tini tinggal bersama nya. Untuk mengurus rumah Rani.

__ADS_1


"Sebentar Bu ya. Aku coba telepon ayah dulu."


"Iya." Bu Tini mengangguk lagi, karena memang dia butuh pekerjaan ini. Kalau tidak hidup nya jadi gelandang di Jakarta. Karena Bu Tini sedikit pun tidak punya apa apa. Identitas dan uang pun tak ada lagi."


Dalam mobil Rani segera memencet no ayahnya.


"Ring.. Ring..Ring."


"Assalamualaikum ayah."


"Waalaikum salam sayang. Anak ayah masih ingat sama ayahnya sendiri." Ayah Rani senang bercanda dengan anaknya


"Apaan sih ayah ini suka banget buat anaknya nggak enak hati." Rani sedikit cemberut sama ayahnya.


"Abis ayah tunggui dari siang tadi, malah nggak ada kabar kabar dari anak ayah."


"Iya maaf ayah. Rani tadi sampai kerumah jam 12. Terus Rani setelah sampai kerumah, rencana mau ikut kuliah hari ini ayah. Tapi Rani lupa mata kuliah apa hari. Rani coba telepon Nita mau nanya kuliah apa hari ini. Tapi pas mau telepon Nita, teman sekampus Rani. Tau nya Rani dengar suara ribut ribut depan rumah ayah. Rani coba keluar rumah, ayah tau apa yang terjadi. Tau nggak ayah?"


"Iya mana ayah tau. Kamu aja belum kasih tau ayah." Ayah Rani sambil tersenyum lucu mendengar pertanyaan anaknya kepada dia.


"Taunya ayah aku lihat ada seorang ibu ibu terpental jauh karena di serempet motor. Ibu itu hebatnya ayah langsung berdiri dengan luka luka penuh di seluruh tubuhnya. Ibu itu berharap anak itu berbelas kasian menolong dan mengobatinya. Tapi nya aku dengar banget ayah. Laki laki itu bukan nya bertanggung jawab malah ibu itu dimaki maki ayah."


"Terus sayang." Ayah Rani semakin tertarik mendengar kisah anaknya.


Ayah Rani semangat sekali mendengarkan kisah anaknya.Dan sekaligus bangga menatap anaknya yang semakin dewasa.


Bersambung....


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jangan lupa di tunggu ya.


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Hadiah🌹🌹


🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗


__ADS_2