
Setelah mereka makan selesai, mereka masih duduk nyantai di sana, bincang bincang, menunggu jam keberangkatan mereka yang selanjutnya menuju ke Kalimantan.
"Han. Maaf kalau di Lampung, kamu tinggal sama siapa. Orang tua kamu ya. Ayah kamu kerja dimana?" Tanya pak Iwan kepada Burhan.
Namun pertanyaan pak Iwan membuat hati Burhan merasa terdiam dan sedih.
"Han. Ada apa? Pak perhatikan kamu kelihatan sedih. Apa pertanyaan pak tadi yang membuat kamu jadi sedih. Pak minta maaf ya." Dari hati kecil pak Iwan merasa menyesal.
"Tidak pak. Han rindu sama ayah. Ayah sudah berada di surga pak."
"Maafin pak ya. Pak turut berduka cita Hab. Tapi kamu jangan sedih. Doakan selalu ayah mu. Ayahmu sekarang sudah tenang berada di sana. Apalagi ayahmu juga bangga punya anak sebaik kamu, Han."
"Iya pak." Burhan mengangguk dengan sedikit tenang.
"Alhamdulillah kalau begitu, kamu bisa anggap saya ayah kamu kalau kamu butuh teman curhat, atau kamu butuh apa saja." Pak Iwan memberi semangat pada Burhan.
"Sekali lagi terima kasih banyak pak. Han senang banget bisa kenal sama bapak. Apalagi di perantauan ada yang Han kenal selain teman Han nanti."
"Ya, jangan sungkan sungkan kamu mencari bapak nanti. Pak selalu ada buat kamu nanti."
Dengan perasaan lega dan bercampur bahagia. Burhan sangat merasa beruntung mengenal pak Iwan. Karena di saat dia memutuskan merantau, Burhan bisa di perkenalkan dengan pak Iwan. Sedikitnya dia tidak merasa sendirian nanti di sana. Namun walau Burhan sudah mengenal pak Iwan. Burhan tetap berusaha mandiri. Begitu juga sebaliknya pak Iwan. Dia memberikan kesempatan untuk Burhan menjadi pribadi yang kuat. Tanpa mengandalkan siapapun termasuk pak Iwan itu sendiri. Pak Iwan yakin bahwa Allah akan mempertemukan Burhan padanya. Entah itu kapan saja. Yang jelas ketika Burhan saat nya membutuhkan pak Iwan. Dia siap membantunya. Janji pak Iwan dalam hatinya.
"Mari pak," Ajak Burhan untuk masuk ke ruang tunggu. Setelah beberapa waktu mereka habiskan istirahat di tempat mereka makan.
Secangkir kopi juga sudah habis di minumnya mereka minum. Mereka tinggal menunggu pesawat mereka transit dari Jakarta menuju Kalimantan.
Pak Iwan mengarah ke kasir untuk membayar bill yang mereka makan. Burhan ikut berdiri mengikuti pak Iwan, tepat berada di sebelah pak Iwan. Burhan tau kalau untuk makanan pak Iwan yang membayarkan.
"Meja 3." Ujar pak Iwan kepada kasir.
"158rb pak." Kasir menghitung total biaya menu yang mereka pesan.
" Ini." Pak Iwan segera menyodorkan uang 200rb untuk membayar tagihan billmya.
" Ini pak kembaliannya." Ujar kasir.
Setelah membayar tagihan bill mereka. Pak Iwan mengikuti ajakan Burhan untuk pindah ke ruang tunggu.
"Terima kasih banyak pak." Ujar Burhan kepada pak Iwan.
"Sama sama. Kamu jangan sungkan sama bapak Anggap saja pak adalah ayahmu yang lagi keluar kota bersama anaknya."
__ADS_1
"Iya pak. Sekali lagi saya sangat berterima kasih sama bapak. Sudah merepotkan."
"Nggak juga kok. Santai aja Han. Anggap saja kan ini salam perkenalan pak sama kamu."
"Iya pak." Dalam hati Burhan suatu saat akan balas kebaikan pak Iwan entah kapan.
Selang beberapa jam Burhan dan Pak Iwan bersantai di tempat mereka santai. Suara pemberitahuan keberangkatan pesawat sudah memanggil untuk masuk ke dalam pesawat mereka
"Kita duduk dimana tadi Han. Tanya pak Iwan kepada Burhan
"Ini nomer kursi kita?" seru Burhan menunjukkan kursi nomor kursi mereka duduk.
Mereka mengambil posisi mereka duduk. Burhan duduk tepat di sisi jendela pesawat, jadi dia bisa melihat pemandangan.
Setelah pesawat mereka terisi penumpang pesawat, selang beberapa menit terdengar suara pemberitahuan, bahwa sebentar lagi pesawat mereka akan terbang menuju ke Kalimantan.
Saat dalam perjalanan pak Iwan mulai merasa bersedih karena sebentar lagi mereka akan berpisah. Pak Iwan sudah merasa nyaman mengenal Burhan. Dalam hatinya, ia sudah menganggap Burhan seperti anaknya sendiri. Sepanjang perjalanan pak Iwan banyak diam.
"Pak, ada apa? Kelihatannya bapak tidak enak badan ya?" Tanya Burhan yang memperhatikan pak Iwan. Karena semenjak pesawat yang dinaiki mereka menuju Kalimantan perubahan di wajah pak Iwan mulai tampak.
"Tidak apa apa Han. Bapak sedih saja , kita akan berpisah sampai disini."
"Bapak sendiri bilang ke Han. Han harus semangat, walau Han tidak punya ayah. Tapi pak sendiri yang memberi Han semangat. Kalau Han bisa menganggap pak Iwan adalah ayah Han."
Mendengar ucapan Burhan. Pak Iwan kembali tersenyum kembali. Memang benar apa yang diucapkan Burhan adalah ucapan nya sendiri. Jadi mengapa ia harus bersedih. Karena dia sendiri yakin bahwa Allah akan mempertemukan dia kembali sama Burhan.
Beberapa jam dalam perjalanan, pesawat mereka akhir sampai. Pemberitahuan kalau sebentar lagi pesawat mereka akan mendarat mulai terdengar.
"Alhamdulillah kita akhirnya sampai ke Kalimantan."
"Iya pak."
"Ingat ya Han. Jangan lupa sama bapak."
"Pasti pak."
Mereka tersenyum satu sama lain. Burhan sangat merasa senang, ternyata dia sekarang mengenal sosok laki laki yang bisa memberikan ketenangan bagi nya. Seperti ayahnya dulu, disaat Burhan hilang semangat. Ayah Burhan lah yang selalu ada, selain ibunya. Ini Burhan menemukan orang yang hampir sama dengan ayah nya. Walaupun mereka baru saling kenal.
pesawat mereka pun sudah mendarat ke bandara, mereka mulai menurunkan barang barang mereka.
Seperti biasa Burhan membantu pak Iwan mengeluarkan barang. dan bersiap siap untuk turun dari pesawat. Satu persatu penumpang mulai turun. Giliran pak Iwan dan Burhan yang berjalan ke arah pintu keluar pesawat untuk masuk ke bandara.
__ADS_1
.
"Han. Apa temanmu sudah datang?" Tanya pak Iwan kepada Burhan.
"Belum pak.Kalau pak mau duluan tidak apa apa pak."
"Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau Han mau ikut pak boleh, nanti pak antar kerumah teman mu."
"Tidak usah pak. Nanti teman Han datang."
"Iya lah. Ya sudah pak duluan ya."
"Iya pak." Burhan sambil menjabat tangan pak Iwan. Dan mereka berpelukan. Perkenalan mereka meninggalkan kesan. Dan mereka akan saling mengingat satu sama lain.
"Ingat Han, jangan lupakan pak ya." Berulang ulang pak Iwan mengingatkan kata kata itu kepada Burhan.
"Pasti pak."
Akhirnya pak Iwan di jemput anak buahnya dari bandara. Namun Burhan tetap tidak sadar kalau dia sudah bertemu orang yang cukup terkenal kaya raya di kota Makassar.
Karena niat Han, ke Kalimantan untuk menemui temannya, jadi Han tidak berpikir kalau dia orang yang akan membantunya adalah pak Iwan tadi.
Namun karena sikap dan kebaikan Hal yang akan mempertemukan mereka kembali.
"Hati hati ya Han."
"Iya pak. Selamat jalan."
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jangan lupa di tunggu ya.
Like
Komen
Vote
Hadiah🌹🌹
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗
__ADS_1