
Perjalanan Burhan menuju bandara, lancar saja tidak terkena macet. Burhan naik gojek dengan perasaan bahagia bercampur semangat. Harapan nya untuk hidup sukses ke depan ada di genggamannya.
Tak lama dalam perjalanan, Burhan sudah melihat tampak dari kejauhan gedung bandara. Burhan sudah mulai memasuki jalur menuju pintu bandara.
"Alhamdulillah aku sampai." Dalam hati Burhan melihat gedung bandara yang sebentar lagi adalah tempat di mana pesawatnya akan menerbangkan nya menuju ke bandara.
"ini pak ongkosnya." Burhan turun dari gojek nya sambil memberi ongkos gojek.
"Terima kasih nak." Tukang gojek mengambil uang dari Burhan dan memutarkan arah.
Burhan masuk ke dalam gedung dan menunjukkan booking tiket melalui ponselnya kepada petugas masuk.Kemudian Burhan mengantri untuk mengambil ticker pesawatnya dengan petugas bagian tiket. Pada saat Burhan ikut antri, di depan Burhan tak sengaja bertemu dengan teman sekelasnya. Nama temannya adalah Dito.
"Hai, Burhan. Mau kemana?" Burhan sedikit kaget,, saat ada teman sekolah Burhan menegurnya dengan semangat.
"Hei Dito. Kau sendiri mau kemana?.
"Aku mau ke Papua, disana ada pamanku. Aku diajak kerja sama pamanku. Terus aku nanya kamu tadi, belum dijawab." Dito kembali menanyakan tentang Burhan yang mau berangkat.
"Aku mau ke Kalimantan, Dito?" Burhan menjawab pertanyaan Dito yang semula bertanya disaat melihat pertama kali melihat Burhan ikut antri mengambil tiket.
"Kamu kerja disana?" Dito kembali bertanya.
"Kamu tau dengan Kak Baim. Dia kakak kelas kita dulu, kita kelas satu. Kak Baim kelas 3. Ingat nggak?" Burhan menanyakan sama Dito, mungkin saja Dito juga mengenal Baim.
Walau Baim dengan Burhan berbeda usia, namun Baim tidak mengenal usia, dia menganggap Burhan sama dengan dirinya. Karena memang benar Burhan seperti lebih dewasa, ketimbang Baim. Makanya Baim merasa lebih baik Burhan cukup memanggilnya dengan sebutan namanya saja. Mereka juga akrab kalau lagi bertemu.
Dito pun kebingungan untuk mengingat nama Baim yang di sebutkan Burhan. Mungkin memang Dito, anak nya tidak terlalu gaul pada saat itu. Jadi untuk mengenal kakak tingkatnya Dito tidak terlalu.
"Dito. Kok aku tanya bengong.Kamu kenal tidak?"
"Tidak. Yang mana ya?" Dito menggeleng, dia tidak mengenal Baim yang dimaksud oleh Burhan.
"Apa yang kamu pikirkan Dito? Kok aku tanya kamu sedikit kaget."
"Tidak ada Han. Aku hanya mencoba mengingat Kak Baim, yang kamu maksud. Tapi sedikit pun tak terlintas aku mengenal Kak Baim." Dito menjelaskan apa yang membuat nya bengong dalam berpikir.
"Ya udah kok. Nggak usah dipaksa. Kakak kelas kita memang banyak untuk kita ingat. Apalagi dia tidak cukup terkenal di sekolahan." Jawab Burhan menyenangkan hati Dito yang tidak mengenal Baim.
__ADS_1
"Iya Han. Aku duluan ya. Sampai ketemu lagi ya." Kata Baim pamit meninggalkan Burhan.
"Oke." Burhan membalas sapaan Dito.
Burhan maju ke depan, dan mengeluarkan KTP nya untuk mencatat booking tiketnya yang sudah dipesannya dari tadi malam.
Tak lama dari petugas memberikan tiket pesawat Burhan.. Burhan bersiap menuju ke ruangan tunggu pesawatnya.
"Bismillah." Dalam hati Burhan penuh semangat
Burhan mengambil bangku rapat di depan pintu 3, di dalam sudah banyak penumpang penumpang yang menunggu keberangkatan pesawatnya.
"Permisi." Burhan menyapa bapak tua yang duduk tepat di depan pintu no 3.
"Silahkan." Jawab pak tua itu.
Pak tua itu menatap Burhan yang baru duduk tepat di sebelah dia, tatapan pak itu dalam, seakan dia merindukan putranya.
"Mau berangkat kemana nak?" Tanya pak tua itu kepada Burhan.
"Aku mau ke Kalimantan pak. Pak sendiri, mau kemana?" Burhan balik nanya kepada pak tua itu. Seakan ada ikatan bathin di antara mereka.
"Belum tau pak, tepatnya daerah mana. Di bandara nanti saya di jemput teman saya di sana." Burhan menjelaskan kepada pak tua, tentang tibanya Burhan nanti ke Kalimantan.
"Oh begitu. Siapa nama kamu nak?"
"Nama aku Burhan. Panggil saja aku Han, pak." Jelas Burhan kepada pak tua itu.
" Oh bapak namanya pak Iwan. Ini kartu nama bapak." Pak Iwan menyodorkan kartu namanya kepada Burhan.
"Terima kasih pak." Jawab Burhan.
"Siapa tau kamu nanti bisa main ke sini, pak Iwan sangat menyukai Burhan. Dia punya perasaan kuat kalau Burhan adalah sosok pemuda yang baik. Walau pak Iwan baru saja melihat dan mengenali Burhan.
Tak lama dari perkenalan Burhan dan Pak Iwan, suara panggilan pesawat menuju ke Kalimantan segera berangkat, penumpang di persilahkan untuk menaiki pesawat mereka.
"Pesawat Lion Air no 531 tujuan Kalimantan akan segera berangkat. Penumpang dipersilahkan untuk naik dari pintu no 3." Suara pemberitahuan bahwa pesawat yang ditumpangi Burhan akan segera berangkat.
__ADS_1
"Ayo Pak. Itu pintu untuk naik pesawat kita sudah dibuka, ayo kita segera antri." Burhan mengajak pak Iwan untuk bersiap siap.
"Iya Han." balas pak Iwan.
" Pak Iwan sendiri ya." Tanya Burhan pada pak Iwan.
"Iya." Pak Iwan sambil menarik koper nya untuk di bawanya masuk pesawat.
" Oh iya Han. Kamu duduk di kursi no berapa?"
"No 21 pak."
"21?" Pak Burhan sedikit kaget.
"Ada apa pak? kok kaget mendengarnya." Burhan heran dengan sikap pak Iwan.
" Tidak Han. Kok bisa jodoh saja. Kamu bisa duduk di dekat pak. Padahal kita tidak sengaja kenal tadi di dalam gedung. Eh taunya dalam pesawat duduk nya bersebelahan lagi." Pak Iwan tertawa kecil dan sambil tersenyum senang.
Kalau orang baik. Pasti ditemukan dengan orang baik. Pak Burhan adalah pemilik sebuah perusahaan cukup terkenal di daerah Kalimantan. Pak Iwan adalah orang hebat sekaligus kaya di Kalimantan. Tapi Pak Iwan tidak menunjukkan kalau dia orang kaya. Gaya hidup pak Iwan sangat sederhana. Pak Iwan adalah orang baik Sebenarnya kalau pak Iwan mau bantu Burhan saat itu juga dia bisa memberi Burhan pekerjaan secara langsung. Namun pak Iwan tau, Burhan akan menemukan dirinya kembali karena kebaikan Burhan. Kalau jodoh Burhan akan dipertemukan dengan pak iwan, Dia akan di pertemukan Allah. Pak Iwan juga yakin Burhan gigih dengan sikapnya yang sudah di rasakan pak Iwan pertama mengenalnya.
" Mari pak, Han bantu memasukan koper pak keatas." Burhan layaknya seorang asisten pak Iwan yang setia melindunginya.
Pak Iwan sengaja berangkat tanpa membawa assisten nya kemana dia pergi kali ini. Karena pak Iwan memang ingin menikmati hidup sederhana, seperti orang orang biasa. Naik pesawat Lion juga baru kali ini pak Iwan naik, biasanya dia naik pesawat Garuda dengan pasilitas mewah dan didampingi para asistennya. Tapi entah kali ini dia ingin menikmati hidupnya, mungkin Tuhan sudah mengatur rencana Nya. Dengan perjalanan sederhana ini. Pak Iwan dipertemukan dengan Burhan. Dan akan mengenal sosok Burhan yang baik.
Bersambung....
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jangan lupa di tunggu ya.
Like
Komen
Vote
Hadiah🌹🌹
__ADS_1
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗